Selamat Tahun Baru 2020, Haholongan

“Selamat tahun baru 2020, Haholongan,” kata Bella. Tangannya mengusap lembut tanda salib di hadapannya.

Pict. Pint

Tangan indahnya memasukkan bunga-bunga indah ke dalam vas bunga, perpaduan bunga krisan putih dan mawar kuning. “Bunga-bunga ini, bunga yang Haholongan suka. Hari ini aku merangkainya menyambut tahun yang baru ini. Krisan putih, bunga sederhana namun memikat. Mawar wangi yang selalu Haholongan puji.”

Hari pertama tahun 2020. Hal pertama yang dilakukan Bella adalah pergi ke makam Adi. Adi, suaminya yang telah meninggalkannya November kemarin. Belum satu tahun mereka bersatu dalam bahtera rumah tangga tetapi ternyata takdir tidak berpihak kepada mereka. Dua minggu menjelang ulang tahun pernikahan yang pertama dan Adi berpulang, tanpa pesan tanpa keluhan apa-apa sebelumnya.

Pagi itu, seperti biasa Adi berangkat kerja. Bella masih memberangkatkan seperti biasa dan Adi mencium keningnya. Semua berjalan seperti biasa tanpa ada pertanda apapun sebelumnya. Sendiri di rumah, Bella pun mengerjakan pekerjaan rumah. Tak terasa siang menjelang dan ponsel Bella berdering, ajakan dari seorang teman dari gereja yang menyuruhnya berkemas karena mereka harus berangkat ke rumah sakit. Bella pun berkemas tanpa banyak tanya, karena memang selama ini dia sering bersama teman tersebut melayani dengan mengadakan kunjungan ke sesama yang sakit. Tak berapa lama teman tersebut sudah sampai di rumahnya dan mereka langsung berangkat.

Begitu sampai di rumah sakit, Bella sempat heran karena banyak sekali orang yang dia kenal berada di sana. Dan semua menatap kepadanya dengan wajah sedih. Beberapa di antaranya ada yang menangis. Dia pun heran dan bertanya siapa sebenarnya yang mereka besuk kali ini. Saat dia bertanya, mereka hanya diam tetapi air mata mereka semakin deras. Saat itu Bella sudah merasa curiga. Apalagi kemudian mereka membawa dia bukan ke ruang perawatan seperti biasa bila mereka mengadakan kunjungan pelayanan. Tetapi mereka menuju ke kamar jenazah. Sesampai di kamar jenazah mereka menuju satu sosok yang telah terbujur kaku di sana telah tertutup kain putih. Seorang ibu yang sering bersama Bella dalam pelayanan pun memeluknya sambil menangis dan mengatakan, “Bella, kamu kuat ya Boru, Adi telah senang bersama Bapa di surga.”

Ibarat mendengar petir di siang bolong, saat itu Bella hanya terdiam. Diam, tak bisa berbuat apa. Dia tidak bisa berpikir, tidak bisa bergerak, Bella shock. Sampai akhirnya Bella histeris dan menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Bella berlari menuju tubuh itu dan menyibakkan kain yang menutup wajah. Dan itu adalah Adi, suaminya yang tadi pagi berangkat bekerja dengan sehat. Menurut pemeriksaan medis, Adi kena serangan jantung.

Bella linglung dan sempat pingsan. Dia tidak sanggup menerima apa yang terjadi. Prosesi demi prosesi sampai pemakaman dilewati Bella dengan pikiran nyaris kosong. Bella memang ada di sana tetapi hanya raganya. Jiwanya belum menerima, pikirannya belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Satu hari setelah pemakaman, Bella baru tersadar bahwa ternyata Adi sudah tiada. Saban hari dia menangis. Saban hari pergi ke pemakaman. Menangis dan berbicara sendiri seolah sedang berbincang dengan Adi.

Bella pun melalui hari-hari berat. Setiap hari memiliki kenangan. Setiap hari medsos pun memunculkan kenangan demi kenangan mereka. Tak terhitung berapa banyak sudah air mata yang terbuang. Banyak yang menguatkan, setiap hari pasti ada saja temannya dan teman Adi yang menyapa dan memberi kata-kata penghiburan. Mereka berdua adalah sosok yang aktif dalam pelayanan dan kepemudaan sehingga mereka memiliki banyak teman termasuk dari lingkungan gereja. Beruntung Bella memiliki teman-teman rohani yang selalu menguatkan dan bahkan sering menemani Bella ke pemakaman. Tetapi bagaimanapun, Bella adalah manusia biasa. Tak semudah itu menghapus kesedihan yang ada. Air mata masih menemani dalam hari-harinya, membasahi bantal setiap malamnya.

Haholongan, aku sangat mencintaimu dan jujur, sampai saat ini aku tetap berharap dirimu kembali. Setiap saat aku ke sini dan berharap ini hanya mimpi. Terkadang aku hampir marah kenapa kehidupan begitu kejam kepadaku. Bahkan, aku nyaris menyalahkan Tuhan, menganggap Tuhan tidak adil karena telah mengambilmu dariku. Untung aku ingat bahwa dirimu selalu mengatakan bahwa jangan pernah menyalahkan Tuhan. Tuhan tidak pernah memberi beban melebihi kekuatanku. Tuhan punya rencana untuk setiap orang percaya. Haholongan, kamu adalah orang baik. Tuhan telah memanggilmu dan aku percaya Tuhan telah memberimu tempat yang indah di sisi-Nya.” Bella menaburkan bunga sambil terus berbicara.

Haholongan, aku memang belum bisa menghilangkan kesedihan ini. Tapi aku harus bangkit. Hari ini hari pertama tahun ini, aku memutuskan bahwa aku tak boleh larut dalam kesedihan akan kehilanganmu. Aku harus bangkit, aku harus menjalani hari-hariku kembali dengan hal yang bermanfaat. Aku tahu, kalau dirimu pun menginginkan aku kembali menjadi diriku yang dulu. Tidak berurai air mata sepanjang hari. Haholongan, mungkin aku tidak akan bisa sesering ini lagi datang ke tempat ini. Tapi percayalah, hatiku selalu untukmu.” Bella menaburkan bunga terakhir yang ada dalam keranjangnya. Mengusap air mata yang dari tadi mengalir deras. Perlahan dia bangkit dan mengelus kembali tanda salib yang terpancang pada makam. Bella pun mengecup tanda salib itu dengan lembut sambil menutup mata. “Aku sudah iklas Haholongan, tenanglah bersama Bapa di Surga.”

Bella berdiri, menatap dan mengelus kembali tanda salib itu.

“Aku pulang Haholongan …”

Gassmom-
Pematangsiantar, 010120

Cat. Sebuah cerpen dalam rangka mengerjakan #ketik10 yaitu membuat sebuah tulisan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal.

Haholongan: kekasih, sayang
Boru: panggilan kepada anak perempuan

Advertisement

12 thoughts on “Selamat Tahun Baru 2020, Haholongan

  1. Kehilangan orang terkasih dan terdekat tentu menyisakan rasa kehilangan yang amat sangat. Tetapi hidup harus terus berjalan. Tinggal doa yang mampu dipanjatkan untuk kebaikan Haholongan. Semoga damai di alam sana. Karena Tuhan telah menghendakinya pulang.

    Cetanya sangat menyentuh, Ito. Walau dengan gaya bercerita yang apa adanya. Menggunakan sudut pandang orang ketiga memiliki kelebihan untuk menceritakan karakter tokohnya lebih bebas.

    Hanya sedikit saja typo. Pada kata zenajah. 😀
    Selamat, sudah menyelesaikan KETIK#10. Ayuk kita balapan di KETIK#11, Ito. Hehehe.

    Selamat Tahun Baru 2020.

    Liked by 1 person

Comments are closed.