Preposisi dalam Cerita Perihal Nama

Frida Kahlo via Pinterest

Kali ini aku menulis sedikit cerita untuk melengkapi tugas #KETIK6. Tidak seperti KETIK edisi ke-3, ke-4, atau ke-5, KETIK dengan topik preposisi kali ini bagiku lebih rumit. Aku pergi ke angkringan untuk mencari inspirasi, tapi tak kutemukan. Aku pun memutuskan untuk mulai menulis saja, dan barangkali ketaksengajaanku berhenti pada cerita perihal nama ini. Tak mengapa, selalu terdapat pembelajaran yang berharga pada setiap tantangan yang diberikan oleh admin. Oke, langsung saja!

Kakek kerap terlihat kesal ketika membaca nama bayi yang tertera pada selembar kertas di atas nasi kenduri selapanan. Sudah bisa kutebak, pasti nama bayi itu lagi-lagi ia anggap tak menjiwai asal-usulnya sebagai keturunan orang Jawa. Aku tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan perihal nama pada Kakek, bahwa sekarang banyak orang tua suka-suka menamai anak mereka dengan nama artis yang sedang eksis main sinetron. Tak ada yang mempermasalahkan penamaan semacam itu, bahkan ketika nama itu tak selaras dengan kondisi budaya daerah setempat sekalipun.

Jeneng kok le angel, mbok kaya jenengku. Cipto Murtijo,” seloroh Kakek. (Kakek bilang, “Nama kok susah, tidak seperti namaku. Cipto Murtijo,”).

Dan aku menanggapi, “Nggih mboten saged nek sedanten kedah kados asmane Kakung,” (“Ya tidak bisa kalau semua harus seperti nama Kakek,”)

Ini bukanlah kali pertama Kakek mengeluhkan perihal nama bayi di masa sekarang. Hampir setiap ada bayi lahir, kenduri selapanan dan pemberian nama, Kakek selalu merasakan ada yang janggal dan hilang dari kehidupan orang-orang Jawa. Meski demikian, Kakek jarang sekali menyinggung mengapa orang tua bayi selalu memberikan nama-nama asing dan rumit, bahkan tak mempunyai makna yang pasti untuk bayi mereka. Masa sih begitu?

Aku akui, Kakek memang telah berhasil memberikan nama yang teramat bagus untuk Mama. Nama itu pun hampir seirama dengan nama-nama tokoh wanita dalam lakon pewayangan. Memiliki arti ‘bidadari pertama’, terlalu menjiwai karena kecantikan bidadari Mama memang telah memancar  ke seantero desa (apalagi saat masih muda). Ehem ~

Perihal nama, seperti yang kita tahu, selalu tak lepas dari doa-doa mulia orang tua teruntuk sang anak. Orang tuaku sendiri pun memberiku nama yang secara tak sengaja tersusun dari bahasa Arab-Inggris-Jawa. Namaku mempunyai arti ‘hari Jumat yang penuh rahmat dan bunga-bunga’. Begitulah, karena aku terlahir pada hari Jumat. Namun karena penamaan itu tidak melibatkan Kakek, maka Kakek menilai nama panggilanku (Frida) terlalu rumit untuk diucapkan, sama seperti nama anak zaman sekarang. Huruf F dan R seharusnya tidak berdampingan. Oleh karena itu Kakek menyederhanakan namaku menjadi ‘Pida’ (wkwkwk), meskipun ia lebih sering memanggilku ‘Adek’.

Kuakui bahwa kebanyakan orang tua atau sesepuh terdahulu memiliki nama yang sangat filosofis dan sejarah unik tersendiri. Misal, tetangga seberang yang bernama Daldiri Margiyanto. Dahulu ketika ibu Pak Daldiri ingin melahirkannya, ia diantar bersalin ke klinik dengan menggunakan mobil. Tapi di sepanjang perjalanan, ibu Pak Daldiri sudah tidak bisa tahan hingga iapun melahirkan sendiri. Atas kehendak dan kuasa-Nya, jabang bayi Pak Daldiri lahir dengan selamat. Kemudian langsung dianugerahi nama Daldiri Margiyanto untuk mengenang proses dan sejarah perjuangan sang ibu. Daldiri berasal dari kata ‘medal‘ (keluar) dan ‘sendiri’, sementara Margiyanto ‘margi‘ (jalan) dan ‘yanto’ (baik, biasa untuk nama laki-laki pada masa itu). Secara umum nama itu bermakna ‘bayi laki-laki yang keluar sendiri di perjalanan‘.

Cerita ini kudengar langsung dari ibu Pak Daldiri beberapa tahun lalu. Saat bercerita, ingatannya menerawang ke masa lalu dan ia tak henti-henti bersyukur. Ia tak bisa melakukan persalinan itu tanpa pertolongan-Nya.

Eh, kalau arti nama kalian apa, nih? 

Jujur, masih banyak lagi cerita perihal nama yang ingin kusampaikan. Namun harus berhenti karena kurasa tulisan ini sudah melebihi batas yang diminta. Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan  ini.

Advertisement

13 thoughts on “Preposisi dalam Cerita Perihal Nama

    1. haha panggilan pida sejauh ini hanya dikenal di lingkungan keluarga.

      kakek gk ada keturunan sunda, kak. tapi orang jawa, khususnya yg sepuh-sepuh juga memang kesulitan melafazkan F. hehe..

      Like

Comments are closed.