Cinta Tak Pernah Lupa

MOZAIK 1Awas Nanti Jatuh Cinta

Mentari pagi mengintip dari arah timur. Ia perlahan-lahan merangkak naik dan menebarkan kehangatan bagi semesta. Berkas sinarnya masuk menembus kaca jendela kamar. Kulirik ke arah jendela, tirainya ternyata sudah terbuka. Aku yakin Mama pelakunya. Masih dengan malas, kumatikan jam weker di samping tempat tidur. Mata yang masih mengantuk sontak berubah bentuknya. Astaga! Sudah jam setengah enam pagi.

Aku menyesal semalam tidur larut karena terlalu asyik menonton film komedi di laptop. Itu adalah hiburan pribadi sebab hampir dua bulan ini waktuku dihabiskan untuk persiapan seminar skripsi. Mama masuk kamar dan mengatakan ia sudah menggedor-gedor pintu entah berapa kali. Tak ingin mendengar omelannya lebih lanjut, sebaiknya aku segera mandi dan bersiap-siap.

Pukul setengah tujuh, saat Mama bertanya kenapa aku tak sarapan, dengan percaya diri kujawab bahwa aku kuat meskipun tak makan sahur,. Agar jiwa dan raga tenang saat melakukan seminar skripsi maka kuikuti saran Dea untuk berpuasa sunat. Temanku itu berhasil lolos seminar dan mendapatkan tiket melanjutkan bab 3 dan 4 lalu melenggang mulus ke tahap sidang. Tergiur akan cerita dan kejadian yang sama maka aku sudah melafalkan niat puasa sejak semalam. Aku merasa seolah-olah akan mengkhianati tekadku sendiri kalau hari ini tak jadi puasa.

Bukan hanya perut yang membuat hariku menjadi tidak keruan. Jadwal seminar yang semula pukul 9 pagi dipindahkan tiba-tiba oleh pihak kampus menjadi pukul 2 siang. Rumornya ada salah satu dosen pengujiku yang tertahan di kantor polisi untuk dimintai keterangan perihal kecelakaan lalu lintas yang ia saksikan pagi hari tadi.

Semua materi yang telah kuhafal di kepala menjadi buyar. Ada-ada saja halangannya. Tak mau merusak mood, aku berjalan menuju arah perpustakaan. Setidaknya di sana kutahu tak akan ada orang yang berisik, mengingat penjaga perpustakaan yang super duper galak.

Aku perlu menenangkan diri sejenak. Ruang perpustakaan terletak di seberang gedung ini. Untuk menuju ke sana aku harus berjalan melintasi lapangan terbuka. Matahari sedang terik. Seketika peluh keluar dari pori-pori tanpa aku komando. Sampai di gedung, aku bergegas menuju lift. Lantai 7 adalah tujuanku. Tetapi di dekat lift ada sebuah kertas yang ditempel di dindingnya. SEDANG DALAM PERBAIKAN.

Oke, aku tarik nafas perlahan-lahan lalu mengaturnya. Berpikir positif saja. Aku masih bisa menaiki anak tangga. Olahraga.

Lantai per lantai telah kulalui dengan semangat. Langkah pun tertata penuh irama. Tetapi di lantai lima menuju enam, betisku jadi gemetaran. Aku berhenti sejenak. Lalu kusemangati diriku lagi. Kuputuskan untuk berlari saja agar capeknya sekalian.

Tiba di lantai 7, aku segera menjatuhkan diri lalu bersandar di dinding dekat jendela. Lalu selonjoran di lorong menuju perpustakaan itu. Aku masih ngos-ngosan saat Dea menghampiri,

Aku tak ingat apa yang dia katakan. Aku hanya tertarik pada botol minuman yang sedang ia tenteng. Sebuah minuman teh aroma markisa yang sangat aku sukai. Aku sambar saja dengan cepat. Ya, beruntung sekali minumannya dingin. Ini akan mengusir dahagaku. Cepat-cepat aku buka tutupnya lalu kutenggak habis dalam sekali nafas. Selesai itu, kubilang kepada Dea nanti akan aku ganti.

“Kamu gak jadi puasa hari ini, Sya?” tanya Dea.

Aku mendadak terdiam dan menelan ludah. Aku bahkan masih bisa merasakan manis yang tersisa di indera pengecap. Kugelengkan kepala dengan spontan. Dea pamit karena ada urusan lain. Sementara aku masih mematung di sana.

###

Doktor Kevin Permana melangkah lambat, lalu duduk di kursi paling kiri. Ia adalah dosen pembimbingku. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda. Rambutnya hitam mengkilat dan wajahnya seteguh Bradley Cooper. Usianya hampir menembus kepala lima tapi masih menyisakan garis tampan masa mudanya. Pria asli Sukabumi ini adalah dosen cerdas dan ramah. Kemudian menyusul di belakangnya adalah Sukma Ratna dan Hadi Wijoyo. Mereka pun duduk di sebelah Doktor Kevin. Keduanya adalah dosen pengujiku. Di belakangnya kulihat teman-temanku sudah duduk manis.

Perbincangan pun dimulai, misalnya soal Alicia Permana. Putri kedua keluarga Permana, ia baru saja menyelesaikan S2 di Institut Teknologi Bandung mengambil jurusan Teknik Elektro yang akan menikah dengan orang Yogyakarta. Doktor Permana bercerita juga tentang putra tunggalnya yang berkeras ingin kursus Desain Grafis di Jakarta, padahal ia ingin agar anaknya ke Universitas Telkom Bandung untuk belajar Jaringan Komputer seperti dirinya. Sementara Bu Sukma Ratna –atau kami menyebutnya Busuk, yang tak pernah berkeluarga, mengabarkan rencananya ke Jaya Wijaya untuk naik gunung. Katanya ia ingin mencapai Puncak Kartenz. Mendaki gunung? Padahal tinggal di apartemennya saja sering ia keluhkan. Lift sering mati, jadi ia harus bolak-balik menaiki anak tangga. Aku jadi teringat kejadian tadi.

Obrolan makin seru saat Hadi Wijoyo bercerita tentang bagaimana ia melihat kecelakaan di depan matanya. Sebuah sepeda motor ditabrak oleh mobil minibus di dekat perempatan jalan Antapani. Ia bersyukur kalau dirinya berada agak jauh dari posisi motor di depannya. Jika tidak, bisa saja nasibnya akan berakhir sama. Meninggal di tempat.

Aku berdiri tegak di tengah pusaran kisah-kisah rumah tangga, kemacetan, nyeri punggung, wisata dan mahasiswa yang tak kunjung lulus. Hampir dua puluh menit aku diabaikan. Tak ada yang peduli rangkaian rumus, diagram dan materi dalam kepalaku. Tak seorang pun mengacuhkan setelanku yang sejak kemarin sudah kusiapkan. Mungkin bagi mereka aku sama sekali tidak menarik. Di sela-sela mengobrol itu kulihat Busuk mencorat-coret draft skripsiku. Sebagai dosen mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer, ia terlihat paham sekali dengan entity relationship diagram yang kubuat. Sementara itu Hadi Wijoyo, dosen yang paling muda itu tampak khusyu mengotak-atik program yang telah aku rancang dan bangun dari nol.

“Sampah,” meski pelan bisa kudengar bisikannya.

Beruntunglah Bradley Cooper-ku memperhatikan kecemasan yang tergambar di wajah. Ia mengenalkanku kepada dua koleganya dan menceritakan tentang bagaimana perjuanganku yang sudah 2 semester masih belum selesai menuntaskan skripsi. Ia juga mengatakan bahwa judul yang aku buat ini adalah judul ketiga yang lolos. Pihak kampus tidak memperbolehkan mahasiswa mengambil judul yang sama jika sudah dinyatakan gagal pada tahap seleksi judul.

Aku hanya menunduk lesu. Bukan marah pada kebenaran yang Bradley Cooper utarakan melainkan betapa selama ini aku telah banyak menyia-nyiakan waktu di awal-awal kuliah dulu. Jika saja aku serius belajar, mungkin aku tidak akan seputusasa seperti sekarang.

Menit berikutnya aku disuruh menjelaskan isi skripsiku dari bab 1 dan 2. Kulihat teman-temanku di belakang memberi semangat. Syarat menyelenggarakan seminar adalah audiens minimal berjumlah 10 orang. Jadi kubujuk teman-teman dan adik kelasku agar mau masuk dan mengikuti seminar. Kujanjikan mereka satu porsi makan siang untuk masing-masing.

Melihat wajah mereka yang menaruh harapan kepadaku, aku menjadi percaya diri. Aku yakin bisa menghadapi tiga orang dosen ini dan menjelaskan skripsiku dengan baik dan lancar.

###

Aku terduduk lemas di taman kampus. Kulihat air mancur di depan mataku itu tampak lesu juga. Tekanan airnya tidak sekuat biasa. Entah ini hanya perasaanku saja, atau memang air mancur itu sedang bermasalah. Sama sepertiku.

Aku lempar draft skripsiku yang sudah dicorat-coret hampir di setiap halaman. Tidak hanya aplikasi programnya yang buruk, tata bahasa dan penulisan skripsiku pun jauh panggang daripada api. Tidak sempurna. Bahkan sangat jauh dari kata itu.

Aku yang tadi lapar pun sudah tak nafsu makan. Pertama, karena memang awalnya aku sudah berniat puasa hari ini, meskipun gagal. Kedua, kurasa cacing di dalam perutku pun akan menolaknya. Aku dan cacingku sama-sama limbung oleh kenyataan hari ini.

Apa kata Mama kalau dia tahu anaknya terancam gagal lagi menyelesaikan skripsi di tahun ini? Apa kata Papa yang sudah berulangkali menyuruhku segera menikah dan memberinya cucu? Kubilang tunggu aku lulus dulu. Tapi masih belum ada titik terang.

“Ini, ambil draftmu. Susah-susah diketik kok malah dibuang.”

Wan mengagetkanku. Duh, cobaan apalagi sih ini? Aku sedang lelah. Dia malah datang. Kuambil draft dari tangannya dengan paksa.

“Minumlah, Sya.”

Ia memberiku minuman yang persis seperti yang kuminum dari Dea. Aku memang kehausan tapi gengsi kalau mesti mengambilnya.

“Kamu sayang gak sih sama diri kamu sendiri?”

Ia membukakan tutup botolnya lalu menyodorkan minuman itu. Kuambil saja biar ia cepat pergi. Lalu kuminum.

“Ya, sayang lah.”

“Aku juga sayang sama kamu.”

Mendengarnya aku jadi cemberut. Ih apaan sih si Wan ini? Datang-datang langsung melempar gombalan. Aku bangun dari tempat duduk dan meninggalkannya.

“Hati-hati di jalan, Tasya! Awas nanti jatuh cinta!” teriaknya dari kejauhan.

Klik : Halaman Berikutnya

Advertisement

32 thoughts on “Cinta Tak Pernah Lupa

      1. Btw, aku lupa novel apa itu tapi sepertinya kita pernah membahas itu entah dimana. Novel terjemahan, sudah ada filmnya juga. Yang tokoh utamanya laki² tapi bodoh tapi selalu terjadi sesuatu tang di luar dugaan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti bagaimana orang sampai tepuk tangan karena dia. Di rumah ada sih bukunya. Tapi lupa judulnya🤔🤔

        Like

      2. Cara berceritanya agak mirip dengan novel itu, mengingatkan aku dengan novel itu. Seingatku sih begitu. Tapi nantilah, kalau sempat aku baca ulang lagi. Karena bacanya sudah lama,,, sdh lebih 10 tahun yg lalu sepertinya.

        Like

  1. Pas baca ending-nya, aku langsung membatin, “Eaaaa.” 😂 Ceritanya anak muda banget yaa. Kayak yang di novel-novel young adult gitu. Btw, ending mozaik 1-nya mengingatkanku pada video clip musik lagu terbarunya Armada, hehe.
    Hanya saran dari opini pribadiku, paragraf pertama cerita sebenarnya dihilangkan juga nggak mengganggu alur cerita. Kalau mau, langsung dibuka sama sesuatu yang menggebrak gitu biar menggugah penasaran. Misalnya, “Pagi ini aku seminar skripsi, tapi nyaris bangun kesiangan.” (ini contoh yang nggak uwow juga sih, hahaha). Detail kenapa dia kesiangan bolehlah dijabarkan setelahnya.
    Kalau koreksi teknis sih paling detail kecil yang luput aja, kayak kurang tanda titik (dan ehm cukup banyak hehe), tanda baca di dialog tag, kata asing belum dimiringkan, -lah yang terpisah, dsb. 😀

    Like

    1. Awalnya begitu tapi karena ada yang protes kalau paragraf pertamanya kurang wow maka diedit lagi.

      Ya, terinpirasi dari lagu Armada.

      Siap nanti dikoreksi lagi

      Btw, hal apa yang paling berkesan atau masih teringat setelah membacanya?

      Liked by 1 person

      1. Oh, really? Aku belum baca yang sebelum di-edit sih, jadi nggak punya perbandingan. 🤔

        Karena ini cerpen dan bukan untuk lomba, itu nggak jadi masalah besar sih, hahaha. Tapi tetep jadi catatan aja untuk semuanya. Kalau nulis untuk tujuan yang serius, misalnya lomba/penerbit, opening pagi-hari-datang-aduh-aku-kesiangan itu kemungkinan besar bakal di-skip sama editor/juri sih, jadi sebaiknya dihindari. 😁 Ini hasil pembelajaranku yang udah sering kalah lomba cerpen, hehe.

        Yang teringat? Dosennya bilang, “sampah.” Jleb-nya sampai ke hati :”) Jangan2 dari kisah nyata?

        Like

      1. Nama ajah yang sama yah 😆

        Oh iya di bagian ini:
        Wan mengangguk. Dia menutup laptop, mengambil tas dan memasukannya.
        “Biar kubawa laptopmu.”
        Wan melihat tasku yang lain berisi draft skripsi, map plastik, make up dan barang lainnya. Aku baru sadar kenapa bawa barang sebanyak itu.

        Ini sebenarnya bentuk perhatian kecil yang bisa bikin perempuan merasa dihargai. Sepele tapi, sweet gitu deh. Heheheh.

        Like

Comments are closed.