Kehilangan

Rumah itu telah kehilangan jantungnya. Rumah tanpa canda, tanpa tawa, hanya ada kekosongan. Anak-anak merindukan Ibunya yang telah berpulang menghadap Sang Pencipta. Sementara Sang Ayah, berduka ditinggal belahan jiwa.

Sebelum Sang Ibu wafat, setiap subuh sering terdengar bunyi alat dapur nampak ada aktivitas di rumah itu, kadang-kadang suara blender menggema membangunkan orang yang sedang tertidur pulas dan paginya teriakan Ibu yang memanggil anak-anaknya untuk sarapan bersiap ke sekolah. Setiap hari aku dengar suara seperti itu dari rumah tetangga sebelah. Kini semua hening, tapi aku masih mendengar suara orang yang sedang mencuci piring, seseorang yang sedang memasak, dan bunyi perabotan dapur bertemu. Suara teriakan sudah tak ada lagi, kadang suara Sang Kakak yang berdebat dengan Adiknya saling beradu argumen hingga Adik menangis meronta memanggil “Ibu” jelas terdengar dari balik tembok. Aku juga merasa kehilangan.

Masih teringat sore itu, Ibu mereka yang pulang kerja selalu membawa cemilan untuk anak-anaknya. Kadang dibagi ke tetangga sebelah. Anak-anak masih ceria, keluar naik sepeda bermain bersama teman sebaya. Setelah magrib, di dapur Ibu sepertinya mempersiapkan makan malam, tercium aroma wangi yang menggugah selera. Sementara itu, suara Anak-anak melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an terdengar dari lantai dua rumah mereka, damai terasa.

Pagi ini, aku lihat Sang Kakak keluar dari balik pintu, sambil mengusap air jatuh di pipi dengan mata yang terlihat sembab sedang bergegas menuju sekolah. Pilu rasanya.


Penulis menggunakan gaya penulisan Implisit dengan sudut pandang orang pertama jamak.

Kamis, 23 Januari 2020.

8 thoughts on “Kehilangan

Comments are closed.