Pahlawan Si Anak Perempuan

pic: getdrawings.com

Ini adalah tulisan untuk KETIK5. Aku harus meminta maaf pada diriku sekaligus memarahinya, karena bagaimanapun sifat tidak tertib adalah perilaku yang merugikan dan mengecewakan. Dan kali ini ketika aku mencoba menulis KETIK5, aku merangkai kata-kata dengan cara menulis lepas, mengingat topik pada KETIK5 sangat mempengaruhiku untuk  banyak-banyak flashback. Memutar ulang potongan-potongan film kehidupan yang durasi penuhnya hampir 15 tahun…

Ya. Kali ini tantangannya adalah bercerita tentang apa makna pahlawan dan siapa pahlawan yang sangat berarti untuk kita. Aku mengartikan pahlawan sebagai orang yang mendedikasikan dirinya/hidupnya untuk kebaikan dan kepentingan orang lain. Orang lain itu mungkin hanya individu atau bahkan sekelompok orang yang tak terkira jumlahnya. Dan mereka merasakan dedikasi dari orang yang kemudian mereka anggap pantas dijuluki sebagai pahlawan. Bagiku yang adalah seorang anak perempuan—maksudku, aku lebih senang menyebut diriku sebagai seorang anak jika membahas pahlawan pribadi, pahlawanku semestinya adalah ayahku. Namun semenjak takdir berkata lain, Kakekku telah menjadi pahlawan dalam segala keadaan di hidupku. Hingga detik ini.

Kakek adalah orang yang sedikit keras sekaligus jenaka. Ia pekerja keras, cakap dalam banyak hal termasuk dapat mengerjakan pekerjaan perempuan; memasak, mencuci pakaian, dan menyetrika. Ia hobi bermain teater kethoprak, mempunyai klub macapat (tembang Jawa) yang tidak terkenal, dan belakangan sangat gemar melakukan wisata rohani ke Jawa Timur. Sejak aku kecil, kakek dan nenek sudah mengasuhku lantaran orang tua sibuk bekerja.

Berlanjut ketika statusku adalah seorang pelajar SD. Kakek memahami betul bagaimana keadaan psikologisku yang bisa dibilang jauh berbeda dengan teman-teman seusiaku. Ada hal memilukan yang terjadi, berhubungan dengan takdir Tuhan. Dan seketika kakek mengambil alih kemudi untuk tetap menyatukan keluarga, terutama bagaimana membuatku bisa menikmati masa kecil seperti anak-anak lainnya. Kakek yang paling mendominasi, mulai dari mengajariku belajar mengaji, mengantarku ke sekolah, membantuku menyelesaikan PR, mengajariku berbahasa Jawa halus, mengenalkanku pada seni dan budaya Jawa, mengajakku liburan ke tempat-tempat wisata, dan lain-lainnya. Oh iya, aku  telah mulai belajar mengaji langsung darinya sejak masuk TK. Selanjutnya kakek punya inisiatif untuk membuka pendidikan Iqro’ dan Al-Quran yang bisa bertahan beberapa tahun ke depan. Tempatnya ada di rumah. Di rumah kami. Maklum saja karena kami tinggal di desa, dan saat itu masjid belum menjadi pusat pengajaran Iqro’ dan Al-Quran, bahkan belum semakmur seperti yang sekarang ini.

Di saat suasana hatiku masih tidak stabil, Kakek selalu bilang kalau aku tidak sendirian, Kakek bersamaku, dan Tuhan selalu bersama anak-anak yang baik. Jadi, sederhananya aku pun termotivasi untuk menjadi anak baik yang disayang Tuhan. Baru ketika aku sudah bisa berdamai dengan takdir dan mulai menikmati masa-masa SD, Kakek memberikan tugas-tugas lain yang harus kukerjakan di luar kegiatan belajar di sekolah. Aku dibelikan kambing, dan aku pula yang harus merawatnya. Artinya aku pun harus tahu bagaimana cara merumput dan menebas tanaman-tanaman yang bisa dimakan kambing. Aku diajari bagaimana menimba air dan mengerjakan pekerjaan rumah. Lalu, aku juga diajari bagaimana mengumpulkan dan mengikat daun kelapa kering, juga membelah kayu dengan bendho (semacam golok). Kakek punya kebun kelapa, dan saat panen, terkadang aku diminta untuk mengupas kulitnya dengan linggis beberapa butir saja. Semakin lama aku semakin terbiasa dengan pekerjaan itu. Tunggu sebentar. Jika kalian pernah melihat acara Bedah Rumah di televisi, maka kalian pasti pernah melihat bagaimana anak-anak desa mengerjakan pekerjaan orang tuanya. Nah seperti itulah kiranya aku dulu. Meski apa yang kulakukan itu bukanlah sebuah rutinitas.

Lain-lainnya aku belajar dengan melihat apa yang Kakek kerjakan, misalnya bagaimana cara menyambung kabel, mencampur semen dan pasir, atau membenahi kandang ayam yang rusak. Ini semua adalah ciri khas anak desa, memang, tapi ketika tahun-tahun berikutnya kecakapan itu sangat diperlukan dan aku tahu bahwa aku bisa melakukannya, aku sangat berterima kasih pada Kakekku. Pun aku bisa memetik pelajaran dari apa yang selama ini ia berikan tapi jarang ia katakan. Kita ini tinggal di desa dan sekalipun hidup berkecukupan, kita harus hidup sederhana. Dan yang tak kalah penting, perlu memiliki kecakapan yang bermanfaat untuk hidup kita. Suatu saat nanti ketika kita sudah menjadi orang yang sukses, kita tidak boleh melupakan asal-usul kita. Terkadang aku mendengar petuah kakek yang lainnya ketika ia mengisi kultum di masjid. Walaupun ditujukan untuk banyak jamaah, rasa-rasanya ada beberapa bagian yang secara khusus ditujukan untukku.

Aku memutuskan untuk belajar di pesantren pada tahun 2013. Kakek sangat mendukung, sebaliknya anggota keluarga yang lain begitu seret memberi izin. Pada akhirnya aku tetap pergi ke pesantren setelah Kakek meyakinkan mereka. Selama di pesantren, Kakek selalu menyemangatiku untuk rajin belajar dan fokus pada apa yang sedang kupelajari, dan jangan pikirkan orang rumah. Biasanya Kakek mengatakannya saat menjengukku sebulan sekali atau terkadang melalui perantara SMS yang masuk ke ponsel ustadzah pengasuh lalu disampaikannya padaku. Tak hanya motivasi saja yang ia berikan, tapi juga buku-buku dan majalah (biasanya keluaran National Geographic dan Islamia) karena kakek tahu aku suka membaca.

Rasanya masih ada banyak hal yang ingin kuceritakan tentang kakekku di sini, tapi biar sampai di sini saja. Yang jelas hingga saat ini, Kakek adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupku. Setiap kali aku mendapat masalah, Kakek selalu memberi saran agar aku selalu berpikir jernih dalam menyelesaikannya. Begitu pula ketika ada keinginanku yang susah terwujud. “Sabar,” ia selalu berkata begitu.

Benar. Bisa dibilang aku paling dekat dengan Kakek daripada anggota keluarga lainnya. Aku juga menuruni sifat-sifatnya dan menyukai pula apa yang ia suka, seperti buku, seni budaya, dan kegiatan sosial. Kami sudah seperti anak dan bapak, dan terkadang demikianlah aku biasa berandai-andai. Kakek hanya punya satu anak, ibuku, dan barangkali Kakek pun telah menganggapku sebagai anaknya meski kata itu tak pernah terlisankan. Ia menyayangiku, menggantikan posisi ayahku, menyembuhkanku dari kehilangan-kehilangan, dan memberi apa-apa yang sebaiknya didapatkan cucu perempuannya. Ia telah menjadi pahlawanku, dan aku berharap ia juga dijadikan pahlawan oleh orang-orang di sekitarnya.

23 thoughts on “Pahlawan Si Anak Perempuan

  1. Wow, kereeen. Bener2 anak kesayangan kakek. Disayang dalam arti tidak dimanja, tapi diberi banyak pelajaran dan ketrampilan khas anak desa. Bersyukur sekali dirimu Frid, jarang2 anak sekarang yg bisa ngupas kelapa apalagi ngaduk semen dan pasir. Apalagi perempuan. 😀
    Salut buat kakek, moga cucunya jadi anak sholeh dan bs mengamalkan ilmunya. Amin. 😀

    Liked by 2 people

  2. Hai, Frida! Begitu mulia dan besar pengorbanan kakeknya Frida.

    Sedikit koreksi :

    1. seoranng (seorang)

    2. Makek (Kakek)

    3. Disaat (Di saat)

    4. Lain-lainya (Lain-lainnya)

    5. Terkadang aku mendengar petuah kakek yang lainnya ketika ia mengisi kultum di masjid.
    **
    Untuk kata panggil kepada orang yang sudah pasti dan dikenal maka huruf pertama ditulis kapital.
    Misal :
    – Ini adalah palu punya Kakek (maksudnya adalah kakek aku)
    – Pada pagi hari Mama pergi dengan kakaknya ke Pasar Kliwon. (Maksudnya adalah mama aku)

    6. Biasanya kakek mengatakannya sangat menjengukku sebulan sekali atau terkadang melalui perantara SMS yang masuk ke ponsel ustadzah pengasuh. (kata yang tepat bukan ‘sangat’ melainkan ‘saat’l

    Liked by 1 person

  3. membaca ini seperti memutar kembali kisah masa kecilku, bersama ayah yang tidak begitu lama, banyak mengajarkan tanpa banyak kata. sebagian besar kudapatkan dari melihat yang dilakukan ayahku. Saat kehilangan tidak membuatku limbung, mungkin karena pengaruh pendidikan agama yang cukup kuat di kampung.

    Liked by 2 people

    1. sejenak saya bisa merasakannya, pak. mungkin karena nyaris sama itu tadi. tapi saya yang dulu lemah dan cengeng bukan main. tapi ya sudahlah, perlahan saya bisa mengerti. semoga orang tua kita selalu baik di sana. aamiin 🙏🙏

      Liked by 1 person

      1. waaah 😄😄 terbukti kalau masa kecil saya masih terbelakang, ya. maksudnya, mungkin anak-anak yang seusia saya sudah tidak mempelajari itu. apalagi sekarang, anak desa disuruh membantu ibunya menebas daun pisang saja tidak bisa (diceritakan di sebuah buku dan dalam kehidupan riil).

        Liked by 1 person

Comments are closed.