Cinta Tak Pernah Lupa

MOZAIK 2 – Uluran Tangan

Divisi Robotika merupakan organisasi resmi yang dibentuk oleh kampus. Mahasiswa yang menjadi anggotanya ditunjuk oleh dosen-dosen pembina yang berasal dari tiga jurusan yaitu Teknik Informatika, Teknik Komputer dan Teknik Elektro. Dea Puspita, sahabatku itu masuk menjadi salah satu anggotanya. Dia sudah lulus tahun kemarin dengan nilai cumlaude. Sedangkan nilai-nilaiku jika ditambahkan semua lalu dibagi rata masih belum mencapai angka 3.

Ruangan Divisi Robotika terletak di lantai paling bawah. Lebih tepatnya underground karena mengambil tempat yang dulunya dipakai sebagai tempat parkir mobil. Maka para mahasiswa dari Divisi Robotika ini pun sering dijuluki Mahasiswa Underground di seantero kampus. 

Aku menunggu di kursi yang berjajar di depan pintu masuk. Semenit kemudian Dea keluar dari ruangan.

“Udah lama?” tanyanya.

“Baru lima menit kok,” jawabku pendek.

Lalu kuceritakan tentang hasil seminarku kemarin. Dea manggut-manggut. Dari tatapan dan sorot matanya dapat kurasakan ia iba dan kasihan kepadaku. Aku membujuknya agar mau membantu. Aku pasang muka sememelas mungkin dengan mata yang berkedip perlahan-lahan seperti kucing bernama Garfield. Dea menyanggupinya. Aku spontan bersorak gembira. Aku sangat menghargai uluran tangannya itu. Sesama teman mesti saling membantu bukan memakan.

“Tapi aku hanya bantu kamu dalam penulisan draft, Sya. Kalau mesti ngoding dan buat program kayak gitu, aku gak begitu menguasai,” jelas Dea.

“Dibantu seperti itu saja aku sudah senang,” jawabku cepat sambil menyalami tangannya.. 

Aku juga tahu Dea hanya sedang rendah hati saat mengatakan tidak bisa menulis program atau coding komputer. Entah karena dia sedang sibuk atau memang dia ingin aku mencari orang lain.

Lalu kami membuat kesepakatan bahwa setiap aku selesai menulis draft, aku akan menyerahkannya kepada Dea terlebih dahulu. Jika ada yang perlu dikoreksi maka aku akan segera memperbaikinya. Jadi secara penulisan sebenarnya aku masih menulis skripsiku sendiri, Dea berperan seolah-olah sebagai dosen penguji. 

Aku harus gerak cepat karena waktu revisi seminar hanya 2 minggu lagi. Jika seminar revisi ini gagal maka aku tak bisa sidang. Jika kesempatan sidang raib maka aku tak tahu mesti bagaimana menghadapi orang tuaku di rumah. Sudah terbayang Mama akan mengomel sehari semalam jika tahu putrinya ini gagal lagi. Dan Papa mungkin akan mencoretku dari kartu keluarga. Oke, opsi yang Papa agak berlebihan tetapi yang kutahu Papa tidak akan banyak bicara. Dia akan tetap menyemangatiku walau kutahu di dalam hatinya ia kecewa.

Aku tak mau semua itu terjadi. Aku harus pintar membagi waktu. Masalah draft skripsi, aku sudah bisa tenang, Sekarang hanya masalah program. Website E-Commerce yang aku bangun itu tak ingin lagi dikomentari ‘sampah’ oleh Hadi Wijoyo.

“Untuk urusan programmu itu, Sya, kusarankan kau minta bantuan sahabatku saja. Dia jago coding,” kata Dea.

Bagaikan mendapat durian runtuh aku senang bukan main. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Hanya bertandang ke satu tempat, aku mendapatkan dua solusi.

“Siapa dia?” tanyaku.

“Bentar aku telepon dulu,” jawab Dea.

Dea menelepon sahabatnya. Dari hasil pembicaraan via telepon disimpulkan bahwa dia mau membantuku. Aku berteriak gembira. Dea sampai membekap mulutku karena terlalu kencang berteriak.

Sambil menunggu sahabatnya datang aku membuka ponsel dan melihat-lihat Instagram. Sementara Dea harus kembali ke ruangan. Ada yang harus ia kerjakan.

Aku buka tab explore dan muncullah beragam informasi yang tersaji. Ada foto dan video dari beragam akun dari seluruh dunia. Ada yang mengepos berita, makanan, challenge menari, dakwah, humor, fashion dan sebagainya. Ada berita artis yang baru meninggal. Berita tentang virus Corona juga masih bertebaran.

Aku mengecek satu per satu dan sesekali memberikan like pada pos yang menurutku menarik. Aku jarang sekali mengepos foto atau video. Instagram hanya aku buka jika aku sedang santai.

Oh iya, kenapa aku tak buka instagramnya Dea? Sudah lama aku tidak stalking dia. Insting detektif muncul ke permukaan otakku. Sekarang dia pacaran sama siapa ya? Kalau dipikir-pikir sejak dia lulus, aku jarang bertemu dia. Bukan karena tidak mau tetapi Dea sibuk di Divisi Robotika. Dan kudengar ia juga sedang mempersiapkan beasiswa S2.

Dari akunnya kudapati Dea jarang mengunggah foto atau video. Yang ada hanya beberapa foto kucing kesayangannya bernama Leo, foto gunung dan laut, lalu ada beberapa foto Dea bersama keluarga. Tak ada foto dia dengan lelaki. Tadinya kukira bakal menemukan foto-foto Dea bersama pacarnya. Nihil. Tapi aku curiga pada satu buah foto bertuliskan SOON.

Aku tutup Instagram lalu beralih membuka Youtube. Sedang bahagia seperti ini aku harus mencari video yang bisa menambah semangat. Video stand up comedy sepertinya cocok. Aku menggunakan beberapa kata kunci, membaca judulnya sebentar, lalu kututup. Aku pilih video yang lain. Belum ada yang menarik perhatianku sampai video berjudul ‘Ngomongin Instagram’ muncul. Aku klik dan berputarlah videonya.

###

“Seru banget kayaknya.”

Aku kaget, ternyata sedang ada orang yang berdiri di samping kananku. Kulihat ke arahnya.

“Ngapain lo di sini, Wan?”

Belum sempat Wan menjawab pertanyaanku, Dea keluar dari ruangan.

“Kok baru dateng sih, Wan? Temanku ini dari tadi nungguin loh,” kata Dea.

“Jadi Wan ini sahabat yang kamu telepon tadi,” tanyaku.

Dea mengangguk.

“Apa kalian saling kenal?” tanyanya polos

Wan hanya senyum melihat kebingungan Dea dan kekesalanku.

“Dia teman masa kecilku, Dea.” celetuk Wan.

“Syukurlah kalau begitu. Komunikasi kalian pasti lancar. Bakal nyambung lah. Aku titip Tasya ya.”

Dea meninggalkan kami. Dia pergi ke arah lantai atas. Sepertinya urusannya di Divisi Robotika sudah selesai. Sekarang tinggal aku berdua dengan Wan. Komunikasi apaan? Bagaimana mau ngobrolin tentang program web e-commerce milikku, melihat mukanya saja aku muak dan benci.

Wan masih berdiri di hadapanku.

“Jadi sekarang bagaimana?” tanyanya.

Aku juga bingung. Kalau kutolak berarti sama saja aku tidak menghargai Dea yang sudah merekomendasikan Wan untuk membantuku. Kalau kusetujui, aku takut kita berdua malah akan sering bertengkar daripada membahas skripsi..

Klik : Halaman Berikutnya

Advertisement

32 thoughts on “Cinta Tak Pernah Lupa

      1. Btw, aku lupa novel apa itu tapi sepertinya kita pernah membahas itu entah dimana. Novel terjemahan, sudah ada filmnya juga. Yang tokoh utamanya laki² tapi bodoh tapi selalu terjadi sesuatu tang di luar dugaan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti bagaimana orang sampai tepuk tangan karena dia. Di rumah ada sih bukunya. Tapi lupa judulnya🤔🤔

        Like

      2. Cara berceritanya agak mirip dengan novel itu, mengingatkan aku dengan novel itu. Seingatku sih begitu. Tapi nantilah, kalau sempat aku baca ulang lagi. Karena bacanya sudah lama,,, sdh lebih 10 tahun yg lalu sepertinya.

        Like

  1. Pas baca ending-nya, aku langsung membatin, “Eaaaa.” 😂 Ceritanya anak muda banget yaa. Kayak yang di novel-novel young adult gitu. Btw, ending mozaik 1-nya mengingatkanku pada video clip musik lagu terbarunya Armada, hehe.
    Hanya saran dari opini pribadiku, paragraf pertama cerita sebenarnya dihilangkan juga nggak mengganggu alur cerita. Kalau mau, langsung dibuka sama sesuatu yang menggebrak gitu biar menggugah penasaran. Misalnya, “Pagi ini aku seminar skripsi, tapi nyaris bangun kesiangan.” (ini contoh yang nggak uwow juga sih, hahaha). Detail kenapa dia kesiangan bolehlah dijabarkan setelahnya.
    Kalau koreksi teknis sih paling detail kecil yang luput aja, kayak kurang tanda titik (dan ehm cukup banyak hehe), tanda baca di dialog tag, kata asing belum dimiringkan, -lah yang terpisah, dsb. 😀

    Like

    1. Awalnya begitu tapi karena ada yang protes kalau paragraf pertamanya kurang wow maka diedit lagi.

      Ya, terinpirasi dari lagu Armada.

      Siap nanti dikoreksi lagi

      Btw, hal apa yang paling berkesan atau masih teringat setelah membacanya?

      Liked by 1 person

      1. Oh, really? Aku belum baca yang sebelum di-edit sih, jadi nggak punya perbandingan. 🤔

        Karena ini cerpen dan bukan untuk lomba, itu nggak jadi masalah besar sih, hahaha. Tapi tetep jadi catatan aja untuk semuanya. Kalau nulis untuk tujuan yang serius, misalnya lomba/penerbit, opening pagi-hari-datang-aduh-aku-kesiangan itu kemungkinan besar bakal di-skip sama editor/juri sih, jadi sebaiknya dihindari. 😁 Ini hasil pembelajaranku yang udah sering kalah lomba cerpen, hehe.

        Yang teringat? Dosennya bilang, “sampah.” Jleb-nya sampai ke hati :”) Jangan2 dari kisah nyata?

        Like

      1. Nama ajah yang sama yah 😆

        Oh iya di bagian ini:
        Wan mengangguk. Dia menutup laptop, mengambil tas dan memasukannya.
        “Biar kubawa laptopmu.”
        Wan melihat tasku yang lain berisi draft skripsi, map plastik, make up dan barang lainnya. Aku baru sadar kenapa bawa barang sebanyak itu.

        Ini sebenarnya bentuk perhatian kecil yang bisa bikin perempuan merasa dihargai. Sepele tapi, sweet gitu deh. Heheheh.

        Like

Comments are closed.