Sisanya Soal Rasa

soal rasa

Insiden ketiga akan terjadi beberapa saat lagi dalam cerita ini.

Hari itu Sabtu sore, ketika Ai pergi ke suatu tempat ke salah satu sudut kotanya yang ia senangi; tanah kelahirannya yang ramai. Mendung terlihat menggantung tebal-tebal di seluruh langit. Andaikata mendung tak setebal sore itu, mentari senja tentu akan terlihat di barat, menyembul di atas jembatan, tempat kereta malam lewat. Gerimis yang tersisa, setelah hujan lebat mengguyur sepanjang siang, terlihat seperti jarum-jarum emas melayang jatuh di bawah lampu jalanan. Jalan-jalan aspal yang bersih itu terlihat mengilap, memantulkan sinar-sinar lampu toko-toko dan rumah-rumah makan.

Ketika itu Ai seorang diri, hanya berteman dengan kameranya, sedang asik berjalan di tepian trotoar ketika ia melihat di kejauhan, di pinggir jalan, di bawah sinar lampu, seorang gadis sedang duduk melamun di atas kursi beton yang pucat. Dari gaya duduknya dan caranya memandang ke seluruh kota itu, Ai tahu kalau gadis itu adalah seorang penulis. Ia sampai pada kesimpulan bahwa, gadis itu lebih dari seorang yang memburu tempat-tempat hanya untuk Instagram-nya.

“Very interesting!” katanya dalam hati.

Seketika Ai pun tergoda untuk mendekatinya.

Gadis itu, seperti yang kalian duga, outfit-nya seperti kebanyakan gadis di generasi sekarang, seperti yang sudah jamak kalian temui; Gadis berjilbab dengan stelan kaos atau sweater dan mengenakan jeans. Bagi Ai gadis ini memiliki sisi yang menarik.

“Gadis ini pintar,” kata Ai dalam pikirannya.

Ia berkesimpulan gadis ini pintar hanya dengan melihat cara gadis itu memilih pakaian yang pas dengan parasnya. Gadis itu tidak mengenakan kaos dan jeans yang ketat yang senantiasa memperlihatkan lekuk tubuhnya. Bagaimana ia tahu, kalau gadis itu sengaja memilih outfit yang seperti itu bukan karena sebuah kebetulan? Hanya Ai dan Tuhan yang tahu.

Ai berjalan mendekat dan langsung memilih duduk di kursi beton lain berjarak satu meter dari tempat gadis itu duduk melamun. Begitu aman, ramah dan damainya kota, gadis yang menurut Ai pintar itu tidak menyadari kehadiran seseorang di dekatnya. Ia tidak perlu begitu cemas.

“Tempat yang menarik,” kata Ai memulai basa basi.

Ai memandang ke arah yang sama ke arah apa yang sedang gadis itu pandangi.

“Tempat yang damai dan sangat menenangkan. Orang-orang terlihat sangat bahagia dan penuh dengan hal positif,” kata gadis itu mengungkapkan pandangan pribadinya tanpa menoleh kepada siapa ia berbicara.

“Bukan hanya terlihat,” Ai menggumam seperti kepada dirinya sendiri “Tetapi memang faktanya begitu.”

Seperti ada sebuah magnet, kedua anak muda itu saling bertatapan di detik yang sama.

Ai tersenyum, “Orang-orang di sini bahagia dan mereka yang beraura negatif tidak akan bertahan di tempat ini.”

Gadis itu tersenyum, seperti sependapat dengan kata-kata Ai. Matanya berkilat-kilat seperti bintang timur.

“Selamat datang di kota kami yang indah,” Ai melebarkan senyumnya

“Terima kasih kamu telah menyambutku dengan ramah,” jawab si gadis dengan senyum indah, seindah mawar yang merekah di pagi hari; sejuk oleh titik-titik embun.

Cerita selengkapnya bisa di simak dalam Rumput Musim Semi di tautan berikut ini. Klik di sini


Note: tulisan ini aku persembahkan untuk memenuhi activity di ketik10 dari Ikatan Kata. Seperti yang kita ketahui, ketik10 merupakan materi tentang POV (Point Of View); sudut pandang penceritaan. Dalam tulisan ini saya memakai sudut pandang penceritaan orang ketiga yang serba tahu.

Sebetulnya tulisan ini adalah modifikasi dari cerita lama yang sudah saya tulis di blog jejakandi. Di cerita lama yang lebih lengkap, saya menceritakannya dengan sudut pandang orang pertama. Jadi ini semacam versi lain dari cerita itu. Jadi versi manakah yang lebih nendang, versi pertama yang berantakan karena itu draft pertama atau kedua yang diberi sentuhan baru?

Ketika hendak bercerita, seorang penulis terkadang seringkali bimbang untuk memilih sudut pandang penceritaan. Sebaiknya sudut pandang manakah yang dipakai untuk bercerita kali ini. Sudut pandang yang digunakan akan memengaruhi suatu cerita, itu jelas. Jadi manakah yang lebih baik? Sudut pandang orang pertama atau orang ketiga atau bahkan sudut pandang orang kedua? Semuanya ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sebagai penulis, seseorang harus cermat dan dituntut bisa menggunakan berbagai sudut pandang penceritaan. Semakin lihai dan semakin pintar seseorang dalam mengolah sudut pandang, maka tulisannya tentu saja akan semakin berkualitas, semakin dalam dan semakin bermakna. Sisanya adalah soal rasa.

15 thoughts on “Sisanya Soal Rasa

  1. Gayanya indah. Kirain bakal nulis cerita yang agak depresif/ murung seperti image (bacaan saya aja sih) di blognya.

    Btw, dialog tag, Mas Andi.

    Like

      1. Penjelasan di akhir dialog. Kata, ucap, jelas, sambung, tutur, pungkas, teriak, umpat, dkk. Hurufnya kecil. Kecuali dialognya nanya atau teriak2, pakai koma di akhir sblm petik. Bukan titik.

        Like

      2. Bukan kitab yang ditulis Mpu Tantular, yang lain yang ditulis oleh pendekar dari Desa Hujan. 😁

        Oh iya, setelah tak cermati, dialog tagnya masih keliru. Ah cuma huruf kapitalnya aja… Gak banyak yang tahu. Tapi terima kasih Mbak Mul… Kamu memang gini 👍👍👍

        Liked by 1 person

  2. Mendung, gerimis, tanah kelahiran dan sepasang muda-mudi. Sebuah setting yang romantis. Apakah ini awal dari pertemuan gadis dan Ai, sebelum menjalani kisah cinta yg seringkali penuh liku?
    Coba nanti tak baca versi lengkapnya.
    👍Rapi tulisannya, mas Ndobos.

    Like

    1. Penulisnya bilang sama aku begini: “Kurasa aku tidak perlu memverifikasinya, biarkan pembaca punya khayalan dan tafisrnya sendiri. Mereka berhak untuk itu.”

      Itu Mas Heri yang dikatakan penulisnya.

      Okesip, boleh dibaca sepuasnya. Masih gratis. 😁

      Liked by 1 person

Comments are closed.