Saya Berhenti Mengonsumsi Kopi

Sabtu itu, ketika hari masih saja hujan seperti hari-hari sebelumnya. Saya dan sahabat saya memutuskan untuk mampir ke kedai kopi tradisional langganan kami. Saya hanya bertugas untuk menemani hari itu. Maklum, beberapa hari ini saya putuskan untuk tidak mengonsumsi kopi setelah dokter memperingati saya tentang “tanda-tanda kebanyakan mengonsumsi kopi”. Saya akhirnya memutuskan untuk belajar mengurangi dan kalau bisa berhenti mengonsumsi kopi.

Sambil berjalan bersebelahan dengan sahabat saya, saya memikirkan soal berhenti mengonsumsi kopi. “Apa yang akan terjadi pada saya jika saya benar-benar berhenti mengonsumi kopi?”,pertanyaan ini memenuhi kepala saya tanpa henti sampai sahabat disebelah saya menyadari apa yang terjadi.

“Sedang memikirkan apa?,” kata sahabat saya.

Saya ragu untuk menjawab jujur. Ingin sekali saya mengatakan “Ah, tidak apa-apa” tapi, menurut pengalaman saya sebelumnya, saya tidak pernah berhasil membohongi sahabat saya ini.

“Saya sedang memikirkan tentang berhenti mengonsumsi kopi,” jawab saya singkat dan tegas sambil berharap agar sahabat saya tidak terlalu penasaran dan menambahkan pertanyaan lagi.

“Berpikirlah sesukamu, sebentar lagi kita akan tiba di kedai kopi dan seingat saya, penjual di sana tidak menawarkan menu minuman lain selain kopi,” kata sahabat saya membalas.

Saya hanya tersenyum sebagai balasan.

Ketika tiba di kedai kopi, saya begitu kaget. Banyak orang yang berada di dalam kedai, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Menarik. Lebih menarik lagi karena setiap kursi di kedai diisi berdua-dua. Sahabat saya langsung menuju tempat pemesanan lalu menoleh.

“Mau pesan apa?”

“Saya pesan air hangat saja,” jawab saya singkat, lalu saya mendengar sahabat saya mengulang pesanan persis seperti yang saya katakan kepadanya.

Tidak lama kemudian, sahabat saya datang menghampiri dan duduk tepat berhadapan dengan saya. Tidak jauh berbeda dengan pengunjung lain di kedai kopi. Ia lalu membuka tas yang dibawanya tadi dan mengeluarkan isi di dalamnya, sebuah buku dengan judul Bahasa asing. Tanpa menoleh pada saya, ia pun berkata, “Tidak mau cerita tentang alasan berhenti mengonsumsi kopi?”

Saya mengubah sedikit posisi duduk, mungkin saya tidak terlalu nyaman dengan pertanyaan ini. Entahlah. Tapi, saya pasti tidak bisa menghindar terus menerus untuk membahas soal topik berhenti mengonsumsi kopi.

“Saya hanya ingin berhenti saja,” jawab saya singkat sambil melihat ekspresi sahabat saya. Ia tidak bergeming, masih berkonsentrasi pada isi buku yang ada di hadapannya.

“Jika kau berhenti mengonsumi kopi, tempat nongkrong manakah yang bisa kita datangi bersama?,” kata sahabat saya kemudian.

“Saya mungkin hanya akan menemanimu saja,” jawab saya kemudian.

“Di mana letak indahnya ‘menemani’, Kawan,” balas sahabat saya.

Saya diam. Lalu membalas,

“Tingkat kecemasan saya semakin mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Saya sempat mengunjungi dokter akhir pekan lalu dan saya diperingati soal kegemaran saya mengonsumsi kopi. Saya diminta untuk mengurangi dan kalau perlu berhenti. Tapi, saya sangat tertarik untuk berhenti. Kopi memang sangat menarik, tapi saya ingin belajar untuk melepaskan. Lalu, soal menemani. Saya tidak pernah merasa keberatan untuk duduk menemanimu. Selama ini perbincangan kita selalu bersifat dua arah dan saya tidak pernah merasa dirugikan soal itu”

Saya menghembuskan nafas ketika selesai dengan penjelasan yang panjang ini. Rasanya beban saya sudah saya letakkan di tempat lain, dan saya merasa nyaman.

“Melepaskan. Saya suka mendengarnya,” kata sahabat saya kemudian.

Tidak seperti sebelumnya, Sahabat saya pun menutup buku yang ada di hadapannya dan memandang saya. Pandangan ini adalah pandangan yang sangat saya kenal. Pandangan menuntut. Pandangan ini membawa pesan bahwa saya harus berbicara lagi karena sahabat saya sedang dalam mode ingin mendengar dan mengetahui lebih.

“Ya, pada tahun yang baru ini, saya ingin belajar melepaskan. Melepaskan kebiasaan yang tidak baik dan tidak menguntungkan. Saya ingin hidup baru, hidup sehat dan hidup bebas,” kata saya selanjutnya.

“Sejak kapankah hal ini terjadi?,” kata sahabat saya kemudian.

“Sudah saya katakan tadi, sejak level kecemasan saya meningkat. Tapi, lebih karena saya merasa ‘cukup’. Cukup menyiksa diri saya sendiri, dan cukup untuk memanjakan diri saya terlalu berlebihan. Cukup untuk tidak peduli pada kesehatan fisik dan mental saya sendiri,” kata saya menjelaskan.

“Saya tidak dapat berkata apa-apa lagi, Kawan. Saya rasa kau sudah lebih dalam memahami soal merasa ‘cukup’ dan melepaskan. Saya akan coba mendukung.”

Setelah sahabat saya mengatakan kalimat itu, pesanan kami datang. Saya, tentu saja dengan air hangat pesanan tadi dan sahabat saya seperti biasa, kopi hitam sepekat-pekatnya dengan sedikit sekali gula. Sahabat saya menyeruput isi gelasnya dan saya memegang gelas air hangat di tangan. Saya rasakan hangatnya permukaan gelas dengan telapak tangan saya. Saya rasakan kedamaian dalam pikiran saya.

Saya memang merasakan kesusahan untuk berhenti mengonsumsi kopi. Maklum, sebelumnya kopi adalah bagian yang paling tidak bisa dipisahkan dari kehidupan harian saya. Tapi, saya siap melepaskannya dan beralih pada sesuatu yang lain, yang baru dan yang berbeda. Bukan demi siapa-siapa, ini hanya demi diri saya sendiri. Saya memikirkan mengenai egois untuk diri saya sendiri pada awal tahun ini dengan berhenti mengonsumsi kopi.

Pikiran saya mengalir terus seperti itu sambil memegang gelas air hangat di tangan saya.

Hari itu, ditemani oleh hujan yang semakin deras di luar sana, saya dan sahabat saya membicarakan mengenai keinginan saya berhenti mengonsumsi kopi. Sahabat saya yang memang gila dan tidak bisa hidup tanpa mengonsumsi kopi, saya merasa terkesan dengan keinginan sahabat saya untuk menguliti topik soal berhenti mengonsumsi kopi. Bagi saya, segelas air hangat dan hujan lebat di kedai kopi saat itu meninggalkan kesan yang luar biasa menyenangkan. Syukur padamu Tuhan.

Catatan :

Tulisan di atas adalah menggunakan gaya tulisan explisit (apa adanya dan blak-blakan). Isi tulisan langsung tertuju pada topik ‘berhenti mengonsumsi kopi’. Sudut pandang yang digunakan dalam tulisan ini adalah sudut pandang orang pertama tunggal. Sebagai tambahan dan informasi, Kisah diatas bukanlah kisah nyata.

14 thoughts on “Saya Berhenti Mengonsumsi Kopi

  1. Mantap, Ayu. Saya suka kopi tapi bukan penikamtnya. Haha…

    Sedikit koreksi ya :

    1. disebelah (di sebelah)

    2. … selain kopi” kata sahabat saya (beri tanda koma jadi — ….selain kopi,” kata sahabat saya) // lakukan ini juga untuk kalimat langsung lainnya

    3. “Mau pesan apa ?” (“Mau pesan apa?”

    4. Tanpa menoleh pada saya, Ia pun (harusnya kata ‘ia’, huruf i kecil)

    5.  “Tidak mau cerita tentang alasan berhenti mengonsumsi kopi?”. (Jika sudah ada tanda tanya atau tanda seru maka tidak perlu tanda titik lagi)

    6. Saya merubah sedikit posisi duduk (mengubah)

    7. masih berkonsentrasi pada isi buku yang ada dihadapannya. (di hadapannya)

    8. Dimana letak indahnya (di mana)

    9. …tidak pernah merasa dirugikan soal itu” (…itu.”)

    10. Sahabat saya pun menutup buku yang ada dihadapannya (di hadapannya)

    11. “Sejak kapankah hal ini terjadi ?” (..terjadi?”)

    12. …Saya akan coba mendukung”. (..mendukung.”)

    13. Saya, tentu saja dengan air hangat pesanan saya tadi dan sahabat saya seperti biasa kopi hitam sepekat-pekatnya dengan sedikit sekali gula. (Pengulangan kata saya. Bisa disesuaikan lagi kalimatnya ya)

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih atas koreksinya, Kak.

      Sungguh, setelah meliburkan diri, ilmu yang baru saja diperoleh kemarin menguap semua hahaha.

      Lanjut untuk memperbaiki!

      Like

    1. Cerita ini adalah fiktif belaka, Kak. Ada hanya dalam khayalan saya saja. Tapi memang idenya adalah dari pengalaman saya sendiri. Saya sudah berhenti mengonsumsi kopi sejak beberapa bulan yang lalu. Alasannya karena memang tubuh saya sudah tidak sanggup menahan jumlah konsumsi zat ini setiap harinya. Harus segera bertobat hahaha, dan untungnya berhasil. Awalnya tidak enak ! Sempat pakai pengganti kopi yang lain seperti minum vitamin untuk meningkatkan stamina, tapi lama-lama bisa lepas juga. Syukurnya sampai sekarang masih tetap konsisten dengan tidak mengonsumsi kopi (lagi). Semoga tetap konsisten.

      Mohon doa, Kak.

      Like

    1. Maaf jika harapanmu harus berakhir dengan perasaan kecewa ya, Mas Andi.

      Tulisan ini seperti tujuannya adalah untuk memenuhi tantangan #ketik. Saya batasi demikian saja. Ada perasaan tergoda untuk membuat cerita sangat sederhana ini menjadi sesuatu yang berakhir dengan WOW (Ada beberapa option ending dalam kepala saya) tapi untuk saat ini saya menikmati kesederhanaan jalan cerita yang biasa-biasa saja.
      Saya ingin menikmati membayangkan percakapan di kedai kopi, sederhana, remeh, receh, tapi bermakna.
      Perbincangan di kedai kopi kadang sangat membosankan memang (Saya sempat berpikir bahwa kopi itu seperti doping yang digunakan untuk membuat percakapan, diskusi di kedai kopi menjadi hangat, menarik dan menginspirasi), tapi entah kenapa ketika menulis tulisan ini, saya malah terobsesi dengan rasa membosankan, remeh dan kadang hampir tidak ada arti ini. Saya menikmati proses membayangkan, menulis dan menerbitkannya di sini. Lucu ya hahahaha

      Liked by 1 person

      1. Gak papa Mbak Ayu, aku sudah biasa dikecewakan. Uhuk. Aku sudah kebal… 😁

        Ya Mbak Ayu mensyen kegemaran aku sih, jadi aku berharap ada argumentasi itu. Seperti sebuah cerita yang semual receh tapi kemudian seiring dengan perkembangan karakternya, atau kalau dalam literasi disebut sebagai Archtype Character Development, akan muncul argumtatif dari salah satu sudut pandang tokohnya.

        Liked by 1 person

      2. Uhuk, sepertinya tidak seperti yang saya lihat, Mas Andi. Tidak ada kata “kebal” dalam ekspresi tulisanmu, yang saya lihat adalah “ketika kecewa datang, saya tidak akan kalah darinya”. Seperti itu hahaha

        Ia, kopi adalah kegemaran Mas Andi ya. Saya ingat ada foto yang dikirimkan ke WA Group, dan itu adalah foto Mas dengan memegang gelas kopi. Kopi selalu menjadi awal sebuah perbincangan yang menarik ya.

        Wah, saya baru tahu soal Archtype Character Development ini. Ilmu baru ini. Terima kasih ya.

        Uhuk, tapi…kalau saya kembangkan lagi tulisan ini menjadi lebih panjang, takutnya saya kebablasan dan menulis lebih dari yang diminta (Seperti kebiasaan saya menulis biasanya) hahahhaa

        Liked by 1 person

      3. Uhuk. Mbak Ayu pintar mengambil hati dan menyenangkan orang, itu sebabnya Mbak Ayu terjun di dunia psikologi.

        Benar. Selain menjadi awal perbincangan, kopi pun akan menjadi katalisator, seberapa kualitas perbincangan itu. Dan demi apa obrolan kita ini bermula dari kopi? Karena ia memang menarik sekali. Katalisator.

        Ya, di dunia literasi itu sering dibahas, Mbak Ayu bisa menyelami lebih dalam tentang Archtype character. Hampir selalu ada di sebuah karya, entah itu film, drama ataupun novel.

        Ketakutanmu sungguh tak beralasan. 😝

        Liked by 1 person

      4. Uhuk. Saya tidak pandai menyenangkan atau mengambil hati orang, Mas Andi. Hanya pandai menyenangkan hati sendiri. Memutuskan terjun mendalam ke dunia Psikologi juga salah satunya karena alasan super egois ini hahaha.

        Setuju! Kopi sebagai Katalisator.

        Muantap, ini Mas Andi. Harus banyak belajar saya.

        Ketakutan selalu memiliki alasan atau objek penyebab rasa takut, kecemasan yang kadang tidak memiliki alasan hahahaha.

        Liked by 1 person

      5. Untuk menjadi sukses, perlu sebuah karakter yang besar dan kuat. Salah satunya adalah egois. Banyak karakter antagonis dalam novel dan film selalu menuai kesuksesan besar, karena mereka benar-benar berkarakter dan bernyali dan bertekad, penuh dedikasi.

        Jadi kecemasan dan ketakutanmu itu sungguh alasan yang mengada ada hahaha 😂

        Liked by 1 person

Comments are closed.