7 Perempuan Sejak 2009

Salah satu bentuk kesyukuranku saat ini adalah dipertemukan dengan banyak orang-orang baik. Orang yang bisa mengerti dengan segala kekuranganku, orang-orang yang bisa menerima setiap kegilaan yang aku bawa sejak lahir. Hehehe.

Ada apa dengan angka 7? Saat ku baca tugas deskripsi Ikatan Kata, membuatku teringat dengan teman-teman seperjuanganku saat kuliah. Kami berjumlah 7 orang, kuliah di tempat yang sama di Palu. Awal pertemanan kami ini karena keseringan main bareng dan kumpul bareng. Aku juga lupa bagaimana awal mulanya, yang jelas kami banyak melalui hal-hal konyol bersama sejak tahun 2009.

Kita yang sudah terpisah kabupaten dan kota, hanya bercengkrama lewat sosial media, itulah satu-satunya cara untuk mengikat tali silaturahim antara kita. Kami pun tergabung dalam grup percakapan di WhatsApp namanya “Buka Lapak Emang Cincai” entah mengapa aku terpikiran sebuah iklan saat membuat nama itu. Hahaha.

Aku tergolong tipe orang yang sulit punya teman dekat, sekalinya dekat pasti bakalan lama alias awet. Bisa dihitung siapa saja yang tahu banyak tentang diriku, dan tempat keluh kesahku. Keluarga, pastinya merekalah yang tahu aku orang yang seperti apa, tapi sejak merantau hingga sekarang, kerinduanku akan sosok mereka, mama, papa dan kedua adikku hanya sebatas via telepon dan video call saja. Kami pun punya kesibukan masing-masing. Sekarang, kutabung dulu rindu ini untuk ku berikan saat bertemu mereka di liburan akhir tahun ini. Yeay! Bagaimana dengan keluarga kecilku? Suami dan anakku, mereka punya tempat yang spesial, bukan lagi orang terdekat tapi mereka adalah kebutuhan, satu bersama jiwaku. Tanpa mereka “apalah arti hidup ini”. Uuu so sweet!

Sekarang saatnya kuperkenalkan pada para Pengikat Kata, tujuh teman seperjuanganku ini. Simak yuk!

Astri. Orang-orang terdekatnya memanggilnya Achi. Ayahnya seorang Tentara, makanya dia termasuk orang yang punya disiplin tinggi. Achi anak pertama dari 3 bersaudara. Lincah, gesit dan tekun. Aku kenal dia sejak kami duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Kami juga di sekolah yang sama saat di Sekolah Menengah Pertama (SMP) walaupun tak pernah sekelas, kami masih terbiasa main bareng atau bahkan hanya kumpul-kumpul saja. Saat di Sekolah Menengah Atas (SMA) kami terpisah karena dia memilih sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya, begitu pun aku. Aku kaget saat pertama kali ikut ospek kampus dan bertemu kembali dengannya. Tidak banyak yang berubah dengannya masih ceria seperti saat pertama aku kenal dirinya.

Ayhu. Ibarat kata dialah “pembuka jodoh” saat kami berteman dulu. Di semester 4 dia memutuskan menikah dengan pujaan hatinya. Di antara kami, menurutku Ayhu lah yang paling bijak sekaligus tempat menampung cerita. Tapi, dia juga bisa jadi ember bocor kalau ada kabar baik tentang kita. Ayhu itu bisa berubah jadi Rossi kalau di jalanan, dia seperti pembalap kalau sedang mengendarai motornya. Sekarang, Ayhu sedang sibuk mengurus kedua buah hatinya.

Dian Wong. Punya nama yang sama denganku, tapi itu bukan nama aslinya. Wong, kami memanggilnya. Karena dia adalah fans berat Baim Wong. Aku dengan Wong sekelas sejak SMA dan bersebelahan kelas saat kuliah. Jujur, beberapa kali aku dan Wong salah paham karena masalah sepele, bahkan pernah tak bertegur sapa selama seminggu. Tapi, setelah kejadian itu justru pertemanan kita semakin dekat. Sekarang, Wong sedang sibuk mengurus ketiga anaknya. Dia pun sedang menikmatinya.

Olha. Dia paling humoris diantara kami, selalu jadi bulan-bulanan Ayhu dan Wong saat di kampus. Tawanya khas kami menamainya “Ketawa gaya Olha, sambil jepit hidung”. Olha juga sering menggombal dosen muda yang pernah mengajar di kelas kami. Maklum saja karena jarang melihat laki-laki di kampus. Jangankan dosen, penjaga kampus kami, Pak Mindon dan Abang jualan siomay juga sering di gombal olehnya. Percayalah itu hanya candaan dia saja untuk menghibur kami. Hahaha

Muzdalifa. Muz panggilannya, dia yang paling manis di antara kami. Tak heran anak jurusan lain, sering menitip salam untuknya. Aku sekelas dengannya sejak SMP kelas 1. Kami juga sangat dekat. Muz orangnya cepat panik, bahkan karena hal sepele. Biasanya, karena takut terlambat dia selalu datang pukul 8 pagi, padahal mata kuliah dimulai pukul 10 pagi. Tapi tak mengapa, justru dia perempuan yang rajin dan kuat. Bahkan waktu ujian akhir, saat dipersulit oleh pembimbing akademiknya. Kurasa itu kenangan terberat Muz saat kuliah.

Tina. Apa yang terpikirkan saat tahu namanya? Rani Mukherjee? Pemeran Tina di film Bollywood Kuch-Kuch Hota Hai. Dia memang penggemar film India. Tina sudah seperti saudaraku makan dan tidur sering dilakukannya di rumahku. Setiap pergi kampus, pasti aku singgah dulu di Kos Belakang, nama kos-kosan dia dan kami berangkat bersama. Tina orang yang agak lambat bergerak, berbanding terbalik denganku yang super cepat. Justru di situlah seninya kami berteman, saling menguatkan. Walaupun gerakan Tina agak lelet, dia bisa berbicara secepat kilat, tanpa koma, tanpa spasi. Kadang teman-temanku tertawa lihat gaya bicaranya, tapi itu yang aku rindukan dari sosok Tina.

Pur. Paling melow di antara kami. Suka ketawa dan berkhayal. Anak pertama dari 3 bersaudara. Pantai adalah tempat favoritnya. Sebenarnya Pur suka bercanda, tapi kadang candaannya terlalu garing untuk dinikmati. Pur juga orang yang jarang marah tapi bila marah bisa berubah seperti singa. Pur itu nama bekennya di kampus, nama aslinya Dian Purnamasari yang nulis cerita ini. Hahaha.

Walaupun kami punya banyak perbedaan karakter, ku harap silaturahim ini tetap terjaga sampai kita tua nanti. Setidaknya itulah satu-satunya kenangan manis di antara kita. 1 pesan untuk kalian yang selalu Pur ucapkan “sa sayang kamu semua“. Bye! I miss you Genkz.

Advertisement

12 thoughts on “7 Perempuan Sejak 2009

  1. Hi, mbak Dian. Tulisanmu menurutku sudah bagus. Tapi ada sedikit saja yang perlu aku kasih masukkan sepanjang pengetahuanku.

    Untuk kata ganti “ku” jika diikuti kata kerja, itu ditulis serangkai.

    misalnya pada kalimat :
    “Sekarang, ku tabung dulu rindu ini untuk ku berikan saat ”
    “Sekarang saatnya ku perkenalkan pada para Pengikat Kata”
    “Ku rasa itu kenangan terberat Muz saat kuliah.”

    menurut aturan EYD, kata itu harusnya ditulis
    “Sekarang, kutabung dulu rindu ini untuk ku berikan saat ”
    “Sekarang saatnya kuperkenalkan pada para Pengikat Kata”
    “Kurasa itu kenangan terberat Muz saat kuliah.”

    Terus :
    ” … via telepon dan videocall saja”
    kalau tidak salah ditulis itu dua kata yang mestinya dipisah : “video call”

    CMIIW

    Btw, nama panggilan kita sama ya. Dulu sebagian teman kuliahku juga ada yg memanggilku “Pur”, bedanya aku dari kata Purnomo, dan kamu Purnamasari . Hehe

    Nice, Dian.
    Semangat.

    Liked by 1 person

  2. Salut sekali sama orang-orang yang berhasil mengikat persaudaraan yang begitu kuat, jarang sekali untuk saat ini, kebanyakan setelah menikah ataupun lulus kuliah biasanya masing-masing. Keep solid mba dan gengnya.

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih mas Nunu.. mungkin ini termasuk manfaat teknologi, internet dan sosial media, gak susah cari kontak teman-teman. Alhamdulillah tiap pulang ke palu mereka selalu main ke rumah, sambil bawa anak-anak juga. Kalau gak sempat aku yang datangi rumah mereka satu persatu. Heheheh

      Liked by 1 person

  3. “Orang yang bisa mengerti dengan segala kekuranganku, orang-orang yang bisa menerima setiap kegilaan”
    Seketika aku tercenung lama karena membaca kalimat pembukaan itu. Mendadak aku melow, dan pikiranku mengembara jauh menembus lapisan-lapisan kabut ingatan. Lalu ketika akhir aku kembali menjejak pada kesadaranku, aku begitu iri dengan kemewahan yang dimiliki Mbak Dian. Berada di antara orang-orang yang bisa mengerti kekurangan dan bisa menerima kegilaan sehingga tidak harus merasa insecure karena sikap kita yang ganjil adalah sebuah kemewahan. Aku iri padamu, Mbak Dian.

    Aku iri, bagaimana bisa sekolah pun bisa berteman dengan orang yang sama dari sejak SD hingga kuliah. Rasanya pasti luar biasa.

    Oh nama bekennya ternyata Pur. Baiklah Mbak Pur, Gaya tulisanmu enak diikuti. Gamblang dan jelas. Kalau ibarat bercerita, orang akan langsung paham. Kalau ibarat seorang guru dalam menjelaskan pelajaran, murid-murid bisa langsung cerdas. Bahasanya lugas dan aku sangat suka.

    Liked by 1 person

    1. Wow, aku speechless bacanya mas andy. Terima kasih pakai banyak 🙏🏻
      Bertambah lagi kesyukuranku bisa berada diantara para pengikat kata ini. Alhamdulillah..

      Like

Comments are closed.