Waktu untuk Bercerita

berbagi via pixabay

Haloo para anggota Ikatan Kata yang ketjeh dan wangi. Kegiatan Ketik kita sudah sampai yang ke-10 nih. Keren. Untuk yang baru bergabung ke komunitas Ikatan Kata, semangka ya menuntaskan satu per satu tugas Ketik sebelum sampai di Ketik#10 yang hampir berakhir ini. 😁

Berikut Ketik#10 Mulya : sudut pandang orang pertama tunggal.

~o0o~

Belum saja sloki arak ini mendarat di bibirku, sebuah hantaman tak main-main menerjang kasar hingga tubuhku ambruk berguling ke tanah, menabrak meja pelanggan lain juga menimbulkan jerit perempuan penyaji makanan. Anjing! Siapa yang berani mengganggu waktu mabukku?!

Begitu pengelihatan yang sempat bergetar ini kembali normal, kulihat sesosok pria berpakaian bagus lagi-lagi siap menghajar. Dan sial! Aku belum sempat menghindar ketika pedang miliknya lebih dulu menancap di daerah selangka kananku. Jleb! Tepat sasaran. Dan seketika rasa sakit menjalar-kejut seperti sengatan listrik.

“Ka-kau! Berengsek! Arya!” umpatku menahan nyeri.

“Lancang sekali babi busuk sepertimu memanggilku!” jawabnya sembari duduk di atasku lalu menekan pedangnya.

Anjing betul dia! Aku mengerang sejadinya. Kulihat semua pelanggan warung judi membatu seolah sengaja memuluskan rencana bocah tengik di atasku ini membunuh kakaknya sendiri.

“Hey, bukankah itu Raden Arya?” Bisik-bisik diantara mereka terdengar.

“Wah, benar. Itu Raden Arya! Kalau begitu, orang yang diserangnya adalah … Raden Sanjaya? Wajah mereka mirip sekali.” Yang lain menimpali.

“Kenapa orang seperti Raden Arya datang ke tempat judi terpencil seperti ini?” Sekarang seorang perempuan yang angkat suara.

“Dengar-dengar Raden Arya punya kebijakan aneh. Seperti menggerebek tempat judi dan hiburan malam.”

Baik. Perkenalkan, namaku Sanjaya. Tak perlu berbasa-basi memanggilku dengan sebutan Raden hanya karena kau tahu aku anak dari Raja Parwapadma dari Kerajaan Caranggapura. Kondisiku sedang tak menguntungkan. Dia Arya, adik kembarku. Sejak dulu dia memang bernafsu melenyapkanku. Ini tahun ke-enam sejak terakhir kali kami bertemu.

“Raden Arya, mohon ampun, prajurit pemimpin di daerah ini ingin berbicara dengan Anda. Mengenai Raden Sanjaya, dia akan ditangkap karena terbukti telah melakukan pencurian mayat di desa Merbasari dan puluhan desa lainnya,” ucapnya kemudian menghaturkan sembah hormat.

Arya berdecak kesal. Dia menatapku kembali dengan wajah tengiknya. Meski alis itu bertaut keras, tatapanya menusuk dan suaranya menggeram seperti srigala hendak menerkam mangsa, Arya adalah Arya. Dia bocah tengik bodoh yang tak bisa membedakan dendam kesumat konyolnya dengan kepentingan negara. Aku tak pernah terancam dengannya meski 27 pedang menancap di tubuhku.

“Aku bisa mengulitimu sekarang juga seperti kau menguliti mayat-mayat curianmu. Tapi, aku menghormati hukum.” Arya mencabut pedangnya dengan kasar. Pundak kananku sekonyong-konyong mengalirkan cairan merah pekat. Dia bangkit, membiarkanku sedikit lebih lama menikmati kebebasan. Karena begitu Arya mengangguk pada perwira berwajah keras itu, tiga-empat prajurit bawahannya mengepungku.

Seketika warung judi berubah sunyi. Padahal sesaat sebelumnya ini tempat yang berisik. Sorak sorai pecandu acara kocok dadu beradu dengan suara racau orang mabuk. Kedatangan pangeran Caranggapura membuat mereka terkejut, membatu sebentar, lalu melipir ke sudutΒ teraman ruangan. Sudut terjauh dari kemungkinan tertebas pedang atau tertusuk tombak nyasar.

Tak perlu menunggu lama, begitu kulihat prajurit itu mengedip, dengan sigap aku berdiri lalu menghunus pedang sekaligus menyerang. Satu diantara pengepung bodoh itu tumbang. Kini tiga penyerang tersisa mengunci sisi kiri dan kanan. Wajah mereka tampak lebih waspada tak ingin membiarkanku melakukan serangan kejutan lagi.

Di tempatnya Arya menatap galak seolah tak sabar ingin melahap sesuatu. Tapi, perwira di sampingnya menahan agar Raden tengik itu menyerahkan urusan yang sedang berlangsung pada anak buahnya saja. Percaya diri sekali. Dia pikir karena aku terluka aku bisa dikalahkan dengan mudah.

“Arya! Sepertinya kau sering membolos pelajaran bertarung. Syarat pertama menjadi pendekar adalah kau tak boleh meremehkan musuhmu. Kau dan orang-orangmu tak pantas melindungi kerajaan!”

Setelah sindiran itu aku mengamuk sesuka hati, mengalahkan prajurit pengepung dan beberapa orang yang berusaha menangkapku. Tampak sang perwira mulai gelisah satu per satu anak buahnya berhasil ditumbangkan. Hingga pada akhirnya Arya habis kesabaran lalu maju menyerang dengan pedang terayun lebar, membuka titik celah yang sempurna.

Ketika pikiranku fokus dengan tujuan memotong lengan Arya, tak kusangka sebuah benda kecil entah apa menancap di leher belakang. Aku memutari tubuh Arya, menghindari serangan lalu mencari-cari arah darimana benda ini muncul. Tampak seorang wanita di antara pelanggan warung judi di sana tersenyum licik. Lalu di detik itu juga pergerakanku menjadi kaku. Rasa lemas hebat pun mengambil alih tubuh hingga aku ambruk di tanah seperti tupai buruan. Bangsat! Sumpitan beracun.

~o0o~

Yeeeey! Selesai. Terima kasih sudah membaca.

Akhir kata, dadah. ( Β΄ β–½ ` )οΎ‰

27 thoughts on “Waktu untuk Bercerita

  1. Aku baru tahu ada istilah mbolos di tempat pelatihan silat.

    Aku bayangin episode berikutnya ada sundal yang semlohai di tengah pertarungan.

    Ini penerus LKH dari garis perempuan yang liar.

    Teh Mulya makin keren dan jauh meninggalkan kita-kita.

    Warrrr biasaaaak

    Liked by 2 people

    1. Jangankan membolos dari pelatihan, membolos dari acara ritual agama juga bisa. 😝😝

      Haha semlohai. Saya jadi bayangin dia pakai selendang dan terbang-terbang gitu.

      Enggak, Mas Andy. Saya berusaha menyamai kekerenan kalian. Biar gak pundung di pojokan.

      Liked by 1 person

      1. Aku salut sama Teh Mulya, yang gak jaim dalam bertutur cerita, bahkan pakai akun official. Aku kalau mau bikin cerita seperti itu, pasti pakai akun anonim dah.

        Lanjutkan Teh. Lama-lama sampai genre erotica. Banyak laku di pasaran. 🀣🀣

        Like

      2. Gak jaim sih. Atau harus jaim ya? 😨😨

        Haha. Itu makrifat dulu, Mas. Tapi bicara soal pasar, saya cenderung gak ke sana. 😁

        Like

  2. Hai, Mulya!

    Aku seperti masuk ke dunia persilatan semacam Wiro Sableng pas baca ini.

    Orang Pangandaran yang pandai bertutur nih.

    Untuk setiap pos KETIK tidak perlu ditulis pada judul. Cukup dibuat pada tag. Jadi hapus kata KETIK#10 pada judul ini.

    Lalu koreksi berikutnya :
    1. Pengelihatan atau penglihatan?
    2 diantara (di antara) // lupa preposisi nih
    3. Ada satu kalimat langsung yang lupa kamu beri tanda kutip awal dan akhir yaitu pada saat Sanjaya memperkenalkan diri.

    Btw, pendekar zaman dulu omongannya banyak berkata kasar kah?

    Like

  3. Banyak diksi yang sangat “puitis” aku temukan. Bangsat, tengik, anjing,babi busuk… hahaha. Tapi seru cerita pertarungannya. Sudah mirip Bastian Tito atau LKH fansnya mas Ndobos.

    πŸ˜€ semangat teh, terus nulis genre silat.

    Liked by 1 person

Comments are closed.