Curahan Hati

photo by kaboompics in pixabay

Hari Raya Idul Fitri adalah momen ketika manusia bermaaf-maafan. Namun, di hari yang suci ini, aku dan teman-teman satu spesiesku justru dicap sebagai pemberi harapan palsu (PHP) oleh manusia.

Fitnah itu, fitnah!

Selain dibilang PHP, kami juga sering dibilang penipu…. Duh, kesalahpahaman ini, benar-benar, deh. Monmaap, bergerak sendiri saja kami tidak bisa.

Kami hanyalah kaleng-kaleng biskuit yang beruntung karena tidak segera berakhir di tempat sampah. Tidak perlu berdesakan di truk sampah bersama mereka yang sama-sama bernasib menyedihkan. Manusia yang terlalu kreatif―dan irit―itu mengalihfungsikan kami sebagai tempat untuk menaruh sesuatu yang lain. Jadi, boro-boro memberi harapan palsu, kami bahkan tidak memiliki kesempatan memilih isi untuk diri kami sendiri.

Kami masih disebut beruntung jika diisi rengginang, rempeyek, atau kacang goreng. Padahal tubuh kami sudah ditulisi besar-besar bahwa kami menyimpan biskuit renyah. Kontras sekali, memang. Tapi, kalian tahu? Teman kami, si Kaleng Wafer, bahkan diisi oleh perkakas dan benda tajam, seperti gunting dan cutter.

Sadis tidak sih.

Makanya, di kesempatan yang langka ini, aku―sebagai perwakilan keluarga kaleng biskuit lebaran―ingin berpesan kepada kalian, para manusia. Janganlah menilai kami dari sampulnya. Dan tolong, jangan sebut kami PHP. Apalagi penipu

Begini-begini, kami juga kaleng, tahu. Tidak punya perasaan sih, tapi kalau kosong, kami selalu siap diisi dengan apa pun.

Termasuk hatimu.

Ea.

.


Modifikasi dari tulisan lama. Ditulis pertama kali di blog rufindhi dengan judul Cerita Fiksi: Kaleng Wafer, tanggal 10 Juli 2017. Yang ini ditulis untuk Ketik10 dengan subtema sudut pandang orang pertama jamak.

Eh, walaupun tokohnya bukan orang, tidak mengapa, ‘kan? Hehe.

6 thoughts on “Curahan Hati

Comments are closed.