Categories
KETIK

Empat Huruf Legendaris

Di suatu petang yang tenang, ketika Mira sedang serius menekuri bukunya, ia dikejutkan akan kemunculan ketiga saudari kembarnya–Illa, Irma, dan Mila–yang datang-datang langsung melungsurkan kedamaiannya. Ketiganya menghempaskan diri di kursi-kursi yang melingkari meja. Illa bahkan sampai menggusur kaki Mira yang tadinya bertakhta santuy di atas sana. Lalu, terdengarlah obrolan ketiga cewek perusak kedamaian.

“Eh, kalian udah pernah nyoba tes MBTI, belum?” Lengkingan suara Illa mulai membuka obrolan.

Mata Mila membelalak antusias. “MBTI? Pernah, dooong. Ane dapat ENTP! Kece badai! Ente, Ir?”

“Saya ISFJ,” sahut Irma tenang.

“Ih, kamu orangnya kuno, sih. Enggak asik tahu, Ir! Aku doong, ENFP! Tipikal kyut. Uwu~ Oniichan!” Illa menampakkan cakar sok imut seolah ia adalah seekor meong betina unyu.

Mila menggeleng-geleng takzim, lalu berujar persis seorang shifu yang sedang berkhutbah. “Wahai Ananda. Jikalau engkau adalah seorang ENFP, dan Irma adalah seorang ISFJ, maka janganlah kalian berdebat. Sesungguhnya, kalian berdua sama saja karena sama-sama tapai basi. Lembek.”

Sebelah tangan Illa naik demi menoyor saudari kembarnya. “Ngaco deh, Oniichan.” Di detik itu ia menyadari eksistensi satu oknum yang cuma bungkam dengan raut suram, yang sedang sibuk memanggil konsenstrasi yang terpecah.

Bukannya sadar kalau dirinya mengganggu, Mila justru mencolek lengan Mira. “Kalau ente dapat apa di MBTI?”

Buku terkatup. Rahang Mira bergemelatuk. Ditatapnya intens satu per satu wajah pembawa keberisikan.

“Gue? Mau tahu, gue dapat apa?”

PRAK! Buku dalam tangkupan tangannya terbanting ke atas meja. Membuat tiga saudarinya terlonjak.

“GUE STMJ!” seru Mira emosi. Ia menghentakkan kakinya kesal, lalu berlalu dari sana seusai menarik kembali bukunya.

“Eh, si Mira marah, tuh.” Irma mengingatkan.

Mila ngakak. “Wakakaka~ dia mah kapan sih enggak marah-marah?”

Sementara itu, Illa justru berpikir keras. “Emang ada ya, tipe STMJ?”

Tawa Mila semakin keras. “Lho, ada, dong. Itu malah tipe paling genius!”

“Panjangannya apa?” tanya Illa polos.

“SUSU TELOR MADU JAHE!”

STMJ


Di internet, sudah bertebaran banyak tes yang mengkotak-kotakkan dan menggolongkan manusia ke dalam beberapa tipe. Sebagian dari kita mungkin pernah mengikuti tesnya, entah itu karena kepo, iseng-iseng berhadiah, atau karena pengin serius mengetahui potensi diri serta kelemahan dan kelebihan yang dipunyai berdasarkan tes-tes tersebut. Tidak heran jika kita tidak sengaja menemukan empat atau lima huruf ini tercetak pada profil atau bio orang sewaktu sedang blogwalking atau sedang membuka media sosial.

Dalam dunia psikologi sendiri, tes-tes seperti ini masuk ke dalam cabang psikologi yang bernama Psikologi Tipologi.

Hampir sama dengan saudaranya, yaitu Psikologi Kepribadian, psikologi tipologi menjelaskan berbagai kepribadian manusia berdasarkan tipologi atau tipe tertentu. Tipologi ini awalnya digagas oleh Hippocrates dan disempurnakan oleh Galenus. Tentu kita sudah akrab dengan empat tipe kepribadian versi Hippocrates, yang membagi manusia menjadi tipe Koleris, Sanguinis, Melankolis, atau Plegmatis. Nah, dari sana, psikologi tipologi mulai gencar dikembangkan lagi. Salah satunya adalah MBTI yang menggunakan standar penilaian yang sama dengan tipologi Keirsey, dan Carl Jung. Masih ada pula Sosionics, Enneagram, dan lain sebagainya, yang tesnya bisa dengan mudah kita temukan di internet.

Apa sih MBTI itu?

16 Kepribadian

MBTI adalah akronim dari Myers Briggs Type Indicator, indikator penilaian kepribadian yang dikembangkan oleh Katherine Cook Briggs dan putrinya, Isabel Briggs-Myers dengan menggunakan standar milik Carl Gustav Jung, yang menulis Psychological Types. Indikator penilaian dari Carl Gustav Jung juga yang membentuk tes tipologi David Keirsey. Maka, tidak heran jika banyak yang menggabungkan tipe Jung-Keirsey dengan Briggs-Myers ini, seperti yang bisa kita temukan dalam situs 16Personalities. Perbedaannya ada pada perumusannya, di mana tipologi Jung-Keirsey langsung memberi tahu jenis kemampuan manusia dari hasil tes mereka, sementara Briggs-Myers merumuskannya dalam empat huruf legendaris (yang dikembangkan menjadi lima).

Empat huruf yang dikenal dengan MBTI ini sudah viral di Indonesia sejak pertengahan dua ribu belasan. Bahkan, beberapa perusahaan menerapkannya sebagai tes untuk penerimaan karyawan, lho. Padahal, MBTI ini sendiri seringkali ditolak oleh beberapa kalangan klinis. Kata mereka, MBTI ini tidak lebih dari astrologi yang pura-pura diilmiahkan.

Selain karena bukan dibentuk oleh orang dari golongan ahli psikologi, parameter yang dijadikan alat ukur pun tidak baku, berhubung banyak sekali situs-situs yang menampilkan formulir tes-tes seperti ini dengan preferensi mereka masing-masing. Beberapa situs yang menyediakan tes MBTI hanya meletakkan 2 opsi pada kuisioner mereka. Padahal, fungsi yang dicari dalam MBTI itu bukan dikotomi atau pembedahan dua polar semata, melainkan fungsi-fungsi kognitif yang dimiliki setiap orang.

Ketidakakuratan MBTI juga dipengaruhi oleh mood seseorang. Banyak yang mengikuti tesnya dalam kondisi mood yang tidak stabil sehingga mempengaruhi hasil yang dicapai. Malah seringkali, beberapa orang menjawabnya sebagai ‘apa yang ingin mereka lakukan’, bukannya ‘apa yang seringnya mereka lakukan’, sehingga hasil tes tertentu bisa saja berubah kalau dicoba dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Tidak heran banyak yang seenaknya menafsirkan hasil yang mereka dapat.

Seperti Apa Indikator Penilaian MBTI?

Indikator penilaian MBTI pada dasarnya ada 4, yaitu:

Sumber Energi dan Pusat Perhatian: I/E (Introvert/ Extrovert)

Nah, ada banyak sekali kekeliruan dalam menilai introversion atau ekstroversion seseorang. Banyak orang menyatakan introver itu pemalu, pendiam, pasif, atau memiliki kemampuan sosial yang payah. Padahal, ada pula orang introver yang tidak terlihat seperti itu.

Fenomena banyak orang yang mengaku dirinya introver atau ekstrover seenaknya juga tidak terlepas dari propaganda kalau introver punya bibit psikopatik (sehingga banyak orang mengaku ia ekstrover), atau introver itu genius (sehingga banyak orang mengaku ia introver). Kenyataannya, introver-ekstrover tidak berkaitan dengan itu. Di antara keduanya, tidak ada yang superior atau inferior.

Ini bukan persoalan pendiam-cerewet, pemalu-pemberani, atau soal penguasaan kosakata. Introver dan ekstrover hanya bicara soal bagaimana seseorang memusatkan perhatiannya dan mencari energi serta ke arah mana energi itu tersalurkan. Jika manusia diibaratkan sebuah baterai, maka daya seorang ektrover akan terisi jika mereka melakukan aktivitas sosial, sementara seorang introver justru mengisi energinya dengan menyendiri.

Memahami informasi di luar: N/S (iNtuitive/ Sensing)

Orang intuitif memiliki imajinasi yang bagus. Mereka cenderung mampu menyusun visi dan hidup demi masa depan. Imajinasi dan visi merekalah yang menentukan bagaimana mereka menjalani hidup. Ketika ada sebuah informasi disodorkan padanya, mereka akan mulai merajut setiap kemungkinan yang terjadi. Tidak heran jika banyak tokoh detektif seperti Sherlock Holmes, atau ilmuwan seperti Albert Einstein yang masuk dalam kategori intuitif.

Sementara itu, orang sensorik hidup untuk saat ini. Mereka cenderung realistis menghadapi kenyataan, dan memanfaatkan pengalaman sebagai sumber informasi. Makanya, banyak orang sensorik yang terlihat seperti bank data atau kamus berjalan. Karena mereka menyerap informasi dari apa yang pernah mereka lihat atau alami, merekamnya, kemudian memanfaatkannya sebagai penentu dalam mengambil keputusan.

Indikator menarik simpulan: T/F (Thinking/ Feeling):

Untuk poin ini, ada beberapa salah kaprah yang tersebar seperti halnya indikator pertama tadi. Para Thinker seringkali diterjemahkan secara harfiah sebagai pemikir, sedangkan Feeler dimaknai sebagai perasa. Seolah-olah orang Thinker kaku dan tidak punya perasaan, sementara orang Feeler tergolong bodoh serta gegabah karena otaknya kosong dan lebih mementingkan sisi perasanya.

Sebagaimana nama indikatornya, Thinker dan Feeler lebih tepat diasosiasikan dengan bagaimana seseorang bisa mengambil kesimpulan. Orang Thinker lebih sering menerima penjelasan yang masuk akal, dan Feeler senang mencari sisi emosional dan mempertimbangkannya untuk mengambil keputusan. Orang Thinker juga lebih sering terfokus pada tujuan dari segala sesuatu, sementara orang Feeler lebih memusatkan diri pada maknanya.

Pola hidup: J/P (Judging/Perceiving):

Apakah kamu seseorang yang terstruktur atau tipe berantakan? Secara dangkal, kita bisa melihat kamu tipe yang mana dari sini.

Orang Judger cenderung suka pada sebuah rutinitas dan kesulitan jika ada perubahan yang melintang di depannya. Bahasa lainnya, mereka orang-orang yang senang pada kestatisan dan kejelasan sesuatu. Mereka tidak suka digantung atau diberikan posisi yang ambigu. Hidupnya terjadwal, teratur, berlangsung dalam irama konstan, dan mereka menikmatinya.

Berbeda dengan orang Perceiver, yang cenderung berantakan, tipikal berpaham let it flow, dan cepat bosan. Mereka juga tidak serta-merta menarik kesimpulan sebelum semuanya terjawab, karena lebih terbuka pada perubahan-perubahan. Orang-orang seperti ini mencintai kebebasan dan melihat rutinitas sebagai kekangan yang membosankan.

Meski demikian, manusia terlalu komplit untuk diterjemahkan dalam dikotomi I/E, S/N, T/F, atau P/J semata. Dalam beberapa tes MBTI, seringkali kita temukan persentase yang tidak jauh berbeda dari dua opsi pada masing-masing indikator. Maka dari itu, belakangan ada tambahan indikator lagi dari 16personalities:

Konsistensi dan penyesuaian diri: A/T (Assertive/ Turbulent)

Persentase hasil antara fungsi F/T atau P/J menjadi sangat berkaitan dengan indikator ini. Mereka yang memiliki kesenjangan yang cukup jauh antara hasil F dengan T, atau P dengan J cenderung lebih konsisten, sehingga mendapatkan kodifikasi A di ekor MBTI. Sementara itu, mereka yang memiliki hasil tidak terlalu jauh, seperti misalnya 54%:46% atau yang sejenis itu, lebih mampu menyesuaikan diri.

Hal ini tergantung dari opsi yang dipilih sewaktu mengerjakan tes. Tentu kalian melihat ada gradasi pilihan yang bermula dari sangat sering, sering, rata-rata, jarang, dan sangat jarang, atau sangat setuju, setuju, rata-rata, tidak setuju dan sangat tidak setuju, bukan? Nah, inilah yang menjadi poin penilaian dari indikator A atau T.

Fungsi Kognitif MBTI

Selain bisa dicerna dengan indikator di atas, MBTI juga mampu memberikan kita gambaran akan fungsi kognitif yang kita miliki. Inilah yang jarang diketahui oleh kebanyakan orang dan membuat mereka keliru dalam menilai diri mereka sendiri. Mereka lebih sering terpusat pada dikotomi dua polar manusia seperti Introver atau Ekstrover dan seterusnya, tapi mengabaikan fungsi-fungsi yang terselip di dalamnya. Padahal sebetulnya, justru ini yang menjadi poin terpenting dari tes kepribadian Jungian (Keirsey maupun MBTI).

Di sini, kita akan berkenalan dengan beberapa fungsi kognitif, yaitu sebagai berikut:

Fungsi Pengamatan (bagaimana kita memusatkan perhatian dan mengumpulkan informasi)

Ne (Extroverted Intuiting) – seperti dimensi waktu dan tempat dalam dirinya, dengan sejumlah kemungkinan dalam eksistensinya. Pada tahap penggunaan dasar (pasif), seorang Ne memperhatikan pola-pola abstrak dalam kehidupannya, yang jika dikembangkan akan bisa menggeser dinamika situasi dan mengeksplor kemungkinan potensial yang imajinatif.

Ni (Introverted Intuiting) – seperti batu ramalan, sebab bisa mendeteksi dan mampu menyatakan apa yang bakal terjadi. Seorang Ne menerima wawasan dari imajinasi mereka, yang kemudian terlihat seperti ia pandai membaca orang lain.

Se (Extroverted Sensing) – seperti sebuah kamera, ia merekam segala di sekelilingnya bahkan sampai hal-hal kecil, semua hal detail. Tipe Se memperhatikan data-data yang ia miliki dan memanfaatkannya untuk melakukan tindakan yang relevan dengan momen dan konteks yang terjadi.

Si (Introverted Sensing) – seperti sebuah kalkulator, ia memiliki semua info yang dibutuhkan yang tersimpan di dalamnya, dan ia mengingat info tersebut. Tipe Si mengingat data dan pengalaman nyata. Dalam kondisi yang sudah dikembangkan, mereka mampu menstabilkan situasi dengan membandingkannya terhadap apa yang diharapkan dan diketahuinya.

Fungsi Penilaian (bagaimana kita mengatur pengalaman kita dan membuat keputusan)

Fe (Extroverted Feeling) – seperti rumah sakit, ia peduli akan mereka yang sakit, dan memenuhi apa yang mereka butuhkan, serta melupakan kebutuhan sendiri karena disibukkan oleh kebutuhan orang lain. Tipe Fe sangat menghormati keputusan dan preferensi orang lain. Dalam tahap yang dikembangkan, mereka seringkali terhubung dengan orang lain dan membagikan nilai-nilai mereka.

Fi (Introverted Feeling) – seperti sebuah kompas, ia membimbing kita ke jalan yang benar dan mengoreksi arah yang salah.

Te (Extroverted Thinking) – seperti sebuah kantor, karena ia terorganisir dan memberitahu pada semua orang apa yang harus diselesaikan. Tipe Te mematuhi langkah, poin, dan perencanaan mula-mula. Jika dikembangkan, mereka mampu membuat struktur dengan tindakan, alasan, dan bukti, dan merancang rencana yang rumit.

Ti (Introverted Thinking) – seperti sebuah laboratorium sains, sekali sebuah eksperimen dilakukan, maka ia dapat menganalisa hasilnya dengan baik. Mereka menganalisis masalah menggunakan kerangka kerja dan menemukan metode dan solusi untuk menyelesaikannya.

Pada umumnya, seorang individu memiliki 8 fungsi kognitif yang didahului dengan 4 fungsi utama. Yang membedakan antara tiap-tiap orang adalah urutan serta kesadaran dan preferensi masing-masing orang yang berbeda-beda, sehingga kadarnya pun ikut berbeda.

Urutan Fungsi Kognitif MBTI

Urutan fungsi kognitif ditentukan sebagai berikut:

Fungsi Dominan -> yang digunakan semua orang sejak kecil secara sadar.

Fungsi Sekunder -> (auxilliary), yang baru mulai aktif digunakan secara sadar ketika remaja-dewasa. Aktifnya fungsi ini biasanya menunjukkan kedewasaan seseorang.

Fungsi Tertiari -> fungsi yang lebih bawah sadar lagi dari fungsi sekunder, katanya sih setelah umur 40-an baru mampu dikontrol/ dimanfaatkan/ digunakan secara sadar.

Fungsi Inferior -> fungsi yang paling tidak sadar digunakan oleh seseorang. Bisa dibilang, ini adalah fungsi yang sifatnya paling kekanak-kanakan. Mungkin kita tidak pernah menggunakannya secara penuh seumur hidup kuta. Fungsi ini biasanya muncul dalam bentuknya yang paling buruk ketika seseorang merasa stres, lelah, baik fisik maupun mental.

4 Fungsi Kognitif Awal MBTI

Dan inilah 4 fungsi kognitif awal berdasarkan masing-masing tipe MBTI:

INTP – Ti > Ne > Si > Fe

ISTP – Ti > Se > Ni > Fe

ENTP – Ne > Ti > Fe > Si

ENFP – Ne > Fi > Te > Si

ISFP – Fi > Se > Ni > Te

INFP – Fi > Ne > Si > Te

INTJ – Ni > Te > Fi > Se

INFJ – Ni > Te > Ti > Se

ESTJ – Te > Si > Ne > Fi

ENTJ – Te > Ni > Se > Fi

ESFJ – Fe > Si > Ne > Ti

ENFJ – Fe > Ni > Se > Ti

ISTJ – Si > Te > Fi > Ne

ISFJ – Si > Fe > Ti > Ne

ESTP – Se > Ti > Fe > Ni

ESFP – Se > Fi > Te > Ni

Perbedaan Pendapat antara Jung dan Myers

Ada perbedaan antara pandangan Carl Jung dengan Myers dalam menyikapi fungsi inferior (yang berada di ujung empat fungsi di atas). Carl Jung berpendapat, sebaiknya kita tidak mencoba menggunakan fungsi inferior secara sadar, karena hanya dengan tak sadar kita bisa menjaga arketipe yang bersifat sadar. Sementara menurut Myers, kita harus mengenal dan malah melatih fungsi inferior kita, karena fungsi itu bagaikan gerbang menuju pikiran tak sadar kita. Dengan fungsi inferior, kita dapat membangkitkan 4 fungsi lain yang tersisa.


Jadi, MBTI lebih kompleks daripada sekadar pemahaman dangkal serupa introver atau ekstrover, perasa atau pemikir (sumpah kalau masih ada yang berpikiran feeling dan thinking sehambar ini, akan sangat-sangat lucu), dan seterusnya. Terlepas dari penolakan banyak kalangan akan keakuratannya, MBTI adalah tentang bagaimana seseorang menyadari kelebihan dan kekurangan mereka, mengoptimalkan penggunaan fungsi kognitif, dan belajar untuk mengembangkannya. Tidak ada tipe yang lebih superior dibandingkan yang lainnya. Karena semua manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Nah, berdasarkan penjelasan di atas, lima huruf yang manakah kamu?

By celestilla

a freethinker who always strives to writing and writing to keep her head clean

6 replies on “Empat Huruf Legendaris”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s