Semesta Lain di Warung Kopi: Sebuah Latihan Menulis Preposisi

Sebenarnya saya kurang tahu alasan dari semua ini, tapi agaknya ini penting: mayoritas pengelola bisnis Warung Kopi a.k.a Warkop, atau jika di Yogyakarta disebut Burjo, adalah orang-orang yang berasal dari dataran Sunda – atau sekurang-kurangnya, memiliki kelindan kekeluargaan atau sejenis relasi kolega tertentu dengan orang-orang Sunda. Para pengelola ini akan disapa oleh pembelinya dengan Aa’, Akang atau Teteh.

Mahasiswa dan sebagian masyarakat working class – sebagaimana klasifikasi yang dibikin orang-orang dengan analisis Marxian – menggantungkan hidup mereka pada Warung Kopi dan Burjo ini. Pada dasarnya, kita tahu bahwa Warung Kopi tak semata menjual kopi sebagaimana Warung Burjo tak semata menjual bubur kacang ijo. Warung Kopi yang dikelola kebanyakan orang-orang Sunda ini adalah satu semesta tersendiri yang memiliki konstelasi mulai dari kopi, minuman manis, sampai susu saset; teh mulai kelas Sariwangi sampai ada yang berani mematok Tong-Tji, bibitan, atau teh-teh lokal lainnya; bubur kacang ijo dengan ketan hitam sebagai variannya; serta bubur ayam, baik dengan sajian selengkap penjaja bubur ayam konvensional atau sekadar bubur nasi-ditaburi suwiran ayam-dibalur kecap tanpa kira-kira-ditaburi daun bawang-disiram kaldu-ditutup dengan kerupuk.

Sekali lagi, saya kira Warung Kopi di kebanyakan sudut-sudut kota adalah semesta tersendiri. Model bisnis semacam ini barangkali identik dengan daerah Jabodetabek dan sekitarnya, Yogyakarta, namun saya kira tidak banyak ditemui di kota Malang – kecuali dinamai dengan Warung Kayungyun. Konon, beberapa daerah membuat semesta tersendiri soal warung kopi dengan konten menu yang benar-benar berisi kopi sebagai panglima, dan kudapan lain sebagai pion-pionnya saja.

Pada Tuhan belaka kita bersyukur bahwa dengan model bisnis yang nyaris identik di banyak tempat, perut dan dahaga kita mendapat anugerah dari-Nya. Ke mana lagi mahasiswa ingin menyeruput kuah mie rasa ayam bawang yang beda dengan mie yang mungkin bisa dibikin sendiri di kontrakan mereka. Di mana lagi para kelas pekerja menghempaskan lelah sebelum tiba di rumah atau menutup malam-malam mereka selain ngelangut, memandang kosong televisi Aa’ warkop yang dominan memilih kanal siaran audisi dangdut – karena dangdut koplo mungkin bukan selera orang-orang Sunda, saya kurang tahu.

Mungkin ini kedua kalinya saya merapat ke warkop kesayangan di minggu ini. Biasanya, konon lebih sering. Segala rutinitas akhirnya pun bisa bikin lupa bahwa ada kesenangan-kesenangan sederhana yang bisa disempatkan di warkop. Mengudap tahu goreng atau tempe goreng, sesekali usus atau ati ampela. Pun jika sedang agak butuh kesegaran: saya akan memesan es coklat Beng-Beng atau Cocholatos warna hijau; atau jika butuh sedikit dengan “apa yang bisa disebut kopi”, saya akan memesan es Luwak White Koffie (gak bikin kembung) atau Good Day bungkus coklat – konon itu rasa Chococinno (karena hidup banyak rasa). Letaknya saya nyaris hapal: serenteng saset Beng-Beng akan bersebelahan dengan renteng saset Nutrisari beragam rasa, dan Good Day maupun Luwak White Koffie akan berada nyaris paling ujung, sebelum dua jenis minuman ini: Good Day Freeze dan Kopi Kapal Api hitam.

Sayangnya soal kopi hitam, saya punya preferensi merek sendiri – dan tidak semua Warung Kopi memenuhi standar itu. Barangkali itu pilihan.

Kemarin konon adalah hari Boxing Day di Liga Primer Inggris, atau matchday ke-19 untuk pertandingan para klub. Mengingat amat jarang sekali Warkop berlangganan TV kabel, maka tidak ada siaran Leicester City versus Liverpool di sana. Saya kurang ingat klub apa yang berseteru malam tadi, tapi bagaimanapun itu, tentu saja permainannya kick and rush, seru ditonton, dan mungkin di suatu hari nanti saya akan berharap Arema dan klub-klub Liga Indonesia lainnya akan bertarung sekeren itu. Bisa saja saya membayangkan Ricky Kayame atau Makan Konate melakukan sundulan sekeren Sadio Mane atau Jamie Vardy; atau mungkin Dendi Santoso melakukan umpan terobos seperti Trent Alexander-Arnold.

Dalam semesta Warung Kopi semacam itulah, jika ramai, saya akan mendengarkan cuap-cuap terkini politik kampus UIN Ciputat; saling beradu peringkat dalam gim Mobile Legend; atau sambat dan keluhan soal kerja-kerja para milenial yang mengadu nasib. Jika sepi, saya memilih ngelangut – sejenis melamun namun sama sekali mengosongkan kepala; membikin catatan-catatan kecil, atau membawa buku-buku agar supaya kelihatan berasal dari kasta mahasiswa yang intelektuil, begitu.

Serta satu lagi yang mungkin ada di tiap Warkop: gorengan. Saya telah melakukan komparasi dan analisis dengan metode cross sectional diikuti cohort pada satu Warkop pilihan. Dengan sampel yang beragam ini, meskipun kita tahu bahwa gorengan di kemudian hari adalah faktor risiko yang cukup menunjang pada penyakit-penyakit pembuluh darah, namun tingkat keterhabisan gorengan di suatu Warkop menunjukkan setidaknya hal berikut: tingkat kepadatan konsumen setempat; rasa sajian gorengan; suasana dan lingkungan yang ada. Dengan Warkop yang gorengannya sedap dan enak, namun lingkungan yang kadang bau selokan pasca hujan, ada korelasi pada tingkat keterhabisan gorengannya.

Anda boleh percaya pada omong kosong di atas. Pun jika Anda tidak percaya, cukuplah menjadi keyakinan bahwa Warkop adalah kehidupan kita, mahasiswa dan kebanyakan kelas pekerja. Semesta terbentuk di sana, Aa’ dan Teteh – dan jika beruntung, ada Neng geulis – silih berganti.

— ada 34 kata (jika tak salah hitung) dengan preposisi di atas, sebagaimana ditugaskan Ketik#6. Tulisan ini disponsori oleh Komunitas Blog Ikatan Kata.

8 thoughts on “Semesta Lain di Warung Kopi: Sebuah Latihan Menulis Preposisi

  1. Aku suka tulisanmu ini, Iqbal. Sepertinya bibit ‘Kuda Hitam’ akan melekat padamu. Keren!

    Diksi yang apik, penuturan yang santai tapi berisi, deskripsi yang detail dan cara menyusun kalimat yang seru. Saat membacanya, seolah-olah aku sedang berada di warkop.

    Bicara tentang warkop; ada satu pertanyaan klasik yang belum terjawab yaitu, “Kenapa kalau makan mie instan di warkop rasanya lebih enak daripada hasil buatan sendiri?”

    Sebagai anak kos, warkop ibarat sahabat karib yang selalu ditunggu dan dirindukan.

    Zaman dulu kuliah, aku dan teman-teman sekosan yang hobi begadang malah sengaja menunggu jam 1 atau jam 2 malam untuk pergi nongkrong di Warkop Kabita. Pada jam tersebut justru lagi padat pengunjung. Aneh tapi nyata.

    Tentang tulisan, sedikit saran dariku. Sepertinya kata ‘bikin’ akan lebih enak dibaca kalau diganti dengan kata ‘buat”.

    Lalu kata ‘Anda’. Entah kenapa aku merasa ada jarak antara penulis dan pembaca. Aku lebih suka menuliskan kata ‘kamu’, ‘sahabat’ atau lainnya.

    Tapi tanpa kamu sunting kedua hal itu, pos ini tetap bagus.

    Hatur Nuhun

    dari Pria Penyuka Internet (indomie telur kornet) dan Teh Kamu Hangat

    Komentar disponsori oleh:
    – Susu Cap Nona
    – Kopi Buluk
    – Cilok Mang Dadan
    – Cimol Bi Eti
    – Seblak Seuhah Lada

    Liked by 1 person

    1. Soal mie instan karena alasan ekonomis saya pilih bikin sendiri pak hihi. Saya kira “experience is the best teacher” berlaku buat Aa’ warkop saat bikin mie.

      Saran diksi diterima, mungkin buat varian saja pak. 😁

      Balasan komentar disponsori oleh:
      Pak Fahmi Ishfah

      Like

  2. bri, kopindo, itu umumnya dari kuningan, apalagi sekitar kampus-kampus besar, meraka banyak sekali dan seabgian besar memang masih famili. seperti orang solo terutama wonogiri ketika sukses dagang bakso di perantauan maka akan mengajak kerabatnya untuk turut berdagang

    Like

    1. Wah iya pak, saya kira dalam beberapa jenis bisnis ada yang sangat tipikal daerah masing-masing. Bisnis khas orang Madura (toko kelontong atau Bubur Kacang Ijo), bisnis orang Malang di Jakarta (cuci mobil atau bakso), dan sebagainya. 😁

      Liked by 1 person

  3. Lengkap pisann A’

    Ada secuil iklan juga ya di sana, Luwak white coffee “gak bikin kembung” 😂

    Eh tapi ya kebanyakan warkop atau warteg rame itu kenapa seringnya di persimpangan atau di ujung jalan ya? Apakah ada hubungannya dengan feng sui? 😂

    Like

  4. kalau sudah sebut warung kopi identik dengan santai 🙂 jadi rileks banget denger nya, aplagi nyebut dan mengunjunginya hehehe
    keenapa ya namanya warung kopi bukan warung teh ? 😀 hehehe

    Like

Comments are closed.