Dalamnya Hati Tak Sama Dengan Lautan

Tahukah teman-teman bahwa 1400H silam, Alqur’an telah mendeskripsikan perbedaan antar sesama manusia. jauh sebelum kita mengenal satu sama lain. Jauh sebelum ada yang bertanya, “Mengapa kita diciptakan berbeda-beda?”

Nah, Alqur’an telah menjawab pertanyaan tersebut, yang terkandung di dalam Alqur’an surat ke 49, Al-Hujurat ayat 13; “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Lantas, apa hubungan ayat Alqur’an tersebut dengan pembahasan saya kali ini?

Hehee, untuk sekedar intermezo kita, nih, jangan terlalu kaku amat, lah ya. Jadi baca Alqur’an dulu, agar syaraf-syaraf kita tidak terlalu tegang.

Anyway, saya paling suka sekali dengan sepotong ayat tadi, Al-Hujurat ayat 13. Secara tidak langsung, ayat tersebut mengajarkan saya untuk menghargai perbedaan, belajar dari ketidaksamaan, mengenal dan memahami ketidakserasian dalam bersosialisai.

Dan kali ini, saya ingin mendeskripsikan sebagian makhluk ciptaan Allah yang saya kenal dalam hidup saya. Dan ini merupakan bagian dari tugas saya, yaitu KETIK#7 “Mendeskripsikan orang-orang terdekat saya.” Selamat membaca ya!

Kita, memang telah diciptakan berbeda satu sama lain. Ada yang berbeda; suku, bangsa, negara, adat, kepercayaan, watak, sifat, fisik, bahkan sekembar atau semirip apapun manusianya, tetap saja berbeda.

Namun, bukan berarti perbedaan tersebut menjadikan kita saling bermusuhan, menyerang, dan ejek-mengejek satu sama lain. Akan tetapi, perbedaan itu ada, agar kita saling mengenal, toleransi, menghargai, menghormati, menasehati, dan berkasih sayang antar sesama makhluk.

Nah, demikianlah yang saya lakukan; mengenal dan memahami beberapa makhluk di muka bumi ini.

Tentu, mereka yang kita kenal, tak sepenuhnya kita tahu dengan sebenar-benarnya. Dalam artian, kita tahu dia dan karakternya (luarnya saja), tapi kita pasti tidak tahu apa dan bagaimana perasaan serta hatinya. Seperti pepatah mengatakan: ‘dalamnya laut dapat kita ukur, tetapi dalamnya hati seseorang, siapa yang tahu.’

Dalam hidup saya, orang yang paling saya kenal dan yang utama adalah Ayah/ Mama. Sosok yang sudah pasti setiap anak memujinya, membanggakannya dan menyanjungnya. Begitupun saya.

Untuk mendeskripsikan sosok ini, rasanya kosa kata dalam KBBI tidaklah mampu melukiskan bagaimana kebaikan, kelembutan, kasih sayangnya, dan pengorbanannya selama setengah abad ia hidup bersama saya. Beliau adalah wanita terhebat. Mama itu suka masak, dan masakannya teramat sangat enak sekali, meski tanpa micin. Hal itu yang terkadang membuat saya rindu jika berjauhan dengannya. Kata Mama, masak itu cukup pakai garam dan gula saja, tidak perlu tambah penyedap, pasti enak.

Kemudian, Mama itu jago nawar; lebih tepatnya suka nanya-nanya harga pasaran, hehehe. Pernah, ada cerita dari adik saya (yang sedang berbelanja bersama Mama). Jadi si adik saya ingin sekali membeli gelang (Titanium). Lalu adik saya mengajak Mama ke toko yang menjual barang tersebut. Singkat cerita, Mama bilang, “Bagus yang ini, lebih cantik dek.” Lalu adik saya pun sudah semangat sekali donk, rasa-rasanya dapat lampu hijau, setelah beberapa jenis gelang yang ia coba. Dan akhirnya Mama bilang, “Nanti aja lah kita balik lagi, ada perlu yang lain dulu.” Auto adik saya cemberut sampai pulang. Hahaha… (padahal Mama itu cuma cek-cek harga).

Begitupun dengan saya, selalu masuk ke toko baju. Coba sana-sini, setelah rasanya tak berkenan di hati dengan harga si penjual, Mama pun pergi. Dan saya sudah hafal sekali kebiasaan Mama seperti itu, jadi jangan berharap ikut belanja, akan dibelikan. Hahaha.

Kemudian yang ke-2, sosok laki-laki yang gagah, siapa lagi kalau bukan Ayah. Beliau tipe orang yang keras. Kalau sedang menyuruh sesuatu harus bisa dan cepat dilakukan. Dan, Ayah itu orangnya garang. Pernah suatu ketika saya dan Abang (masa kecil dulu), sedang bermain, (bercanda tapi seperti berkelahi). Jadi, Ayah pikir kami sedang berkelahi. Alhasil, kami kena sambit (dipukul), Hehe.. auto kami berhenti main, dech.

Lalu yang ke-3, Abang saya, Khairul Ilham namanya. Dia tipe orang yang sangat cuek, dan hubungan kami seperti orang asing setelah sama-sama beranjak dewasa (saat masa SMP). Entah dimulai dari mana, jarak antara saya dan abang begitu jauh. Padahal, saat SD kami satu sekolah dan kelas. Setelah SMP juga sama. Lalu, tiba-tiba dia meminta wali kelas untuk dipindahkan ke kelas sebelah. Entah lah. Semakin bertambah dewasa, kami semakin jauh dan sangat asing. Lalu, setelah ia mulai merantau mencari pekerjaan, kami bertegur sapa kalau saling membutuhkan saja.

Ah, rasanya dulu saya kehilangan sekali sosok seorang abang dalam hidup saya. Dulu, saya iri sekali dengan teman-teman saya yang memiliki abang serasa pacar; jalan sana-sini, nongkrong dan makan bersama abangnya. Lah, saya, ketemu dia di jalan atau lagi nongkrong sama teman-temannya saja, dianggap orang tak dikenal. Hiks.! Tapi saya yakin, dibalik kecuekannya, pasti ada rasa sayang untuk adik-adiknya. Meskipun cuek, ia tipe penyayang kucing dan suka anak kecil, serta selalu sopan dengan orang tua (yang lebih tua darinya).

Selanjutnya sosok ke-4, adik saya, Mawar Hamsyi namanya. Anak terkahir. Sekarang dia masih duduk di kelas 3 SMK, lagi masa pubernya. Terkadang, saya suka kesal dengan dia, kerasa kepala (sama sih, saya juga. Hehe). Jadi, kami sering bertengkar. Walaupun begitu, dia teman jalan yang asik (masa jomblo dulu). Sebab, di lingkungan rumah, bisa dikatakan saya tak memiliki teman, alhasil kalau mau pergi keluar, mesti tunggu adik saya pulang sekolah. Dia juga teman cerita yang asik, jubir (juru bicara) yang handal kepada Mama/ Ayah (kalau saya sedang merajuk). Dan dia ‘gossip girl’ (ratu gosip) yang ulung di antara warga sekitar, hahaha…! Satu hal yang disukai orang-orang, dia adalah sosok yang ramai, suaranya yang nyaring dan mulutnya yang seperti mercon, menjadikannya sosok yang dirindukan kebanyakan orang. Warga sekitar mengatakan kami ini seperti bumi dan langit, yang satu kalem (saya), yang satunya lagi bising (si Mawar).

Urutan ke-5 ada suami saya. Sosok yang baru dua bulan terakhir mengisi hari-hari saya. Meski baru seumur jagung usia pernikahan kami, rasanya saya mulai bisa menebak dan mengenal karakter beliau. Perlahan namun pasti, kami saling menyesuaikan karakter masing-masing. Dia yang periang (ekstrovert) terkadang membuat saya bertanya dalam hati, “kok bisa sih, ramah banget sama orang?” Sedangkan saya yang introvert, terkadang agak kaku bila bergaul dengan orang-orang baru di sekitar suami saya. Dia juga rajin, sering membantu urusan dapur dan mencuci, serta gerakannya lebih gesit dibandingkan saya. Hal yang paling saya suka adalah saat dia belanja ke pasar (dengan list belanjaan) yang telah saya catat di rumah, lalu pulang dengan hasil (pilihan) yang bagus-bagus. Rasanya saya malu jadi perempuan, yang kurang teliti memilih sayuran ataupun buah.

Berikutnya ada teman-teman saya. Ada banyak sih, tapi tidak mungkin diceritakan lagi, sebab sudah terlalu panjang tulisan ini. Lagi pula, hanya sisa dua sosok saja yang bisa dideskripsikan, karena jatahnya hanya untuk 7 orang saja.

Pada intinya, teman-teman yang berada di lingkaran hidup saya, adalah sosok yang sangat menyenangkan, penyemangat, pemberi nasehat, penghilang kebosanan, dan InsyaAlah, mereka teman-teman saya hingga ke Jannah-Nya.

Buat teman-teman saya, yang tersebar di seluruh Indonesia, terima kasih telah menjadi bagian dari hidup saya. Terima kasih telah bersabar dengan sifat dan watak buruk saya.

Teruntuk sahabat se-syurga saya, semoga kalian semua selalu dalam lindungan Allah, dan sehat selalu. Serta jangan lupa do’akan saya disetiap sujud terakhir kalian. Begitupun hal yang saya lakukan untuk kalian.

Baiklah… cukup sekian KETIK#7 kali ini. Semoga para pembaca tidak pernah bosan memberikan masukan dan arahan kepada saya, penulis yang mencoba untuk menulis dengan tulisan kaleng-kalengnya.

Aceh, 7 Januari 2020

15 thoughts on “Dalamnya Hati Tak Sama Dengan Lautan

  1. 1. tidak perlu tamba penyedap (tambah)
    2. Anak paling bontot a.k.a terkahir (terakhir)
    3. Mama/ Ayah (Mama/Ayah)
    4. Dan dia info-women (ratu gosib) // istilah yang tepat bukan ‘info-women’ tetapi ‘gossip girl’ // juga bukan gosib tapi gosip

    Salam untuk Ibumu, Ca. Dia mirip ibuku yang jago nawar. Mungkin saat umur Caca sudah seperti Ibu akan jago nawar barang juga.

    Haha…

    Liked by 1 person

  2. Langsung tertarik dengan judul tulisannya, dan ketika membaca pengantarnya,…aaaa keren kali!

    Salut !

    Selamat atas pernikahannya, Mbak. Turut berbahagia dan peluk hangat melalui dunia maya. Semoga pernikahannya langgeng dan berkah ya, Mbak.

    Liked by 1 person

Comments are closed.