Pelajaran : Sebisanya, Senangkepnya

puzzle via pixabay

Mengetahui Ketik#11 ini bicara soal pelajaran apa yang bisa didapat semenjak berada di Ikatan Kata, saya jadi ingat Mbak Nik yang suka bilang ‘Ada pelajaran apa?’ pas belajar ghorib waktu ngampus dulu. Haha. Tentu saja jawaban untuk Mbak Nik mudah. Kalau tidak soal ana; anaabaa, anaabuu, anaasiyya, al anaamila, ya paling isymam atau saktah atau kawan-kawan ghorib lainnya. Tapi, untuk pelajaran apa yang ada di Ikatan Kata, saya perlu berpikir keras sebelum menjawab. Pasalnya, ini sangat personal. Setiap anggotanya pastilah berbeda penangkapan. Saya begini, eh yang lain beginu. Kadang yang lain beginu, saya malah begunu.

Saya agak minder ketika Mas Fahmi sudah posting duluan dengan tulisannya yang ketjeh sekaligus kontemplatif dalam Ketik#11 ini. Rasanya tulisan tersebut isinya cuma menyinggung saya yang typo-an dan lupaan sama PUEBI. Huft. πŸ˜›

Omong-omong pelajaran yang saya dapat selama di Ikatan Kata ada dua tipe : pertama, soal tata bahasa dan gaya bahasa. Bagi saya ini sifatnya sekadar mengulang dan mengingatkan saja. Seperti alarm. Cocok untuk saya yang suka amnesia sama peraturan. (Memang lebih seru bikin aturan sendiri, sih.)

Lalu tipe pelajaran kedua yang saya dapat adalah yang sifatnya lebih halus. Seperti memahami orang lain, menghargai orang lain, mengapresiasi karya orang lain, bahkan bagaimana berbasa-basi dan mengobrol asyik dalam grup. πŸ˜ƒ Jujur, saya melihat para anggota Ikatan Kata ini seperti saya melihat teman sebaya saja. Seperti teman ngampus yang kalau kelas kosong kami bakal nongkrong sambil ngemil. Sesekali ngobrolin hobi (buku, anime), sesekali ngomongin kehidupan (masa depan, cita-cita, dan kejayaan), kadang juga sok-sokan mengkritik pemerintah bilang mereka kurang maslahat, kurang ngaji, gak paham maqoshid syariah, AMDAL amburadul, study feasibility memihak kapital, investasi tahi kucing dan segudang istilah darah muda lainnya. 😌

Tapi, pada kenyataannya anggota Ikatan Kata itu bermacam-macam. Khususnya dalam hal usia. Ada yang masih remaja, ada yang masa quarter life, ada yang sudah dewasa dan berkeluarga, bahkan ada yang sudah usia 40an seperti MasHP. πŸ™ Rasanya kalau ingat hal ini saya jadi berpikir, apakah saat chat di grup WA kata-kata saya sudah patut? Jangan-jangan gak sopan. Jangan-jangan angkuh. Jangan-jangan menyakiti. Jangan-jangan saru. Lagipula, meski kita dipersatukan dengan satu hal yang sama, yaitu blog dan aktivitas menulis, tetap saja yang namanya ngobrol di grup pasti seperti ngobrol biasa. Hangat dan mengalir. Tidak seperti saya yang cenderung dingin dan mampet. Huft. Apalagi saya tipe yang kalau menarik bakal nimbrung, kalau tidak ya sebodo lah. πŸ˜’πŸ˜’

Dalam chat saya perhatikan : ada yang suka menyapa, ada suka jawab sapaan. Ada yang suka mancing-mancing obrolan, ada yang suka dipancing-pancing seperti doski yang gak peka. Ada yang suka ngasih sesuatu informasi, ada yang lebih suka dikasih saja. Ada yang cair bicara apa saja, ada yang kaku seperti habis kepergok selingkuh. Ada yang aktif terus, ada yang macam si unyil : nongol-ilang. Ada yang begini, ada yang begitu. Lengkap. πŸ˜ƒ

Lalu soal Ketik sendiri, cukup menarik untuk ditunaikan. Pasalnya selain dia jadi hantu yang bakal menggentayangi setiap kalian yang sibuk dengan muamalahnya di dunia nyata, Ketik juga efektif sebagai pereda stres atau pemantik ide dan semangat menulis. Kalau saya, sesekali Ketik bisa menjelma anak gang sebelah yang resek dan hobi ngajak rusuh, adakalanya juga bak kocheng manja yang mengeong minta digelindingin bola benang rajut. Ketik yang paling bikin babak belur versi saya adalah pas blogwalking itu. Rasanya seperti diteror dengan pertanyaan kapan nikah saja. Lelah. Tapi, begitu selesai rasanya lega sekali. Dan rasa lega itu ternyata nagih ketika Ketik berikutnya turun. Jadi, bisa dibilang mengerjakan Ketik itu seperti tawuran sama anak sebelah, tapi pas azan magrib langsung mushafahah lalu bukber bareng. πŸ˜‚

Kembali ke soal pelajaran apa yang sebisa-bisa saya dapat, sulit untuk menjelaskannya. Dari sekian Ketik, termasuk rasa dalam mengerjakannya dan dari sekian interaksi dalam grup WA, termasuk sikap dalam menjalaninya, hal-hal dalam berkegiatan bersama menyatu dengan hal-hal yang saya punya. Bertambah wawasan, pasti. Bertambah teman, tentu saja. Bertambah semangat dalam menulis, apalagi. Tapi, itu semua seperti pelajaran samar. Bukan seperti waktu dulu SMP/ SMA. Kita duduk di bangku dengan gelas kosong di tangan hingga sang guru menjelaskan perbedaan penggunaan di sebagai awalan atau di sebagai proposisi dan saya manut. Bukan. Melainkan sesuatu hal yang samar seperti recalling. Yang jelas, kehadiran Ikatan Kata telah menangkal rasa sepi, rasa sendiri, rasa malas menulis, dan rasa-rasa negatif lain yang sulit dibahasakan. Ikatan Kata ini sungguh bermakna. Kendati ada satu-dua hal yang berbeda untuk saya, tapi sisanya lebih banyak mengasyikkan. πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Saya senang menjadi bagian Ikatan Kata. Salut dengan kalian yang punya banyak wawasan, ketertarikan, keterampilan, bakat, karya, bahkan pesona. Saya mau minder takut dibilang blagu, tapi mau songong kok juga gak sampai. Ya sudah. Saya makan es krim sajalah. 🍧🍧

Oiya, mumpung ini edisi setengah curhat, saya ucapkan terimakasih banyak untuk kalian semua. Terutama untuk yang jadi penyangga berdiri dan berjalannya Ikatan Kata, MasHP dan Mas Fahmi, terimakasih untuk waktu dan tenaganya mengurus progres kami. Meski ada beberapa yang harus keluar, tetap semangat! Jaga kesehatan dan kewarasan. Jangan sampai ada kontroversi ketentraman. Mari kita ketjeh hari ini untuk nanti. Haha. 😁😁

9 thoughts on “Pelajaran : Sebisanya, Senangkepnya

  1. Kamu ketjeh sekali, Mul.

    Senang mendengarmu bisa mendapatkan manfaat dari Ikatan Kata. Tentu kehadiran Sang Pendekar Mul dari Pangandaran melengkapi keragaman ‘mahkluk-mahkluk’ penghuni Ikatan Kata.

    Sedikit koreksi :
    ituΒ  bermacam-macam (lebih 1 spasi di antara kata ‘itu’ dan ‘bermacam-macam’

    Like

  2. Jangan minder atuh, Teteh Mulya. Kamu teh hebat. Masih muda dan langkahmu masih puanjang. Seumuran kamu aku belum bisa menulis blog. ( haha, zaman old soale ). Semoga di Ikatan Kata Teteh benar-benar mendapatkan pelajaran yang berguna. Aku juga, merasa di IK ini sebagai keluarga baru. Tidak merasa sendirian lagi.

    Terus menulis ya, Teh. Jangan keseringan ngumpet di grup WA ya? πŸ˜€

    Liked by 1 person

    1. Waaa matur suwun MasHp. Ini masih butuh jam terbang sama pengalaman. Belum apa-apa.

      Siaap. Semangat menulis. πŸŽ‰πŸŽ‰ Gak apa-apa ah, ngumpet. Kan saya pemalu hehe 😜😜

      Like

Comments are closed.