KETIK#13 – Cerita Pendek

Cara Menulis Cerpen

Cerpen atau cerita pendek adalah bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokohplottemabahasa, dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.

Dari WikiHow, berikut ini adalah Cara Menulis Cerita Pendek :

A. Mengumpulkan Ide

1. Karang plot atau skenario

Pikirkan cerita yang akan dibuat dan apa yang akan terjadi dalam cerita tersebut. Pertimbangkan apa yang hendak kamu sampaikan atau ilustrasikan. Putuskan pendekatan atau sudut pandang dalam cerita.

Sebagai contoh, kamu bisa memulai dengan plot sederhana, misalnya karakter utama harus menghadapi berita buruk atau karakter utama mendapat kunjungan yang tidak menyenangkan dari teman atau anggota keluarga.

Kamu juga bisa mencoba membuat plot yang rumit, misalnya karakter utama terbangun dalam dimensi paralel, atau karakter utama menemukan rahasia gelap orang lain.

2. Fokus pada karakter utama yang rumit

Kebanyakan cerita pendek fokus pada satu atau paling banyak dua karakter utama. Bayangkan sebuah karakter utama yang punya hasrat atau keinginan jelas, tetapi juga penuh kontradiksi. Jangan hanya membuat karakter baik atau jahat. Beri karakter utamamu sifat-sifat dan perasaan menarik sehingga mereka terasa rumit dan utuh.

Kamu bisa memakai sosok nyata dalam hidupmu sebagai inspirasi untuk karakter utama. Atau kamu bisa mengamati orang-orang asing di tempat umum dan menggunakan karakteristik mereka untuk tokoh utamamu.

Misalnya, mungkin tokoh utamamu seorang gadis remaja yang ingin melindungi adiknya dari para pengusik di sekolah, tetapi juga ingin diterima oleh teman-teman lain. Atau barangkali tokoh utamamu seorang pria tua yang kesepian sehingga ia mulai menjalin persahabatan dengan tetangganya, tetapi ternyata tetangganya terlibat aktivitas ilegal.

3. Ciptakan konflik sentral untuk tokoh utama

Setiap cerita pendek yang baik memiliki konflik sentral, yaitu tokoh utamanya harus menghadapi suatu masalah. Sajikan konflik untuk tokoh utama di awal cerita pendekmu. Buat hidup tokoh utamamu sulit atau keras.

Misalnya, mungkin tokohmu punya hasrat atau keinginan yang sulit dipenuhi. Atau mungkin tokoh utamamu terjebak dalam situasi buruk atau berbahaya dan harus mencari jalan agar bisa bertahan hidup.

4. Pilih latar yang menarik

Elemen kunci lain dalam cerita pendek adalah latar atau tempat berlangsungnya cerita tersebut. Kamu bisa memakai satu latar utama untuk cerpen dan menambahkan detail latar dengan karakter dalam cerita. Pilih latar yang menarik menurutmu sehingga kamu bisa membuatnya menarik bagi pembaca.

Misalnya, bangun cerita di sebuah sekolah menengah di kota kediamanmu. Atau bangun cerita di sebuah koloni kecil di Mars.

Jangan coba-coba memberi muatan berlebihan dengan latar yang berbeda-beda supaya tidak membingungkan pembaca. Biasanya, satu sampai dua latar sudah cukup untuk satu cerita pendek.

5. Pikirkan satu tema khusus

Banyak cerita pendek berpusat pada satu tema dan mengeksplorasinya dari sudut pandang narator atau karakter utama. Kamu bisa mengambil tema yang luas seperti “cinta,” “keinginan,” atau “kehilangan,” dan pikirkanlah hal itu dari sudut pandang tokoh utamamu.

Kamu bisa juga fokus pada tema spesifik misalnya “cinta antara saudara kandung”, “keinginan untuk membangun persahabatan”, atau “kehilangan orang tua”.

6. Rancang klimaks emosional

Setiap cerita pendek yang bagus memiliki momen yang mengejutkan ketika tokoh utama mencapai puncak emosional. Klimaks biasanya terjadi pada paruh akhir cerita atau hampir mendekati akhir cerita. Pada klimaks, tokoh utama merasa kewalahan, terperangkap, putus asa, atau bahkan kehilangan kendali.

Misalnya, buat klimaks emosional ketika tokoh utama, seorang pria tua yang kesepian, harus bertengkar dengan tetangganya mengenai aktivitas ilegalnya. Atau buat klimaks emosional ketika tokoh utama, seorang gadis remaja, melindungi saudaranya saat melawan perundung di sekolahnya.

7. Rancang akhir cerita yang dipelintir (twist ending) atau mengejutkan

Kumpulkan ide akhir cerita yang akan membuat pembacamu terkejut, terguncang, atau tergugah. Hindari akhir yang terlalu jelas sehingga pembaca dapat menebak akhir cerita sebelumnya. Buat pembaca memiliki perasaan aman yang palsu, yaitu ketika mereka berpikir bisa menebak akhir cerita, kemudian arahkan perhatian mereka pada karakter lain atau gambaran mengejutkan.

Hindari gimmick pada akhir cerita, yaitu jangan bergantung pada pelintiran plot yang klise atau sudah biasa untuk mengejutkan pembaca. Bangun ketegangan dan suasana mencekam dalam cerita agar pembacamu terkejut ketika sampai akhir cerita.

8. Baca contoh-contoh cerita pendek

Pelajari apa yang membuat cerita pendek sukses dan menarik pembaca dengan melihat contoh-contoh dari para penulis mahir. Bacalah cerpen dari beberapa genre, dari fiksi sastra, fiksi ilmiah, sampai fantasi. Perhatikan bagaimana penulis tersebut menggunakan karakter, tema, latar, dan plot untuk membuat efek hebat pada cerita pendeknya. Kamu bisa membaca:

  1. “The Lady with the Dog” karya Anton Chekhov
  2. “Something I’ve Been Meaning to Tell You” karya Alice Munro
  3. “For Esme-With Love and Squalor” karya J.D. Salinger
  4. “A Sound of Thunder” karya Ray Bradbury
  5. “Snow, Apple, Glass” karya Neil Gaiman
  6. “Brokeback Mountain” karya Annie Proulx
  7. “Wants” karya Grace Paley
  8. “Apollo” karya Chimamanda Ngozi Adichie
  9. “This is How You Lose Her” karya Junot Diaz
  10. “Seven” karya Edwidge Danticat

B. Membuat Draf Pertama

1. Buat kerangka plot

Susun alur cerpen dalam lima bagian: eksposisi, awal, plot naik, klimaks, plot turun, dan resolusi. Gunakan kerangka sebagai acuan saat menulis cerpen untuk memastikan adanya awal, isi, dan akhir cerita yang jelas.

Kamu juga bisa memakai metode serpihan salju; yaitu ringkasan berupa satu kalimat, ringkasan satu paragraf, sinopsis seluruh karakter dalam cerita, dan tabel adegan.

2. Ciptakan pembuka yang memikat

Pembuka cerpen harus memiliki aksi, konflik, atau gambaran tidak biasa untuk memikat perhatian pembaca. Kenalkan karakter utama dan latar kepada pembaca pada paragraf pertama. Ajak pembaca masuk ke dalam tema atau ide cerita.[13]

Kalimat pembuka seperti, misalnya: “Aku merasa sendirian pada hari itu” tidak banyak bercerita kepada pembaca tentang narator dan terlalu biasa atau tidak menarik.

Cobalah membuat kalimat pembuka seperti ini: “Pada hari istriku meninggalkanku, aku mengetuk pintu tetangga untuk bertanya apakah ia punya gula untuk kue yang mungkin tidak akan kupanggang.” Kalimat ini memberi tahu pembaca tentang konflik sebelumnya, istrinya pergi, dan ada ketegangan antara narator dengan tetangganya.

3. Gunakan hanya satu sudut pandang

Cerpen biasanya menggunakan sudut pandang orang pertama dan hanya menggunakan satu sudut pandang. Ini membantu cerpen untuk tetap memiliki fokus dan perspektif yang jelas. Kamu juga bisa menulis cerpen dengan sudut pandang orang ketiga, meskipun hal ini bisa menciptakan jarak antara kamu dan pembaca.

Beberapa cerita ditulis dalam sudut pandang orang kedua, ketika narator menggunakan kata “kamu.” Hal ini biasanya hanya digunakan jika orang kedua penting bagi narasi, misalnya dalam cerpen karya Ted Chiang, “Story of Your Life” , atau cerpen karya Junot Diaz, “This is How You Lose Her.”

Sebagian besar cerpen ditulis dalam kalimat lampau, meskipun Anda bisa menuliskannya dalam waktu sekarang untuk memberikan kesan kekinian.

Baca lagi : KETIK#10 – Gaya Tulisan dan Sudut Pandang

4. Gunakan dialog untuk mengungkap karakter dan menggerakkan plot

Dialog di dalam cerpen harus selalu menceritakan lebih dari satu hal. Pastikan dialog mengajak pembaca untuk mengenal karakter yang sedang berbicara dan menambahkan sesuatu ke dalam plot cerita. Gunakan kata kerja dialog untuk mengungkap karakter dan menambah ketegangan pada adegan atau konflik.

Misalnya, daripada menuliskan kalimat seperti, “Hei, apa kabar?” cobalah menulis menggunakan suara karaktermu. Kamu bisa menuliskan , “Hei, apa kabar?” atau “Dari mana saja kamu? Sudah berapa tahun kita tidak bertemu.”

Cobalah untuk menggunakan detail dialog seperti “ia tergagap,” “gerutuku,” atau “teriaknya” ke dalam karakter. Daripada menuliskan “ ‘Dari mana saja kamu?’ katanya”, lebih baik “ ‘Dari mana saja kamu?’ desaknya” atau “ ‘Dari mana saja kamu?’ teriaknya.”

Baca lagi : BTS 7 – Penggunaan Tanda Kutip

5. Sertakan detail indrawi ke dalam latar

Pikirkan bagaimana suasana, suara, rasa, bau, dan apa yang dilihat tokoh utama. Gambarkan latar menggunakan indra sehingga terasa hidup bagi pembaca.

Misalnya, kamu bisa mencoba menggambarkan bekas sekolahmu sebagai sebuah “bangunan raksasa seperti pabrik yang mengeluarkan bau keringat kaus kaki, hair spray, mimpi yang luput, dan kapur.” Atau kamu bisa mencoba menggambarkan langit di rumahmu sebagai “lembar kosong yang dipenuhi asap tebal dan hitam dari api kebakaran hutan dekat rumah di awal pagi.”

6. Akhiri dengan penyadaran atau pengungkapan

Penyadaran atau pengungkapan tidak harus besar-besaran dan terang benderang. Kamu bisa melakukannya dengan halus, di saat karaktermu mulai berubah atau melihat sesuatu secara berbeda. Kamu bisa mengakhiri cerita dengan pengungkapan yang terbuka pada interpretasi atau terselesaikan dan jelas.

Kamu juga bisa mengakhirinya dengan sebuah gambaran atau dialog menarik yang mengungkapkan perubahan karakter. Misalnya, akhiri cerita ketika karakter utama memutuskan untuk melaporkan tetangganya, meskipun ini berarti ia akan kehilangan seorang teman. Atau gambarkan akhir cerita dengan karakter utama membopong adik laki-lakinya yang babak belur berjalan pulang, tepat menjelang waktu makan malam.

C. Menghaluskan Draf


1. Baca cerpenmu keras-keras

Dengarkan bunyi setiap kalimat, khususnya bagian dialog. Perhatikan apakah alur cerita mengalir dengan baik dari paragraf ke paragraf. Periksa apakah ada kalimat atau frasa yang aneh dan garis bawahi sehingga bisa direvisi kemudian.

Perhatikan apakah ceritamu mengikut kerangka plot dan ada konflik yang jelas pada karakter utama. Membaca cerita keras-keras juga bisa membantu mendapatkan kesalahan ejaan, tata bahasa, atau penggunaan tanda baca.

2. Revisi cerpenmu supaya lebih jelas dan mengalir

Kebanyakan cerpen terdiri dari 1.000 sampai 7.000 kata, atau antara satu sampai sepuluh halaman panjangnya. Jangan takut memotong adegan atau menghilangkan kalimat untuk memendekkan dan memampatkan cerita. Pastikan kamu menyertakan detail dan momen penting dalam cerita yang ingin disampaikan.

Untuk cerpen, biasanya semakin pendek semakin baik. Jangan pertahankan kalimat yang tidak mengatakan apa-apa atau adegan yang tidak mempunyai tujuan hanya karena kamu menyukainya. Jangan takut memadatkan cerita jika sudah tersampaikan.

3. Temukan judul yang menarik

Kebanyakan editor, dan pembaca, akan melihat judul cerita pertama kali untuk menentukan apakah mereka mau melanjutkan membaca. Pilih judul yang akan menggugah rasa ingin tahu atau minat pembaca serta mendorong mereka membaca cerita yang sebenarnya. Gunakan tema, gambaran, atau nama karakter dari cerita tersebut sebagai judul.

Misalnya, judul “Something I’ve Been Meaning to Tell You” karya Alice Munro adalah contoh yang baik karena mengutip karakter dalam cerita dan menyapa pembaca secara langsung, saat “saya” ingin berbagi sesuatu dengan pembaca.

Judul “Snow, Apple, Glass” karya Neil Gaiman juga menjadi contoh yang baik karena menggambarkan tiga objek yang menarik pada dirinya sendiri, tetapi bisa menjadi lebih menarik ketika diletakkan bersama dalam sebuah cerita.

| Cara Menulis Cerpen | Petunjuk KETIK | My Team |

Advertisement

5 thoughts on “KETIK#13 – Cerita Pendek

Comments are closed.