Cinta Tak Pernah Lupa

MOZAIK 5 – My Number One

Hari itu Wan berangkat ke Yogyakarta. Ia akan menempuh pendidikan S2 di Universitas Islam Indonesia dengan mengambil program studi Magister Komputer. Wan berhasil lolos seleksi Beasiswa Hafiz Alquran 30 juz. Dengan beasiswa itu ia bebas biaya pendidikan selama belajar di sana. Ia pun diberi uang saku sebesar 450 ribu rupiah setiap bulannya.

Ada satu hal lagi yang aku tak tahu dari Wan. Ternyata selama 4 tahun di kampus, ia tidak hanya giat belajar tetapi menghafal Alquran. 

Ia mengajakku untuk kuliah di sana. Kalaupun aku mau, aku tak akan mengambil beasiswa. Aku sadar diri dengan kapasitas dan kemampuanku. 

“Insya Allah. Kalau semuanya memungkinkan, aku susul kamu, Wan.”

Itu saja kalimat yang bisa kulontarkan saat pembicaraan kami melalui sambungan telepon. Rencanaku untuk menyampaikan sesuatu pun menjadi tertahan. Dalam diri ini hatiku sudah bergemuruh, bergejolak dan tidak sabar untuk mengatakan kalau aku menaruh perasaan padanya. Tetapi bibirku kelu. Logikaku berkata bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk menyatakan cinta.

Lalu Wan mengakhiri teleponnya dengan berkata, “Jika Allah berkehendak, kita pasti akan bertemu lagi, Sya. Jika itu terjadi, aku ingin menemuimu dengan versiku yang lebih baik dan mapan karena aku tak ingin pacaran. Andai kita tak bersua, yakinlah bahwa Allah punya rencana lain yang jauh lebih baik.”

Telepon mati. Wan sudah pergi. Sementara aku masih berdiri di depan rumahnya. Tak ada hujan sore itu tetapi pipiku basah dan mataku terhalang oleh air mata.

###

Sejak kecil hingga satu bulan terakhir ini, aku selalu memandang buruk Wan. Namun aku sadar, ketika sekali kamu benci seseorang maka itu akan menjadi tabir. Ia menghalangimu dari kebenaran. Seperti itu pula aku menilai Wan dulu.  

Sejak kepergiannya aku merasa bisa melihat sesuatu dengan pandangan yang lebih berbeda. Seolah-olah semuanya terbuka bagiku. Menghadapi sidang skripsi saja aku enjoy dan santai. Yang penting aku bisa paham isi skripsiku sendiri dan tahu bagaimana cara meyakinkan orang lain bahwa skripsiku itu berguna.

Aku jadi sering bergaul dengan mahasiswa lain. Cukup terlambat untuk mahasiswa akhir sepertiku untuk bisa menikmati kehidupan bersosialisasi di kampus. Yang kutahu dulu hanyalah rumah, kampus, mal dan kuliner makanan. Aku tak pernah mau kalau diajak jalan oleh teman-teman. Setidaknya aku masih punya waktu dua bulan hingga kelulusan. Akan kugunakan sebaik mungkin.

Seperti sekarang, aku dan Dea akan pergi ke bioskop. Nanti di sana berkumpul dengan anggota Divis Robotika lainnya.

“Kita juga butuh refreshing, Sya. Untuk menghadapi lomba robot di Jepang, kita mesti fokus. Ya, nonton sebentar mah, cincay, dibolehin sama dosen pembina. Bahkan beliau juga yang nraktir tiket bioskopnya. Haha.” kata Dea siang itu.

“Terus kita nanti mau nonton apa jadinya?  Transformers?” tanyaku polos

“Helloooo, nona mager! Masa karena dari Divisi Robotika nontonnya mesti Transformer melulu. Lagian film itu dah gak tayang. Duh.” Dea menepuk jidatnya

“Oh iya, iya. Terus apa dong?” tanyaku penasaran

“Nih.” Dea memberiku dua tiket bioskop. Satu untukku dan dia. “Aku mau ke underground dulu. Si Mulya minta bawain bukunya yang ketinggalan di loker bawah.”

“Sekalian beliin minuman ya,” teriakku pada Dea yang sudah berlalu.

Kulihat tiket itu. Film yang akan kita tonton adalah Milea : Suara dari Dilan. Ini adalah film terakhir dari adaptasi novel seri Milea karya Pidi Baiq. Aku sudah baca semua novelnya. Film pertama dan kedua pun sudah kutonton. Senang banget sekarang bisa nonton film ini. Gratis pula.

Aku senyum sendirian sambil menimang-nimang tiketnya. Tak berapa lama Dea datang lagi membawa.dua botol minuman. Dia memberiku satu.

“Kok rasa apel? Terus kamu yang leci? Rasa markisanya mana?” protesku pada Dea.

“Adanya itu.” pendek Dea. “Kenapa sih?”

“Seingatku dulu variannya hanya satu yaitu teh markisa.” aku memutar-mutar botolnya. “Aku kan gak suka apel.”

“Oh itu. Dulu kan yang ngurus vending machine tuh si Irwan. Dia juga yang milihin isinya. Awalnya kita protes juga kenapa rasanya cuma satu. Itu-itu aja. Tapi karena udah keseringan beli, tak ada pilihan lain dong, akhirnya kita juga jadi ketagihan dan bla bla bla.”

Aku tak mendengar lagi perkataan Dea berikutnya. Pikiranku menerawang ke masa lalu saat SMA. Waktu itu botol minumanku tertinggal di kelas. Aku bertemu Wan di tempat parkir. Dia menawariku minuman teh markisa itu. Aku minum dan suka rasanya. Sejak hari itu aku sering membelinya di kantin sekolah. Kalau kehabisan, aku hanya membeli air mineral saja sebagai pengganti. Tak suka yang lain.

“Kamu pernah nanya gak ke Irwan kenapa dia ngisinya markisa doang?” tanyaku penasaran.

Dea mengangkat tangan kirinya dan memberikan pose STOP. Aku minum dulu, nanti kuberitahu. Kira-kira itu maksudnya.

“Ah segarnya, saudara-saudara.” 

Dea menyeka bibirnya yang basah dengan punggung tangan kanannya. Cewek jorok bin cuek banget nih si Dea.

“Pernahlah kutanya begitu. Dia jawabnya enteng saja, Katanya biar dia ingat seseorang. Meski jauh, tapi terasa dekat. Si Irwan emang rada-rada sinting kali ya. Dah ah, kita let’s go.”

Dea menarik tanganku dan kita berjalan ke arah parkiran untuk mengambil motor. Tiba di bioskop, kita langsung masuk ke studionya. Film pun diputar. Tapi konsentrasiku terpecah. Satu kepada Dilan, satu kepada Wan.

Sampai pada satu adegan terakhir ketika Dilan selesai mengikut reuni SMA. Aku fokus melihat adegan pamungkas ini.

Dilan mengatakan meskipun dia tidak mengerti bagaimana Bumi bisa terus berputar tapi Bumi tetap terus berputar. Kemudian dia hanya perlu mengendalikan motornya yang melaju menuju rumah sambil mendengar percakapan yang ada di dalam kepalanya.

“Aku akan sedang berbohong jika aku mengatakan bahwa aku tidak kecewa, tapi aku tidak ingin memiliki pikiran yang buruk tentang hubungan cinta yang putus. Apa yang sudah kami lakukan adalah tetap yang terbaik. Aku hanya berpikir betapa beruntungnya aku telah mengenal dirinya. Betapa beruntungnya aku pernah bersama Milea Adnan Hussain.”

“Dalam berbagai hal, Lia telah mendidik karakter dan kepribadianku untuk membuat diriku menjadi lebih baik di dalam menjalin hubunganku dengan orang lain setelah Lia. Aku tidak merasa harus lebih baik dari orang lain, aku hanya berusaha untuk lebih baik dari diriku yang kemarin.”

Tak berapa lama, film pun berakhir. Kata-kata Dilan tentang Milea itu sepertinya persis seperti perasaanku sekarang untuk Wan. Aku buru-buru keluar dari studio. Cepat-cepat membuka ponsel lalu menelepon Wan.

Yes! Langsung diangkatnya.

“Halo, Wan.”

“Iya. Hai, Sya.”

“Aku sudah memikirkan ini sejak semalam.”

“Apa itu?”

“Aku tak akan menyusulmu ke Yogya. Aku juga tak akan kuliah S2 lagi. Aku akan mengikuti kursus Cisco, Java dan Python setelah lulus. Sehabis itu aku mau bikin perusahaanku sendiri. Buat IT start-up.”

“Rencana yang bagus, Sya.”

“Satu lagi.”

“Ya?”

“Temui aku dua tahun lagi. Ke rumahku. Ke Papa dan Mamaku. Selama rentang waktu itu aku tak mau kita bertemu. Aku juga ingin mengenalkan versi diriku yang lebih baik kepadamu, Wan.”

Deal. Setuju. Dengan begini, aku jadi tenang kuliah di Yogya.”

Aku lega walaupun dada ini berdegup sangat kencang. Tanganku bergetar.

“Oh iya Sya, kamu masih sayang gak sama dirimu?”

Kutenangkan diri dan berusaha tidak terlihat gugup.

“Hmm.. sayang gak yah? Yang pasti aku sayang kamu, Wan.”

Aku hanya mendengar tertawanya. Lalu aku matikan telepon lebih dulu. Aku malu kalau harus bicara lagi dengannya.

Aku masuk ke kontak ponsel lalu mengubah nama Irwan Jelek dengan nama My Number One. Kemudian kusimpan namanya, di ponselku, juga di hatiku.

— SELESAI —

Advertisement

32 thoughts on “Cinta Tak Pernah Lupa

      1. Btw, aku lupa novel apa itu tapi sepertinya kita pernah membahas itu entah dimana. Novel terjemahan, sudah ada filmnya juga. Yang tokoh utamanya laki² tapi bodoh tapi selalu terjadi sesuatu tang di luar dugaan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti bagaimana orang sampai tepuk tangan karena dia. Di rumah ada sih bukunya. Tapi lupa judulnya🤔🤔

        Like

      2. Cara berceritanya agak mirip dengan novel itu, mengingatkan aku dengan novel itu. Seingatku sih begitu. Tapi nantilah, kalau sempat aku baca ulang lagi. Karena bacanya sudah lama,,, sdh lebih 10 tahun yg lalu sepertinya.

        Like

  1. Pas baca ending-nya, aku langsung membatin, “Eaaaa.” 😂 Ceritanya anak muda banget yaa. Kayak yang di novel-novel young adult gitu. Btw, ending mozaik 1-nya mengingatkanku pada video clip musik lagu terbarunya Armada, hehe.
    Hanya saran dari opini pribadiku, paragraf pertama cerita sebenarnya dihilangkan juga nggak mengganggu alur cerita. Kalau mau, langsung dibuka sama sesuatu yang menggebrak gitu biar menggugah penasaran. Misalnya, “Pagi ini aku seminar skripsi, tapi nyaris bangun kesiangan.” (ini contoh yang nggak uwow juga sih, hahaha). Detail kenapa dia kesiangan bolehlah dijabarkan setelahnya.
    Kalau koreksi teknis sih paling detail kecil yang luput aja, kayak kurang tanda titik (dan ehm cukup banyak hehe), tanda baca di dialog tag, kata asing belum dimiringkan, -lah yang terpisah, dsb. 😀

    Like

    1. Awalnya begitu tapi karena ada yang protes kalau paragraf pertamanya kurang wow maka diedit lagi.

      Ya, terinpirasi dari lagu Armada.

      Siap nanti dikoreksi lagi

      Btw, hal apa yang paling berkesan atau masih teringat setelah membacanya?

      Liked by 1 person

      1. Oh, really? Aku belum baca yang sebelum di-edit sih, jadi nggak punya perbandingan. 🤔

        Karena ini cerpen dan bukan untuk lomba, itu nggak jadi masalah besar sih, hahaha. Tapi tetep jadi catatan aja untuk semuanya. Kalau nulis untuk tujuan yang serius, misalnya lomba/penerbit, opening pagi-hari-datang-aduh-aku-kesiangan itu kemungkinan besar bakal di-skip sama editor/juri sih, jadi sebaiknya dihindari. 😁 Ini hasil pembelajaranku yang udah sering kalah lomba cerpen, hehe.

        Yang teringat? Dosennya bilang, “sampah.” Jleb-nya sampai ke hati :”) Jangan2 dari kisah nyata?

        Like

      1. Nama ajah yang sama yah 😆

        Oh iya di bagian ini:
        Wan mengangguk. Dia menutup laptop, mengambil tas dan memasukannya.
        “Biar kubawa laptopmu.”
        Wan melihat tasku yang lain berisi draft skripsi, map plastik, make up dan barang lainnya. Aku baru sadar kenapa bawa barang sebanyak itu.

        Ini sebenarnya bentuk perhatian kecil yang bisa bikin perempuan merasa dihargai. Sepele tapi, sweet gitu deh. Heheheh.

        Like

Comments are closed.