Sahabatku, Pahlawanku

Hai guys! Setelah break selama seminggu menikmati liburan yang mencekam (Covid-19 membuatku menjelma menjadi humus di dalam rumah hehe), aku kembali untuk menyelesaikan tugas KETIK ku. Kuucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang telah susah payah mengingatkanku akan tugas ini wkwk. Thanks for all❤ Pada kesempatan kali ini, izinkan aku menyelami hidupku terlebih dahulu sebelum menulis, menggali ingatan, dan mencari siapa si sosok Pahlawan itu?

Pahlawan, setiap mendengar kata itu yang terbayang dalam imajinasiku adalah Power rangers, Superman, Boboiboy dan berbagai macam ikon heroik lainnya. Menurutku, pahlawan memiliki makna yang relatif bagi setiap orang. “Kamu belum menjadi dewasa sampai kamu menemukan bahwa semua hal itu relatif.” Dan versiku, pahlawan adalah ia yang memiliki peran istimewa dalam kehidupan seseorang. Berbicara mengenai pahlawan tak harus melulu tentang sejarah dan perjuangan. Seperti para Kakak-Kakak Pengikat Kata yang baru-baru ini mengisi kekosongan hidupku dengan berbagai macam kegiatan seru. Mereka bak pahlawan kesorean yang kutemukan di tengah ombak lautan kata. Kemudian menjelma fatamorgana di gurun sahara. Kenapa makin ngelantur sih? Baiklah, lantas siapakah sosok itu dalam kehidupanku?

Kedua orang tua sudah pasti menjadi pahlawan paling utama dalam kehidupanku. Berkat perjuangan dan dedikasi merekalah aku bisa berada di sini. Tanpa bimbingan mereka, aku hanyalah seonggok daging yang takkan berguna lalu menjadi sampah dunia. Thanks mom and dad❤ Tapi, bukan itu yang akan menjadi ceritaku. Begitu banyak sosok pahlawan mengagumkan di hidupku, membuatku bingung mana yang harus kutuliskan. Dan, inilah ceritaku…

Syawaliyah Putri Andini, adalah seorang gadis berkulit putih, bertubuh jangkung, dan humoris. Aku mengenalnya di awal tahun pendidikan SMPku di sebuah pondok. Wale, begitulah aku memanggilnya. Di antara murid-murid lainnya, ia salah satu yang paling dekat denganku. Rajin, pekerja keras, dan teguh pendirian merupakan sifat sejatinya. Sungguh berkebalikan denganku, hehe. Jiwanya tak mudah goyah dan terombang ambing di tengah kenakalan santriwati kala itu. Virus merah jambu yang sedang mewabah di area pesantren tak pernah sedikit pun membuat pendiriannya runtuh. Walaupun kutahu, ia juga perempuan biasa yang memiliki hati dan rasa. Entahlah, ia tak pernah mengutarakan isi hatinya perihal “Siapa pangeran yang akan menjemputku menggunakan kereta kuda?” Aku menyukai sifat tegas dan pantang menyerahnya, belum lagi sifat rajin yang sudah melekat erat. Coba saja tengok lemari bajunya, kamu pasti akan menjumpai tumpukan baju yang rapi dan simetris (karena ia selalu menggunakan penggaris atau buku tulis agar ukuran semua bajunya sama). Ketua OSDH (Organisasi Santri Darul Hasan) bahkan menobatkannya sebagai Anggota Divisi Kebersihan ketika kami duduk di bangku SMA.

Aku senang berteman dengannya, sambil berharap semoga sifat rajin itu menular padaku, hehe. Kedekatan kami sudah seperti urat dan nadi, sangat dekat, bahkan bisa dikatakan sebagai sahabat. Dan lumrahnya, sebuah pertemanan takkan bisa lepas dari “pertikaian“. Hingga suatu hari, sebuah masalah (yang tak bisa kuceritakan kronologinya) membuat kedekatanku dengannya sedikit merenggang. Aksi “diam-mendiamkan” pun terjadi selama beberapa minggu. Ingin menyapa, namun gengsi berkuasa. Ego pun tertawa dan bertepuk tangan atas kemenangannya. Walaupun begitu, persahabatan kami tetap terjaga. Sampai hari itu, aku benar-benar membutuhkan pertolongannya.

Semua bermula di awal kelas 3 (begitulah kami menyebut kelas IX). Kegiatan bimbingan belajar yang padat membuat daya tahan tubuhku menurun. Aku yang semenjak kecil dikenal kuat, berubah menjadi bocah ringkih yang rajin izin ke Rumah Sakit. Hari itu aku jatuh sakit, demam membuatku absen dari sekolah. Kepalaku pening, berdiri pun aku tak mampu. Sungguh tak menyenangkan berbaring di atas kasur sepanjang hari, merepotkan orang lain pula. Di tengah kesibukan teman-temanku yang sangat padat melebihi Bapak Presiden Jokowi, mereka hanya mampu menolongku ala-kadarnya. Itupun aku sangat bersyukur, mereka mau menyempatkan waktunya untukku.

Sehari, dua hari, kondisiku tak kunjung membaik. Coba bayangkan, betapa menyedihkannya aku kala itu. Entahlah, aku suka sekali mengasihani diriku sendiri. Untuk melaksanakan ibadah sholat saja, aku harus berbaring kalau tidak mau ambruk terjatuh di tengah sholat. Dan saat itulah, Wale membantu semua aktivitasku. Mulai dari mencuci pakaianku, menyetrika, mengantarku ke kamar mandi, dan aktivitas lainnya yang tak bisa kulakukan seorang diri. Teman-temanku menyarankan untuk pulang dan berobat, namun aku menolak. Sudah terlalu banyak izin yang kuminta, lagipula aku harus mempersiapkan diri untuk ujian tryout. Begitulah, Wale terus ada dan membantu aktivitasku sampai kondisiku membaik.

Itu ceritaku. Mungkin tidak terdengar heroik, tapi sampai saat ini aku tak bisa melupakan perjuangannya membantuku di tengah padatnya aktivitas kala itu. Terima kasih Wale, dan segenap kawan yang sudah membantu. Hanya ini yang bisa kutulis, mohon maaf apabila kepiawaianku bercerita masih belum maksimal hehe. Aku akan terus belajar untuk menjadi lebih baik. That’s all, and thanks for reading! Sampai jumpa di post selanjutnya!

11 thoughts on “Sahabatku, Pahlawanku

  1. Teman yang selalu ada di kala duka, pantas untuk disebut pahlawan.

    Beruntung dirimu punya teman seprti Wale, Mella.

    Selamat sdh sampe Ketik5. Smg Ktik6 menyusul. 😁👍

    Liked by 2 people

Comments are closed.