Ada ‘Orang Ketiga’ tapi Bukan ‘Pelakor’

Apa itu?

Yaa… sudut pandang.

Sebagai salah satu yang gemar menulis cerita, saya suka gonta-ganti sudut pandang di setiap cerita yang berbeda. Hal ini saya lakukan bergantung mood sih sebetulnya.

Dari beberapa sudut pandang, tentu saya punya sudut pandang favorit. Apa itu? Sudut pandang pertama tunggal dan sudut pandang orang ketiga, baik tunggal maupun jamak.

Pada tulisan ini saya mencomot salah satu tulisan yang pernah saya tulis setahun lalu—yang sayangnya belum juga saya selesaikan, wkwk. Daripada hanya tinggal saja, mending saya bagikan di sini.

Di tulisan berikut ini, saya memakai sudut pandang orang ketiga serba tahu. Semoga penggunaan sudut pandang pada tulisan ini bisa menambah wawasan teman-teman sekalian.

__

Bola mata Anna nyaris keluar ketika mereka tiba di Hello Stationery dan mendapati toko itu berantakan seperti kapal pecah.

Apa yang terjadi? Dita, teman mereka yang mendapat giliran shift pagi ini terduduk lemas di depan meja kasir sambil menatap Tari dengan nanar.

Dengan air muka yang tampak sama lemasnya dengan Dita, Tari menghela napas dalam-dalam setelah menyaksikan setiap sudut di tokonya. Anna mendekati Dita, berusaha menenangkan gadis yang bahunya naik turun itu.

“Mbak, Ri. Ss, sa-ya minta m, ma-af.” Ucap Dita terbata di sela isakannya.

Baik Tari maupun Anna membiarkan Dita untuk tenang dulu sebelum meminta penjelasan apa sebenarnya yang terjadi.

Setelah tiga puluh menit, mereka membawa Dita ke sofa yang terdapat di sisi kiri ruangan itu. Sambil mengobati luka Dita, mereka menyimak cerita Dita.

Menurut penjelasan gadis berambut cokelat itu, ketika ia datang subuh-subuh tadi untuk membuka toko, sekawanan perampok sudah mengacak-acak seluruh isi toko sebelum Dita benar-benar tiba di tempat itu. Menyadari kehadiran Dita, mereka kabur dan membawa seluruh uang dari balik meja kasir. Bahkan saat Dita sempat akan melawan dan mencoba mengejar mereka sekuat yang ia bisa, gadis itu justru mendapat dorongan keras dari salah satu perampok yang bertubuh besar itu hingga lututnya robek karena bergesekan dengan aspal.

Setelah bercerita sedemikian lama karena diselingi isakan, Dita berkali-kali meminta maaf pada Tari. Meski berat baginya menerima bahwa toko yang dibangunnya semenjak ia masih SMA itu harus mengalami kejadian tidak menyenangkan ini, Tari tahu ini bukanlah kesalahan Dita. Sebaliknya, Tari justru memikirkan hal lain yang membuatnya bimbang hingga tiga hari ke depan.

Setelah tiga hari itu ia memikirkan matang-matang dan berdiskusi dengan keluarganya, akhirnya ia memutuskan untuk menyampaikan bahwa kedua temannya itu terpaksa harus ia pecat, karena untuk waktu yang belum dapat diperkirakan, Hello Stationery akan tutup.

Tari benar-benar menyesal akan hal itu, karena ia tahu benar dua temannya, terutama Anna, sangat bergantung pada toko itu.

__

Yeay!

Demikian contoh penggunaan sudut pandang yang bisa saya bagi ke teman-teman. Sekali lagi semoga bermanfaat bagi kalian yang saat ini sedang rebahan #dirumahsaja, hehe.

.

.

.

Salam hangat,

Kucca🌻

📪April 2020

17 thoughts on “Ada ‘Orang Ketiga’ tapi Bukan ‘Pelakor’

      1. Tapi… ini ceritanya bukan perusahaan yang ‘seformal’ itu. Cuma toko sederhana rintisan anak SMA:’) Menurutku kalau pakai kata ‘PHK’ atau ‘Dirumahkan’ terlalu kaku untuk sebuah cerita teenlit:’)

        Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s