Cinta Tak Pernah Lupa

MOZAIK 4 – Tentang Waktu

Sebulan telah berlalu sejak saat itu. Revisi seminar telah aku lalui. Dosen-dosen pengujiku puas dengan hasilnya. Aku harus fokus pada persiapan sidang skripsi. Kedua orang tuaku juga senang mendengar kabar ini. Aku mau memberitahu mereka kalau Wan dan Dea telah membantuku.

Dea telah menyediakan waktunya untuk merevisi tulisanku. Dia galak saat itu. Menyebalkan. Cerewet. Corat ini dan coret itu persis seperti dosen penguji. Tetapi aku diajarinya penulisan yang baik. Otakku yang bebal ini perlahan-lahan bisa kupakai dengan semestinya.

Sedangkan Wan yang bertugas membantuku dalam urusan pemograman. Kalau dihitung persentase, aku membuat 80% programnya. Sisanya dia yang membenahi. Jadi jangan kau cap aku ini malas ya. Aku yakin semua mahasiswa, khususnya teknik, sebagian besar membutuhkan pendampingan saat membuat skripsi. Hmm, atau jangan-jangan itu hanya dugaanku saja?

Pukul 11 aku baru keluar kamar. Pagi tadi aku tidur lagi karena di luar hujan. Rasanya malas sekali mau beraktivitas. Kulihat di atas meja makan ada banyak makanan. Aku makan kue-kue kecil yang dibungkus rapi dengan plastik.

“Ini dari mana, Ma?” kutanya Mama saat dia masuk ke ruang makan.

“Dari Bu Widya. Ibunya Irwan. Kamu kenal dia kan?” jawab Mama.

“Loh Mama kapan ke Kiaracondong? Kok gak ngajakin Tasya sih?” protesku sambil mengunyah makanan.

“Halah, Mama panggil-panggil juga kamu malah tidur. Meluk guling terus selimutan. Lagipula kamu sama Irwan kan dari dulu gak akur, toh. Mama gak mau kamu di sana malah bikin ribut,” jelas Mama

Aku cemberut kenapa Mama berkata seperti itu. “Emang ada acara apaan sih?” lanjutku.

“Loh, kamu gak tahu kalau Irwan sudah lolos seleksi dapetin beasiswa S2? Jam 8 pagi tadi acara syukurannya. Sengaja dibuat pagi karena siangnya Irwan mau ada urusan di kampusnya dulu. Sorenya baru akan diantar sama Bu Widya dan keluarga,” ucap Mama panjang dan jelas.

Mendengar itu tanpa sengaja aku semburkan makanan yang sedang kukunyah di dalam mulut. Aku tak pikir panjang lalu bergegas ke kamar mandi, berpakaian, menyalakan motor dan meluncur menuju kampus.

Aku belum sempat mengatakan terima kasih padanya lalu sekarang dia mau pergi? Selama sebulan ini dia sudah membantu skripsi, mengajakku makan, menonton film di bioskop, mengikuti acara seminar teman-teman mahasiswa lain dan menghadiri acara tunangan Dea dengan Bagja. Kenapa selama rentang waktu itu dia tidak memberitahu apa-apa tentang kuliah S2?

Ih, aku gemas.

###

“Kak Irwan sepertinya sedang di underground deh, Kak. Tadi kayaknya mereka ngadain acara perpisahan gitu, tapi gak tahu apa udah kelar atau belum. Coba temui Kak Dea aja di sana,” kata Nisa, adik kelasku saat berpapasan dengannya di lantai 2 gedung Fakultas Teknik.

Aku tiba di depan ruangan Divisi Robotika untuk menemui Dea. Semoga dia tahu di mana Wan. Sebelumnya aku sudah bertanya-tanya kepada mahasiswa lain tetapi tak ada yang mengetahui keberadaannya.

Pintunya sudah tertutup saat aku tiba. Aku baca sebuah pengumuman yang ditempel di dinding dekat pintu masuk. Aku baca satu per satu. Tak ada informasi tentang acara perpisahan seperti yang Nisa bilang.

Aku mondar-mandir tidak jelas. Ketika ada mahasiswa yang mau masuk ruangan, aku cegat. Aku berondong dia dengan pertanyaan. Mahasiswa yang mengaku dari Desa Hujan di Temanggung itu mengatakan kalau acara perpisahan dengan Wan sudah selesai sejak setengah jam yang lalu.

Aku mundur lalu duduk di kursi yang sama saat Wan menegurku. Aku lirik ke samping kanan, tak ada orang. Aku memang sendirian. Aku telepon Dea, tapi tidak diangkat. Ponselnya Wan bagaimana? Percayalah, aku sudah mencoba meneleponnya berulang-kali. Tak aktif. Hanya suara operator yang menjawab.

Aku menghela nafas panjang. Kuseka peluh yang bercucuran dari wajah dengan tisu. Kulihat di pojok kiri ruangan ini ada sebuah vending machine minuman. Kuhampiri dan kusiapkan uang lima ribu rupiah. Aku kehausan. Melalui kacanya tampak berjejer minuman dari atas ke bawah dan kiri ke kanan. Semua botol minumannya serupa. Minuman teh dengan aroma markisa. Aku tak salah lihat kan? Tak pernah kulihat ada vending machine yang berisi minuman yang sama. Kuambil satu lalu kembali ke tempat duduk. Botolnya kubuka, lalu kuteguk pelan-pelan hingga habis. Kuputuskan untuk menunggu sejenak di sini. Menghabiskan waktu. Siapa tahu nanti Dea akan muncul dari ruangan itu.

Aku rasa waktu bergulir begitu cepat. Padahal waktu itu hakikat. Bagi para narapidana, waktu adalah musuh yang mereka tipu setiap hari dengan asa. Bagi para atlet, waktu adalah kesempatan berharga dan singkat. Bagi ojek online, waktu adalah giliran untuk menunggu pesanan.

Para pujangga menyebut waktu laksana hantu, angin, suara atau zikir. Para ilmuwan menyebut waktu bisa dilipat dan diputar-putar. Atau sebuah lorong yang bisa menyedot manusia ke satu masa. Entah itu di masa lalu atau masa depan. 

Bagi para petani, waktu adalah paduka raja, tak pernah terkalahkan. Padanya mereka tunduk dan patuh. Kapan menanam, kapan menyiram dan kapan memanen. Semua tergantung oleh waktu.

Dan bagiku waktu telah mengisi relung dada dengan kegembiraan sekaligus kecemasan. Ternyata benih cinta itu sudah lama bersemayam di dalam kalbu tapi tak pernah aku siram dan pupuk. Saat ini sedang tumbuh dan bermekaran.

Karena teristimewa untuk cinta, waktu menjelma menjadi jerat. Semakin cinta melekat, semakin kuat waktu menjerat. Andaikan cinta itu jatuh menukik maka jeratnya bisa mencekik. Rasanya itulah yang terjadi padaku sekarang.

Dea masih belum keluar dari ruangannya. Sudah hampir sepuluh menit. Aku harus segera menemukan Wan. Terlintas di benakku untuk bertanya kepada dosen yang dia asisteni. Aku bangkit dari kursi panjang itu lalu bergegas menuju gedung Teknik Komputer.

“Pak Miftah sedang tidak masuk hari ini. Kalau mau mencari Irwan, coba tanyakan saja pada Nadine. Dia juga asisten dosennya Pak Miftah,” jelas seorang staf administrasi program studi Teknik Komputer. Ia menunjuk ke sekumpulan mahasiswi yang sedang berada dekat sebuah kelas. Tak jauh dari tempatku berdiri. Aku menghampiri mereka, memperkenalkan diri dan menanyakan perihal Wan.

“Jadi kamu yang namanya Tasya itu?” tanya Nadine.

Aku mengangguk pelan. “Iya. Apa kamu tahu di mana Irwan?”

Mereka berlalu meninggalkanku begitu saja. Tanpa bicara sepatah kata. Aku bingung. Ini sebenarnya ada apa sih? Kemudian ada salah satu mahasiswi mendekatiku.

“Jelas mereka kesal sama Kak Tasya. Sebab ketua geng mereka,” ia menunjuk ke arah Nadine,” telah dicampakkan oleh Kak Irwan.”

Lalu mahasiswi itu juga pergi. Aku tak tahu namanya. Aku tak kenal dia juga. Ah sudahlah, aku mesti mencari di tempat lain saja. Kutengok jam tanganku menunjukkan pukul 2 siang.

Selepas shalat Ashar kuputuskan untuk pergi ke rumahnya Wan. Dari arah Dago ke Kiaracondong seharusnya tidak akan memakan waktu yang banyak. Semoga jalanan tidak sedang macet.

Sampai di sana, perasaanku kian tak menentu karena rumah Wan tertutup dan pagarnya digembok. Menurut tetangganya, Bu Widya sudah naik mobil dan pergi mengantar Wan. Kutanya ke mana mereka pergi, jawabnya pergi ke Jakarta. Mau ke bandara Soekoarno-Hatta.

Kakiku lemas. Kepalaku tertunduk. Kesempatan untuk berterimakasih kepada Wan menjadi hilang. Kesempatan untuk mengutarakan perasaanku pun sirna. Kuhitung=hitung waktu yang aku butuhkan untuk menyusul mereka itu tidak ada. Meskipun aku mengggunakan mobil, aku harus pergi meminjam mobil Uwa Umar atau menyewa di rental mobil. Untuk itu saja aku akan menghabiskan waktu yang tidak sedikit.

Benar seperti perkataanku tadi. Waktu adalah paduka. Tak terkalahkan. Andai waktu bisa kuputar seperti yang disebutkan para ilmuwan, maka aku akan kembali ke masa lalu. Aku akan lebih peka dan perhatian kepada Wan.

Aku sudah putus asa. Aku buka ponsel dan menekan nomornya Wan sekali lagi. Sama seperti tadi, tidak diangkat tapi tersambung. Eh, tadi kan tak aktif. Sekarang sudah aktif tetapi tidak diangkat. Kucoba sekali lagi. Tapi sama. Dua, tiga hingga enam kali, masih tidak tersambung.

“Halo!” sebuah suara menyapaku di percobaan telepon ketujuh

“Tasya?” Aku melonjak kegirangan. Itu suara Wan.

Klik : Halaman Berikutnya

Advertisement

32 thoughts on “Cinta Tak Pernah Lupa

      1. Btw, aku lupa novel apa itu tapi sepertinya kita pernah membahas itu entah dimana. Novel terjemahan, sudah ada filmnya juga. Yang tokoh utamanya laki² tapi bodoh tapi selalu terjadi sesuatu tang di luar dugaan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti bagaimana orang sampai tepuk tangan karena dia. Di rumah ada sih bukunya. Tapi lupa judulnya🤔🤔

        Like

      2. Cara berceritanya agak mirip dengan novel itu, mengingatkan aku dengan novel itu. Seingatku sih begitu. Tapi nantilah, kalau sempat aku baca ulang lagi. Karena bacanya sudah lama,,, sdh lebih 10 tahun yg lalu sepertinya.

        Like

  1. Pas baca ending-nya, aku langsung membatin, “Eaaaa.” 😂 Ceritanya anak muda banget yaa. Kayak yang di novel-novel young adult gitu. Btw, ending mozaik 1-nya mengingatkanku pada video clip musik lagu terbarunya Armada, hehe.
    Hanya saran dari opini pribadiku, paragraf pertama cerita sebenarnya dihilangkan juga nggak mengganggu alur cerita. Kalau mau, langsung dibuka sama sesuatu yang menggebrak gitu biar menggugah penasaran. Misalnya, “Pagi ini aku seminar skripsi, tapi nyaris bangun kesiangan.” (ini contoh yang nggak uwow juga sih, hahaha). Detail kenapa dia kesiangan bolehlah dijabarkan setelahnya.
    Kalau koreksi teknis sih paling detail kecil yang luput aja, kayak kurang tanda titik (dan ehm cukup banyak hehe), tanda baca di dialog tag, kata asing belum dimiringkan, -lah yang terpisah, dsb. 😀

    Like

    1. Awalnya begitu tapi karena ada yang protes kalau paragraf pertamanya kurang wow maka diedit lagi.

      Ya, terinpirasi dari lagu Armada.

      Siap nanti dikoreksi lagi

      Btw, hal apa yang paling berkesan atau masih teringat setelah membacanya?

      Liked by 1 person

      1. Oh, really? Aku belum baca yang sebelum di-edit sih, jadi nggak punya perbandingan. 🤔

        Karena ini cerpen dan bukan untuk lomba, itu nggak jadi masalah besar sih, hahaha. Tapi tetep jadi catatan aja untuk semuanya. Kalau nulis untuk tujuan yang serius, misalnya lomba/penerbit, opening pagi-hari-datang-aduh-aku-kesiangan itu kemungkinan besar bakal di-skip sama editor/juri sih, jadi sebaiknya dihindari. 😁 Ini hasil pembelajaranku yang udah sering kalah lomba cerpen, hehe.

        Yang teringat? Dosennya bilang, “sampah.” Jleb-nya sampai ke hati :”) Jangan2 dari kisah nyata?

        Like

      1. Nama ajah yang sama yah 😆

        Oh iya di bagian ini:
        Wan mengangguk. Dia menutup laptop, mengambil tas dan memasukannya.
        “Biar kubawa laptopmu.”
        Wan melihat tasku yang lain berisi draft skripsi, map plastik, make up dan barang lainnya. Aku baru sadar kenapa bawa barang sebanyak itu.

        Ini sebenarnya bentuk perhatian kecil yang bisa bikin perempuan merasa dihargai. Sepele tapi, sweet gitu deh. Heheheh.

        Like

Comments are closed.