Sahabat Pena Zaman Now

Surat dari Thailand dan Cina.

Banyak yang heran, kenapa masih saja ada yang betah di hobi ini. Mungkinkah kamu salah satu yang terheran-heran? ๐Ÿ˜

Jadi, halo dari aku yang hobi berkirim surat dengan prangko. Sedikit cerita kenapa aku bisa kecemplung di hobi ini. Ada tiga hal yang memicuku: teman yang punya sahabat pena, koleksi prangko ibu, dan kartu pos dari teman di Bandung. Awalnya ‘main’ kartu pos di Postcrossing, sebuah website yang akan memberimu alamat random untuk dikirimi kartu pos. Kalau kartu pos kita sudah diterima, giliran kita yang dikirimi kartu pos entah dari siapa.

Namun, perkartuposan ini membuatku merasa tidak puas karena area menulisnya sangat sempit. Berhubung aku suka prangkoโ€•dan mulai mengoleksiโ€•terjunlah aku ke hobi surat-menyurat. Sahabat pena pertamaku adalah orang Jepang. Namanya Wakaba, dan dia adalah salah satu sahabat pena favoritku.

Oke, balik ke topik! ๐Ÿ˜ Di sini aku mau berbagi hasil pengamatanku di hobi ini. Apa-apa saja yang aku temukan selama berkutat di sini yang mungkin saja tidak semua orang tahu. Penasaran?

Masih Banyak Peminatnya

Berkirim surat dengan sahabat pena ternyata masih banyak peminatnya. Paling banyak memang di luar negeri. Mereka sangat mudah ditemukan di Instagram melalui tagar #penpals #penpalling #snailmail #snailmailrevolution dan sejenisnya. Kalau dilihat antusiasmenya sebenarnya cukup besar, dari yang masih aktif sampai yang baru mencari sahabat pena.

Pakai Prangko atau Berbayar

Umumnya, surat-surat sahabat pena dikirim dengan prangkoโ€•dan aku juga prefer demikian. Menurutku pribadi, prangko akan menunjukkan kekhasan surat itu karena nama negaranua tertera di prangko. Namun, ada juga yang mengirim dengan layanan kirim internasional yang berbayar, alias bayar tunai. Harganya jelas lebih mahal, tapi jadi bisa dilacak. Indonesia juga menyediakan berbagai layanan kiriman internasional yang berbayar, tapi aku lebih suka pakai prangko. ๐Ÿ˜

Lebih Beken di Kalangan Crafter

Crafter adalah sebutanku untuk orang-orang yang menyukai kerajinan tangan. Hobi surat-menyurat ini cukup beken di kalangan crafter karena banyak sekali yang menghias amplopnya dengan cantik. Sampai-sampai aku heran, kenapa mereka bisa kepikiran untuk menghias seperti itu. Fakta ini juga didukung oleh diriku sendiri yang memang suka melakukan hal-hal berbau kerajinan tangan. ๐Ÿ˜

Sepupuan Sama Bullet Journaling

Ada hobi lain yang berhubungan dengan menulis jurnal, yaitu bullet journaling, menulis jurnal dalam bentuk poinโ€•bullet. Nah, ternyata banyak juga orang yang hobi bullet journaling main-main di hobi penpalling. Orang yang hobi menjurnal ini biasanya suka menghias buku jurnal mereka seestetik mungkin, baru kemudian ditulis (atau sebaliknya). Karena di hobi penpalling juga memungkinkan menghias surat, jadilah banyak yang give it a try dan akhirnya kecemplung juga.

Berbagi Cerita dan Hadiah

Dalam surat-menyurat, utamanya orang-orang berbagi cerita. Kalau beda negara, biasanya ceritanya lebih unik dan baru karena banyak yang tidak kita ketahui. Kita juga bisa turut menanyakan hal-hal yang ingin kita ketahui dari negaranya. Selain cerita tentang tempat tinggalnya, kami juga bercerita tentang diri sendiri, seperti cerita sehari-hari. Namun, aku lebih sering menceritakan apa-apa yang terjadi selama jeda menunggu suratnya.

Yang asyik adalah kami juga kerap bertukar hadiah. Kecil-kecilan saja. Umumnya stationeries atau peralatan menulis sekunder (?), seperti sticky notes, buku note kecil (karena dimasukkin amplop kan), washi tape, dan stiker. Ada yang pernah memberiku koin dan souvenir. ๐Ÿ˜ Memang yang printilan kecil-kecil gitu sih intinya, tapi ada juga yang memberikan cita rasa dari negaranya, seperti teh, cokelat, dan cemilan kecil. Teh adalah benda yang paling sering dan sangat umum diselipkan di dalam amplop.

Ada “Mesin Pencari” Sahabat Pena

Sebenarnya bukan mesin sih, tapi akun, hehe. Di Instagram, ada akun yang khusus membagikan intro (perkenalan singkat) dari orang-orang yang mencari sahabat pena. Yang dibagikan biasanya nama, usia, negara, hobi, dan minat. Nanti tinggal mencocokkan kriteria kita dengan intro yang mereka sampaikan. Aku beberapa kali mencari sahabat pena dari sini, tetapi umumnya tidak berjalan lancar (tidak direspons, suratku hilang/tidak berkabar, dsb. ๐Ÿ˜…).

Peminat dari Indonesia Ternyata Banyak

Ini temuanku yang agak di luar ekspektasi. Aku tidak menyangka kalau ternyata banyak orang Indonesia yang menaruh minat di hobi ini. Umumnya usia SMP-SMA, lalu 20-an awal. Fakta ini kutemukan saat sedang melihat akun penyedia intro sahabat pena, dan ternyata banyak orang Indonesianya, hahaha.

Incomings & Outgoings

Incomings adalah surat masuk, sedangkan outgoings surat keluar. Kedua istilah ini sangat umum di dunia surat-menyurat, bahkan kartu pos juga. Ketika ada yang mendapat surat masuk, mereka akan mengumumkannya di Instagram dan mencantumkan tulisan incomings beserta foto kiriman-kirimannya. Outgoings juga sama, tapi yang difoto adalah kiriman yang hendak traveling. Kegiatan ini dijadikan semacam pemberitahuan bahwa surat kita sudah diterima atau sedang dikirim.

Awalnya aku tidak pernah incomings outgoings segala. Selain akunya suka lupa, aku ingin menjadikan balasanku untuk mengejutkannya nanti. Bukankah surat sahabat pena yang dahulu juga begitu? Tidak ada kabar-mengabari. ๐Ÿ˜ Tapiii, akhirnya aku ikutan incomings outgoings juga deh, haha. Karena banyak yang bertanya padaku apakah aku sudah menerima suratnya, pun aku juga kerap penasaran apakah suratku hilangโ€•kalau iya, mungkin akan kukirimkan lagi.

Eksistensi Hobi Ini di Indonesia

Bisa dibilang cukup banyak, mengingat peminatnya juga banyak kutemui di Instagram. Kalaupun tidak sebanyak dahulu, setidaknya belum punah, hahaha. Mungkin puluhan hingga ratusan orang? Entahlah, aku hanya menebak, hehe. Apa aku perlu membuat angket untuk pendataan? ๐Ÿ˜ Tapi hoream euy.

Di lapangannya sih ada LINE Open Chat penpalling gitu, dan masih aktif. Anggotanya juga bertambah sedikit demi sedikit. Kalau ada yang melempar topik, biasanya akan ada obrolan di sana.

Suratnya Jalan, Online-nya Juga Jalan

Jika ada yang bertanya-tanya, “Kalau kenal dari medsos lalu surat-suratan, masih chatting-an di medsos nggak?” Jawabannya: masih. Seberapa sering frekuensinya: tergantung individunya. Untuk apa masih chatting online: menanggapi update di akunnya (Instagram), mengabari sesuatu, atau memang ingin chatting sambil surat-suratan juga.

Kalau kamu bagaimana, Rifina? Aku sih mengurangi interaksi secara online. Logika sederhananya: kalau chatting dan semuanya diobrolin, nanti di surat nulis apa? Gitu kanโ€•tapi aku tidak begitu-begitu amat sih, hahaha. Alasan lainnya karena aku memang agak malas balas-membalas online chatting. Kecepatan komunikasi online menuntut kita untuk cepat balas, dan ini bisa bikin cepat jenuh juga. Namun, ada kalanya aku juga berinteraksi secara online, seperti menanggapi aktivitas terkini. Tapi singkat saja, selebihnya nanti dibahas di surat atau biasanya dia inisiatif membahas di suratnya.

Apakah ada yang benar-benar chatting denganku: Ada, biasanya orang Indonesia. Mungkin karena masih sebahasa dan obrolannya cocok, jadilah mau di surat atau chatting tetap tidak kehabisan obrolan. ๐Ÿ˜ Apakah obrolannya sama seperti surat: tidak, karena topiknya selalu kubedakan. Obrolan di surat dan chatting pasti berbeda.


Sudah terlalu banyakkah? Oke, akan kucukupkan di sini. ๐Ÿ˜ Semoga bisa menjadi gambaran untuk kalian-kalian yang penasaran, hehe.

Kalau ada yang masih ingin dikepoin tentang sahabat pena di zaman now, kolom komentar terbuka lebar kok. ๐Ÿ“ฎ

19 thoughts on “Sahabat Pena Zaman Now

  1. Di Instagram, ada aku yang khusus membagikan intro (mungkin maksudnnya adalah ‘Di instagram ada akun yang …..)

    btw, setelah mengulas tentang kartu pos dan surat-menyurat, sekaranga giliran nulis ketik 14

    Liked by 1 person

  2. Halo salam kenal. Tulisannya sangat menginspirasi. Saya ‘follow’ ya, silakan ‘follow’ balik biar kita bisa saling berbagi pengalaman. Thank you.

    Like

Comments are closed.