Jalinan Itu (Pernah) Ada

Niat hati untuk bisa menerbitkan dua tulisan sekaligus dalam sehari sebagaimana yang berhasil saya lakukan pada KETIK4 dan KETIK5, harus kandas karena prompt kali ini. Sepanjang hari Minggu seusai mempublikasikan KETIK6, saya memeras otak, memikirkan apa yang harus saya bahas untuk memenuhi syarat kata ‘lingkaran’.

Lalu bagaimana saya harus menulisnya? Keluarga dan teman adalah pilihan paling mudah untuk dideskripsikan, bukan? Lantas mengapa saya bingung? Karena lingkaran saya tidak selebar itu. Dikurangi 10 orang yang sudah saya perkenalkan pada KETIK6, kandidat untuk dipaparkan jadi semakin menipis. Sehingga, syarat 7 orang yang harus dideskripsikan menjadi terlalu sulit buat saya.

Maka, saya akan menderetkan orang-orang yang pernah dekat dengan saya. Karena seperti biasanya, siklus pertemanan standar selalu berjalan dalam irama statis. Orang asing-dekat-dekat banget-dekat-kembali menjadi orang asing.

Tasya

Perkenalkan, dua gadis cantik di pojok itulah dua keponakan saya. Yang berdiri di sebelah kanan saya adalah Afifah dan di sebelah kiri ibu saya namanya Tasya. Keduanya kakak-beradik, anak sulung dan anak tengah dari Abang pertama saya. Mereka memiliki adik bungsu laki-laki yang masih duduk di bangku kelas dua SD.

Tasya merupakan keponakan pertama saya. Ia lahir pada Desember tahun 2000, tepat pada bulan Ramadhan dan enam hari sebelum ulang tahun saya yang keenam. Kehadirannya membuat saya akhirnya mencecap rasanya jadi seorang kakak. Sewaktu ia masih bayi, saya sering menempeli dia. Pokoknya saya harus tidur sama adik bayi. Abang saya pun terpaksa digusur ke kasur bawah.

Dulu saya sering berharap ia lekas tumbuh besar, biar saya bisa mempunyai teman bermain di dalam rumah. Nyatanya impian saya tidak kesampaian. Ketika usianya menanjak satu tahun, setelah kelahiran keponakan kedua saya, keluarga Abang harus pindah ke luar kota.

Tasya kembali ke rumah ayah saya waktu ia akan masuk TK. Dengan beberapa pertimbangan, ia diserahkan kepada neneknya–ibu saya–untuk diasuh selama setahun, selagi ia bersekolah. Waktu itu, saya sudah duduk di bangku kelas enam SD dan memiliki banyak teman sepermainan. Saya yang sudah besar malah jadi gengsi bermain sama bocah. Di sisi lain, justru ia yang kepingin lengket terus sama saya.

Saat ini, ia duduk di bangku kuliah Pendidikan Bahasa Inggris semester 5 di salah satu PTN di kota Kupang. Ia yang dulu cuma setinggi pinggang dan gemar mengikuti saya ke mana-mana, kini sudah menjelma gadis cantik yang tingginya melampaui saya. Matanya mewarisi mata ayahnya, berbulu mata lentik dan tebal tanpa perlu menggunakan maskara atau bulu mata palsu. Ia memiliki lesung pipi di sisi wajah sebelah kanan, yang akan muncul ketika ia tersenyum atau tertawa lebar.

Hobi utamanya sama seperti saya: rebahan. Berbeda dengan saya yang memiliki minat dalam kepenulisan dan suka bernyanyi, ia memiliki minat pada dunia dance. Maka, hobi tambahannya adalah mempraktikkan koreografi dari grup-grup Korea. Hampir setiap sore ia memutar lagu K-Pop dari televisi, lalu bergerak-gerak mengikuti tarian mereka.

Kami punya banyak kemiripan. Selain sama-sama suka K-Pop, kami cenderung tidak bisa menolerir kecurangan dalam ujian, sering disangka sombong, sama-sama suka matematika tetapi tidak mengambilnya sebagai jurusan kuliah, sama-sama penggemar Detektif Conan, Sherlock Holmes, Hercule Poirot, MCU, serta sama-sama doyan makan. Bedanya, jika cilok sebiji rasanya menambah berat badan saya, Tasya memiliki anugerah yang diimpikan kebanyakan wanita: banyak makan tetapi tetap kurus.

Afifah

Keponakan kedua saya adalah Afifah. Gadis ini lahir setahun lebih setelah kelahiran kakaknya. Baru tiga hari yang lalu ia berulang tahun yang ke-18.

Dulu ketika ia terlahir, rambutnya lebat sekali dan mirip rambut model jabrik. Ia selalu mengepalkan tangannya, yang dalam mitos daerah kami, bayi ini akan tumbuh menjadi orang pelit. Masa saya menyaksikan versi bayinya hanya sebentar, karena ia dan keluarganya kadung pindah ke luar kota. Saya cuma bisa melihat foto-foto mereka yang dikirim lewat pos secara berkala.

Sewaktu usianya tiga tahun, ia kembali tinggal bersama kami. Itu sebelum kakaknya masuk TK. Satu hal yang saya ingat adalah dulu, ia sangat-sangat nakal dan cerewet. Ia suka mencelupkan diri ke dalam air kolam ikan nila di luar rumah. Sepertinya dulu ia memang punya obsesi terhadap ikan. Setiap kali ibu saya membersihkan ikan pun, ia akan duduk di dekat beliau dan menyentuh-nyentuh ikan sembarangan sambil bilang, “Ikan mata bolong-bolong.” Tidak jarang, tangannya yang masih berbau amis itu iseng ia usapkan ke rambut. Ajaib juga mengingat rambutnya tetap lurus dan sehat setelah berkali-kali diolesi air bercampur darah ikan.

Afifah kecil juga sangat usil. Ada saja kata-kata aneh yang tercetus dari lisannya ketika ia jengkel atau sedang mengusili orang lain. Pernah suatu ketika, ia memanggil-manggil seorang mahasiswi yang lewat di depan rumah. Mahasiswi itu tidak menoleh, bahkan setelah Afifah mengulang-ulang panggilan ‘Kakak Nona’. Karena jengkel, setelah mahasiswi itu menghilang di tikungan, terdengarlah kalimat, ‘Eee, Kakak Nona katilli!”

Katilli adalah kata dalam bahasa daerah Alor yang bermakna keong atau siput laut. Entah dari mana ia menyerap kata tersebut, saya tidak tahu. Celetukannya langsung disambut gelak tawa kami. Sejak saat itu, tetangga saya memanggilnya dengan sebutan ‘Katilli‘ dan bukannya nama asli.

Kebiasaannya memanggil nama orang dengan sekehendak hati pun berlanjut hingga saat ini. Ia memanggil saya Kakakaina, Tasya dengan sebutan Lerem–yang diambil dari singkatan nama tengah Tasya, yaitu L.R.M–dan Nessa–sepupu mereka–dengan sebutan Bibo yang diambil dari kata ‘Kribo’.

Afifah juga saat ini sedang berkuliah di universitas yang sama dengan kakaknya, satu tingkat di bawah Tasya. Ia adalah calon Sarjana Hukum yang belum kepikiran mau menjadi apa. Sering saya usulkan kepadanya, “Nggak usah bingung. Taruhlah cita-citamu setinggi langit. Jadi Hotman Paris, mungkin?” Yang berakhir dengan penampakan ekspresi muka babi yang sering kami tampakkan jika mau mengejek satu sama lain: kepala dimajukan, gigi dibonengin, lubang hidung diperlebar, diiringi dengusan yang meletus dari sana.

Sama seperti saya dan Tasya, ia juga suka K-Pop. Mereka terjangkit virus itu dari saya ketika saya masih SMA dan keduanya masih mengenakan seragam putih-merah. Afifah juga merupakan penggemar film horor dan komedi. Entah bagaimana ia bisa menyukai dua hal yang saling bertolak-belakang. Ia suka mengoleksi foto-foto lucu dan mengatur kamar menjadi estetik.

Afifah adalah seorang pribadi ekstrover. Ia doyan ikut aksi, sangat suka berkumpul dengan teman-temannya, berkeliling kota, memburu spot-spot foto bagus, kemudian memamerkan hasilnya pada kami. Meski kerap usil, jika saya dan Tasya sering dicap sombong, Afifah justru kelewatan ramahnya.

Khadijah

Wanita ini adalah kakak sepupu saya. Saya pikir, saya perlu memasukkan namanya ke dalam list ini, karena ia adalah satu dari sekian sedikit orang yang senang saya temani, dan sering menemani masa suntuk saya.

Usianya 40 tahun lebih, belum menikah, tidak punya pekerjaan tetap, dan menderita sakit yang membuat hidupnya harus berputar di lingkungan yang itu-itu saja. Ia mengalami kelumpuhan dan ayan. Kelumpuhannya berawal dari penyakit ayannya yang kumat. Ada sebuah insiden yang berlangsung pada September 2014 silam. Ketika itu, ia berdiri di atas septic tank setinggi satu meter demi menjemur pakaian, kemudian kejang-kejang dan jatuh ke bawah.

Tubuhnya gendut dan bergelambir karena usia yang kian menua ditambah faktor dirinya yang jarang bergerak. Wanita itu tidak punya teman bicara. Saat ini, ia tinggal bersama keluarga abangnya, dan kakak iparnya yang mengurusi semua kebutuhannya, mulai dari makanan, pakaian, sampai obat-obatan. Namun, baik abang maupun iparnya, adalah orang yang lebih sering beraktivitas di luar rumah. Dua-duanya adalah pegawai.

Di luar dugaan, ia orang yang cukup asyik ketika diajak mengobrol. Ia memang tidak begitu tahu tentang perkembangan dunia, kosakatanya pun minim karena banyak yang hilang dari memorinya. Seringkali ia menggambarkan kata-kata yang ia lupakan dengan gerakan tangan.

Obrolan kami lebih sering berkisar soal nostalgia. Ia sering bercerita soal keluarganya dulu, sekolahnya, teman-temannya, atau sinetron yang pernah ia tonton. Dan saya suka matanya yang berbinar-binar polos setiap kali ia bercerita.

Rifki

Orang ini adalah orang terbaik yang pernah saya kenal, di luar garis darah. Ia sahabat saya sejak SMA kelas sepuluh. Saya masih ingat betapa ia sangat gemar menjahili saya, memplesetkan nama facebook pertama saya: Irma Sarangwonbin, menjadi Irma Sarangtawon.

Meski jahil dan usil, Rifki adalah makhluk yang dikutuk berada pada peringkat teratas di kelas kami. Ia menjadi bahan sanjungan sekaligus hinaan para guru. Oleh Pak Syam, guru agama kami, ia dijuluki Ifrit karena kelakuannya yang bebal. Oleh Pak Pacce, guru biologi, ia dijuluki suami idaman yang kerap membuatnya menepuk dada dengan bangga.

Ia adalah manusia di sekolah yang paling nyambung kalau mengobrol dengan saya. Seringkali omongan saya yang tidak terduga–karena saya sering tiba-tiba menyuarakan apa yang terlintas di pikiran saya–hanya bisa ditimpali olehnya. Kami sama-sama penggemar Detektif Conan dan Sherlock Holmes, serta menyukai matematika. Ia seperti Tasya dalam wujud laki-laki.

Momen perdana yang membuat kami dekat adalah olimpiade yang kami ikuti bersama, yang lantas membuat saya lebih mengenalnya. Ternyata, ia tidak seburuk yang dibicarakan kebanyakan orang. Ia memang nakal, tetapi tidak pernah merugikan banyak orang.

Kemudian, tercetuslah rencana saya untuk menjadi Mak Comblang bagi Rifki dan teman perempuan saya, Intan. Sejak SMP, kepala saya memang sudah suka ribut mencocok-cocokkan nama teman cowok dan cewek dengan menarik garis-garis khayalan sendiri, lalu ber-kyaaakyaaa cocoook OTP OTP~ dengan sintingnya.

Misi saya berhasil, dong! Keduanya berpacaran pada akhirnya. Tetapi, ketika lulus, mereka putus. Walau sudah putus, mereka masih bersahabat.

Rifki adalah sahabat saya yang paling awet. Ia bertahan di sisi saya dan saling bertukar curhatan dengan saya sejak 2010 sampai 2018 kemarin. Mungkin karena sudah terlalu lama saling kenal, ia bisa mengerti meskipun saya tidak menjelaskan. Beberapa orang, termasuk keluarga kami mengira kami berpacaran, padahal tidak.

Terlepas dari segala kejahilannya, Rifki adalah orang yang bertanggung jawab. Sebagai sulung dari dua bersaudara, ia begitu menyayangi ibunya, menghormati ayahnya, dan melindungi adik perempuannya.

Saat ini, ia sudah menikah dan dikaruniai satu anak lelaki. Dan baru pada September kemarin, ia menjalani sumpah dokternya.

Intan

Tidak afdal bicara soal Rifki jika tidak menyinggung Intan. Mereka adalah salah satu legenda bagi angkatan kami. Bersama Intan, saya membentuk legenda yang lain lagi.

Banyak orang yang bilang kami berdua mirip. Mulai dari teman sekelas, kakak kelas, sampai guru-guru. Entah mirip dari bagian mananya, saya selalu berpikir mereka ngaco. Intan lebih tinggi dua senti dari saya, lebih putih, lebih ramping, lebih feminim dan lebih ramah. Kesamaan kami cuma lima: sama-sama memiliki nama berhuruf awal I sehingga memiliki urutan absen yang berdekatan, sama-sama berhijab, duduk di kelas yang sama dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas, sama-sama memiliki darah Alor, dan sama-sama menderita rhotacism.

Orang-orang memanggil kami Upin-Ipin. Upin buat Intan, dan Ipin buat saya. Waktu kelas sepuluh, kami pun sempat saling memanggil satu sama lain dengan itu, sebelum saya menggantinya dengan ‘Ma’ dan ‘Tan’ karena terjerat propaganda bahwa Upin dan Ipin artinya ‘Aku Yahudi’.

Intan adalah seorang analis yang kini resign karena sudah menikah dan tengah hamil besar.

Herlin

Rifki, Intan, Herlin dan saya adalah paket pertemanan masa putih-abu. Jika Rifki seorang dokter, Intan seorang analis, maka Herlin adalah seorang bidan.

Ia adalah teman sebangku saya selama tiga tahun. Kulitnya hitam manis, punya lesung pipit di kedua sisi pipi, dan rambutnya hitam-legam serta tebal, yang sering ia kepang satu. Matanya persis mata boneka. Waktu awal bertemu dengannya, kepala saya lancang meletakkan titik merah imajiner di antara kedua alisnya, karena ia mirip orang India.

Herlin adalah teman pertama yang akrab dengan saya di SMA. Ketika pembagian kelas, saya mencari nama saya dari kelas paling ekor karena cukup percaya bahwa ampas tahu seperti saya tidak mungkin masuk kelas depan. Saya sudah gelisah dengan kemungkinan bahwa saya tidak diterima, sebelum akhirnya saya tiba di depan kelas yang memampangkan nama saya. Itulah kelas saya yang semestinya.

Di dalam hanya ada satu bangku kosong. Letaknya ada di meja paling depan, paling pojok kiri. Persis berhadapan dengan meja guru. Lokasi yang selalu dihindari karena tidak strategis untuk menyontek. Di sanalah gadis itu duduk, kemudian saya mendekat, bertanya ragu, “Di sini ada orang?” Dan itulah kalimat yang menjadi gerbang pembuka di antara kami.

Ia agak sinis, tetapi baik. Berbanding terbalik dengan suaranya yang manis, kata-katanya justru lebih sering terasa pedas. Dan entah mengapa, orang yang paling sering dicibirinya adalah Rifki. Apa pun yang cowok itu lakukan, akan terus dikomentarinya dengan taraf tega yang patut diacungi jempol. Kemudian di belakang, ia bersama saya dan Intan akan menertawakan muka bodoh Rifki ketika diomeli.

Fika

Ia adalah kakak kelas saya ketika SMP. Namun, saat itu kami hanya sekadar saling tahu nama karena berada dalam satu grup nasyid. Suaranya sangat khas, sehingga jika saya mendengarkan ia bernyanyi sambil menutup mata pun, saya bisa tahu bahwa itu suaranya. Ia bernyanyi dengan dinamika. Ia memulainya dengan lembut, sebelum akhirnya berangsur menebal.

Fika memiliki mata sipit karena absennya lipatan mata yang membuatnya sering disangka sedang sinis ketika melirik. Wajahnya memang wajah antagonis, apalagi ia sering mendesis. Padahal aslinya, ia sangat receh. Ia sering melemparkan lawakan, kemudian tertawa sendiri karena leluconnya. Berbeda dengan nyanyiannya yang merdu, suara tawanya menggelegar seperti gemuruh petir yang bisa membuat orang di sekitarnya terlonjak jika tidak mengantisipasi.

Keakraban kami baru terjalin ketika kami kembali bertemu di SMA. Kala itu, sekolah kami bermaksud untuk mengikuti lomba nasyid remaja tingkat kota. Ia langsung datang ke kelas saya, menghampiri saya, dan mengajak saya bergabung begitu saja, padahal kami belum pernah mengobrol sebelumnya.

Karena keseringan latihan bersama, kami pun lambat-laun menjadi akrab. Setelah lulus SMA, kami membentuk kelompok nasyid yang baru lagi. Kemudian, diajaknya saya untuk bergabung dengan sebuah manajemen nasyid NTT.

Fika adalah orang yang sangat bisa diandalkan. Mungkin karena ia adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Gadis yang lebih tua sepuluh bulan dengan saya itu, tidak bisa diam jika bertemu bayi. Seakan tangannya akan gatal-gatal jika ia tidak diizinkan menggendong anak bayi orang. Ia memiliki jiwa pemimpin, yang kemudian membuat saya memanggilnya, “Mak”. Dia pun sering memperkenalkan saya sebagai ‘anaknya.’

“Ini anakku, panggil saja dia Ir. Nak, kemarin Papamu dari Korea telepon, terus nanya, uang 1M yang ditransfer itu sudah masuk apa belum?”

Ya, dan kami memang doyan nge-halu bareng. Ceritanya, ia punya suami bernama Lee Min Ho yang memiliki kekayaan tidak terbatas dan puluhan department store yang tersebar di seluruh dunia. Dan saya adalah anak semata wayang mereka.


Itulah deret tujuh orang yang menjadi lingkaran terdekat saya sepanjang beberapa tahun belakangan. Tentu saja, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, beberapa di antara mereka sudah putus kontak dengan saya karena kesibukan mereka masing-masing.

6 thoughts on “Jalinan Itu (Pernah) Ada

  1. Membaca tentang Rifki jadi membayang Dilan yang usil tapi pintar.
    Tinggal di NTT ya? Ternyata di sana lumayan juga minat menjadi tenaga medis/ paramedis ya? Bidan, dokter dan analis.

    Like

    1. Iya, Mbak. Bedanya, Rifki bukan anak geng motor. Dia cuma bocah penggila sepak bola yang bucin sama pacarnya waktu SMA. Wqwqwq.

      Banyak kok, Mbak. Rumah sakit di sini juga banyak, tempat praktik pun menjamur. Ya meskipun beberapa operasi tertentu masih harus dirujuk ke Surabaya atau Makassar.

      Terima kasih sudah mampir, Mbak.

      Liked by 1 person

Comments are closed.