Cinta Tak Pernah Lupa

MOZAIK 3 – Monyet Cilik

Aku mengenalnya sejak kami masuk Sekolah Dasar (SD). Namanya adalah Irwan Maulana Ibrahim. Aku memanggilnya Wan saja. Lebih singkat. Ia seumur denganku dan adalah tetanggaku. Sekarang rumahnya sudah pindah. Badannya lebih tinggi dariku. Kulitnya sawo matang. Rambutnya keriting kecil-kecil. Jika dipanjangkan dia bisa kribo. Tapi Wan lebih sering memotong rambut cepak seperti tentara. Alisnya hitam dan tebal. Aku kadang iri dengan alisnya. Pernah waktu awal kuliah dia meledek lantaran alisku digambar yang sebelumnya aku kerok. Menurutnya itu hal yang sia-sia. Kubilang semua perempuan seperti itu. Dia jawab bahwa tidak semua perempuan seribet aku.

Waktu kelas 3 SD, dia pernah mengelabuiku. Saat itu kita sedang bertengkar hebat. Aku lupa karena alasan apa. Seingatku semua orang tahu kalau aku dan Wan sedang perang. Puncaknya adalah ketika jam istirahat di suatu hari. Aku memakinya dengan sebutan monyet cilik. Dia kan pecicilan, tidak bisa diam, berisik, selalu mengganggu orang lain, serakah, banyak makan. Mirip monyet.  

Wan pun geram lalu melemparkan satu pernyataan yang tak akan pernah aku lupa hingga hari ini. Dia berteriak, “Tasya, ingat ini. Aku kutuk kamu. Nanti saat umurmu 12 tahun kamu akan berdarah-darah di bagian bawah.”

Tahun berganti. Musim berubah. Saat itu aku sudah berada di kelas 6 SD dan usiaku 12 tahun. Kami masih sering bertengkar sebab meributkan hal sepele. Di suatu malam, aku terbangun dan mendapati daerah kewanitaanku mengeluarkan darah. Awalnya aku tak tahu itu apa. Kupikir karena aku lincah dan banyak gaya, lari ke sana–sini dan pernah terjatuh lalu tidak sadar kalau ada luka di bagian itu.

Keesokan harinya hal serupa terjadi, ditambah perutku seperti mulas tapi bukan ingin buang air besar. Aku tak tenang. Berada di sekolah pun tidak konsentrasi. Waktu pelajaran Matematika usai, aku ingin ke kamar mandi. Tapi dari arah belakang teman-teman menertawaiku. Mereka bilang aku pipis di celana. Ketika kulihat, benar. Rokku basah dan serasa ada yang merembes. Cepat-cepat aku berlari ke kamar mandi.

Kubuka rok dan celana dalam. Betapa kagetnya saat kutahu kalau itu bukan air kencing tetapi darah. Kedua pakaianku itu sudah tak mungkin kupakai. Basah, bau khas darah dan tidak nyaman kalau kupaksa memakainya. Tanpa kusadari air mataku meleleh. Lalu tiba-tiba ingatan tentang masa lalu berputar kembali ketika Wan mengutukku, dan benar ini terjadi di hari itu. Aku menangis sekencang-kencangnya. Tak dapat aku tahan. Aku membayangkan bahwa ini adalah hukuman karena aku bandel dan tidak patuh perintah orang tua. Atau karena Wan memang sakti mandraguna. Ah entahlah.

Hari itu Bu Elsa menyelamatkanku. Bagaimana cara Ibu Elsa menolong dari situasiku itu tak akan kuceritakan. Aku malu.

Malam harinya aku menelepon Wan dan meminta maaf padanya kalau selama itu aku sudah berbuat salah. Aku masih belum paham bahwa itu adalah darah haid. Aku memang lemot (lemah otak) atau lola (loading lama). Pendeknya, aku tidak pintar. Bahkan untuk hal-hal umum seperti itu pun aku tidak tahu.

Hari Senin saat masuk sekolah, aku bertengkar lagi dengan Wan dan memberinya gambar tangan di pipi. Kutampar ia sekeras mungkin. Enak saja dia prank aku. Semalam Mama yang memberitahu dan menjelaskan tentang haid, siklus bulanan perempuan dan sebagainya. Kemarin aku menangis dan minta maaf kepada Wan, hari itu aku memarahinya..

Masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku tidak bertemu lagi dengan Wan. Selama tiga tahun itu tak ada yang jail dan usil kepadaku. Aku lega tapi hari-hariku menjadi membosankan.

Masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA), ternyata Wan masuk di sekolah yang sama denganku. Sama dengan yang kaupikirkan, Kawan, setiap hari dia menggangguku. Aku kesal tapi hari-hariku menjadi berwarna.

Berlanjut ke dunia perkuliahan. Kami masuk di kampus dan fakultas yang sama. Beruntungnya, kami mengambil program studi yang berbeda. Aku masuk Teknik Informatika sedangkan Wan memilih Teknik Komputer. Pada awal kuliah, aku masih sering bertemu dengannya. Namun lambat-laun tak ada kabar darinya. Eh, tahu-tahu sekarang dia ada di hadapanku dengan status sudah lulus kuliah, sebagai asisten dosen, anggota Divisi Robotika, nilai cumlaude dan kabar terbaru yang kutahu Wan sedang mengejar beasiswa S2 sama seperti Dea. Meskipun jail dan usil tapi kuakui otaknya cerdas. Bertolak belakang denganku.

Hari ini aku dan Wan sedang berada di ruang perpustakaan. Sengaja kupilih meja yang paling ujung dan jauh dari pengawasan petugasnya. Kebetulan saat itu pengunjung perpustakaan sedang tidak ramai. Di sekitarku memang sepi tetapi kenapa dadaku berasa ramai. Jantungku berdebar-debar hebat. Sosok Wan di hadapanku nyaris berbeda dengan image yang kutahu selama ini. Dia lebih kalem meskipun gaya bercandaannya masih sama.

Duh Tasya, come on. Fokus. Ini untuk masa depan pendidikanmu. Kamu harus segera lulus. Itu yang kupikirkan.

Wan menatap sambil menanyakan seberapa jauh aplikasi web e-commerce yang sudah aku bangun. Aku jelaskan sebisanya dan memberi demo. Kuperlihatkan proses bisnis, flowmap, tampilan web hingga ke halaman coding.

Kuperhatikan Wan sedang serius. Ia telah mengambil alih laptopku. Dia tidak banyak bicara. Wan mencoba fitur ini dan itu lalu mencatatnya di buku. Klik sana-sini, menunggu responnya, lalu ia catat, Terus begitu hingga satu jam. Kami banyak diam. Aku hanya menjawab jika dia bertanya.

“Aku lapar. Mau temanin aku makan gak?” Wan membuyarkan konsentrasiku.

Aku hanya bengong. Makan? Kan ini belum selesai. Terus, baru juga sebentar. Serius gak sih bantu aku? Tapi ucapan yang keluar dari mulutku, “Ayo! Aku juga lapar.”

“Kita makan Ayam Tulang Lunak di depan kampus saja ya.”

“Yang punyanya Mang Nunu?”

Wan mengangguk. Dia menutup laptop, mengambil tas dan memasukannya.

“Biar kubawa laptopmu.”

Wan melihat tasku yang lain berisi draft skripsi, map plastik, make up dan barang lainnya. Aku baru sadar kenapa bawa barang sebanyak itu.

Aku mengekor di belakangnya. Di sepanjang perjalanan menuju warung makan Ayam Tulang Lunak itu aku tak banyak bicara. Wan berjalan lebih dulu. Kulihat punggungnya saja. Dia berjalan gagah dan sesekali menyapa teman-teman yang dijumpainya. Ada yang bersalaman, memberinya tos atau mengucapkan salam. Selain pintar, Wan itu populer. Ke mana saja aku selama ini? Ternyata ada banyak hal yang tidak aku ketahui lagi tentang Wan.

Klik : Halaman Berikutnya

Advertisement

32 thoughts on “Cinta Tak Pernah Lupa

      1. Btw, aku lupa novel apa itu tapi sepertinya kita pernah membahas itu entah dimana. Novel terjemahan, sudah ada filmnya juga. Yang tokoh utamanya laki² tapi bodoh tapi selalu terjadi sesuatu tang di luar dugaan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti bagaimana orang sampai tepuk tangan karena dia. Di rumah ada sih bukunya. Tapi lupa judulnya🤔🤔

        Like

      2. Cara berceritanya agak mirip dengan novel itu, mengingatkan aku dengan novel itu. Seingatku sih begitu. Tapi nantilah, kalau sempat aku baca ulang lagi. Karena bacanya sudah lama,,, sdh lebih 10 tahun yg lalu sepertinya.

        Like

  1. Pas baca ending-nya, aku langsung membatin, “Eaaaa.” 😂 Ceritanya anak muda banget yaa. Kayak yang di novel-novel young adult gitu. Btw, ending mozaik 1-nya mengingatkanku pada video clip musik lagu terbarunya Armada, hehe.
    Hanya saran dari opini pribadiku, paragraf pertama cerita sebenarnya dihilangkan juga nggak mengganggu alur cerita. Kalau mau, langsung dibuka sama sesuatu yang menggebrak gitu biar menggugah penasaran. Misalnya, “Pagi ini aku seminar skripsi, tapi nyaris bangun kesiangan.” (ini contoh yang nggak uwow juga sih, hahaha). Detail kenapa dia kesiangan bolehlah dijabarkan setelahnya.
    Kalau koreksi teknis sih paling detail kecil yang luput aja, kayak kurang tanda titik (dan ehm cukup banyak hehe), tanda baca di dialog tag, kata asing belum dimiringkan, -lah yang terpisah, dsb. 😀

    Like

    1. Awalnya begitu tapi karena ada yang protes kalau paragraf pertamanya kurang wow maka diedit lagi.

      Ya, terinpirasi dari lagu Armada.

      Siap nanti dikoreksi lagi

      Btw, hal apa yang paling berkesan atau masih teringat setelah membacanya?

      Liked by 1 person

      1. Oh, really? Aku belum baca yang sebelum di-edit sih, jadi nggak punya perbandingan. 🤔

        Karena ini cerpen dan bukan untuk lomba, itu nggak jadi masalah besar sih, hahaha. Tapi tetep jadi catatan aja untuk semuanya. Kalau nulis untuk tujuan yang serius, misalnya lomba/penerbit, opening pagi-hari-datang-aduh-aku-kesiangan itu kemungkinan besar bakal di-skip sama editor/juri sih, jadi sebaiknya dihindari. 😁 Ini hasil pembelajaranku yang udah sering kalah lomba cerpen, hehe.

        Yang teringat? Dosennya bilang, “sampah.” Jleb-nya sampai ke hati :”) Jangan2 dari kisah nyata?

        Like

      1. Nama ajah yang sama yah 😆

        Oh iya di bagian ini:
        Wan mengangguk. Dia menutup laptop, mengambil tas dan memasukannya.
        “Biar kubawa laptopmu.”
        Wan melihat tasku yang lain berisi draft skripsi, map plastik, make up dan barang lainnya. Aku baru sadar kenapa bawa barang sebanyak itu.

        Ini sebenarnya bentuk perhatian kecil yang bisa bikin perempuan merasa dihargai. Sepele tapi, sweet gitu deh. Heheheh.

        Like

Comments are closed.