Preposisi Bijak Berplastik

Aku kira aku sudah benar dalam menulis. Aku kira aku tahu kapan harus menggunakan tanda baca, titik koma, tanda seru dan tanda kutip. Aku kira aku tidak salah memaknai suatu kalimat. Terima kasihku pada komunitas ini yang sudah menyadarkanku sedikit demi sedikit. Heheheh.

Apa itu preposisi? Kenapa harus ada preposisi? Apa gunanya preposisi? Kapan preposisi digunakan? Tantangan pada KETIK#6 ini membuatku merasa ingin jungkir balik dulu. Hhmmm.

Jujur aku bingung mau menulis tentang apa? Tapi, aku berusaha untuk menulis sesuatu yang menurutku bisa dijadikan motivasi bagi para pembaca. Sulit memang kalau tidak dibiasakan. Walaupun tidak mudah, aku merasa tertantang untuk tetap menuliskannya.

Ini bukan tema yang pertama, bukan juga tema yang ke-2, ke-3, atau ke-4. Ini tema dan judul ke-5 yang ku buat. Terinspirasi sewaktu mendengarkan lagu di salah satu stasiun radio saat hendak mengantar anakku ke sekolah. Judul lagunya POSITIF dinyanyikan oleh Sheryl Sheinafia, lagu ini merupakan remake dari lagu POSESSIF yang dipopulerkan oleh grup band Naif pada tahun 2000.

Liriknya tidak sama dengan lagu sebelumnya, ada sedikit perubahan tapi masih menggunakan nada yang sama. Sedikit kutipan dari liriknya.

Ku ingin tau. Kalau kau mau. Ku ingin kita mau. Hentikan itu, sebelum terlambat. Jadi masalah baru. Tanpa terbuang. Ganggu selalu. Ku memang harus begini. Menjaga kebaikan Bumi. Bila kau mati. Kau hidup lagi. Untuk bisa selalu terulang kembali. Jadilah engkau, terus menerus baru. Tanpa meragu. Hidup selalu. Ku memang harus begini. Menjaga kebaikan Bumi.

Lirik ini cukup unik. Setelah melihat video clipnya di YouTube, ternyata lagu ini punya pesan untuk pendengar agar selalu menjaga kelestarian alam dan menjaga kebaikan bumi yang menjadi tempat tinggal kita. Sheryl juga menitipkan pesan di akun instagram miliknya untuk memastikan bumi ini tetap sehat.

Pastinya sudah akrab di telinga tentang pribahasa “Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit” seperti itulah gambaran penggunaan plastik di kehidupan kita sehari-hari. Indonesia menduduki peringkat ke-2 setelah Tiongkok sebagai penghasil sampah terbesar di dunia. Jika ini ajang Olimpiade mungkin kita akan mendapatkan medali perak. Sampah plastik di Indonesia sebanyak 64 juta ton/tahun dan 32 juta ton/tahun dibuang ke laut. Sampah-sampah inilah yang menghancurkan ekosistem hewan laut. Untuk limbah kantong plastik saja membutuhkan waktu antara 20 sampai 500 tahun untuk terurai, begitu pun dengan sampah-sampah lainnya seperti sedotan, botol minuman, sterofoam, puntung rokok, popok dan sampah rumah tangga yang butuh waktu sangat lama untuk terurai. Sampah-sampah ini umumnya dibuang ke laut dan sungai, bahkan dibakar tetapi sisa pembakaran sampah itulah yang bisa menyebabkan polusi sehingga timbulnya pencemaran udara dan banyak menimbulkan penyakit di masyarakat. Ini pastinya akan menjadi masalah baru lagi. Jika sampah lama belum terurai bagaimana nasib sampah-sampah baru yang datang? Padahal pemerintah memiliki target pengurangan sampah hingga 70 persen sampai dengan tahun 2025, tapi hingga saat ini banyak faktor yang menghalangi hal tersebut.

Jika berkunjung ke negara tetangga untuk berbelanja di supermarket atau toko, biasanya pemilik toko akan menawarkan plastik dengan harga yang cukup tinggi, lain halnya dengan kita yang masih acuh dengan harga plastik sebesar 200 rupiah bahkan masih dengan gratis didapatkan. Memang perlu kesadaran dari diri masing-masing untuk bisa mengurangi jumlah kantong plastik ini. Padahal pemerintah juga sudah membuat Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP). GIDKP bertujuan untuk memberi pemahaman pada masyarakat tentang bahaya penggunaan kantong plastik dan mengurangi jumlah kantong plastik guna menjaga keseimbangan bumi.

Beberapa bahaya penggunaan plastik untuk kesehatan diantaranya dapat menyebabkan kanker, cacat lahir bawaan yang diakibatkan karena ibu hamil yang sudah terpapar limbah plastik sebelumnya, gangguan endokrin dan gangguan kesehatan lainnya. Sedangkan untuk satwa liar dapat mengganggu ekosistem laut sehingga mamalia laut, hewan laut, dan ikan laut terganggu kesehatannya. Bukankah kita juga memakan ikan hasil tangkapan nelayan di laut? Kita pula yang menikmati hasilnya!

Plastik memang belum bisa hilang dalam diri kita sepenuhnya karena plastik memang masih begitu penting dalam kehidupan kita. Aku pun sedikit demi sedikit sedang berproses menguranginya. Contohnya saja dengan membawa botol minum ke mana saja saat hendak keluar rumah. Meskipun agak kerepotan dan bawaan berat setidaknya kita tidak menjadi penyumbang plastik hari ini. Hehehe. Penggunaan sedotan juga, perlu diminimalisir. Biarpun minum langsung dari gelasnya setidaknya tidak membuang percuma barang kecil ini kan?

Semua hal yang ada di Bumi tidak lepas dari kuasa-Nya. Tapi sebagai manusia haruslah kita tidak merusak kekayaan alam ini. Bahkan Allah SWT dalam firman-Nya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS Ar-Rum:41. Allah SWT memerintahkan pada para hamba-Nya untuk selalu menjaga lingkungan, sebagai bentuk rasa syukur kita kepada sang pencipta.

Karena itu, lewat tulisan ini aku mengajak ibu-ibu, bapak-bapak, om, tante, mas, mbak, kakek, nenek, kakak, adik, siapa pun kalian ayo kita sama-sama bijak dalam penggunaan plastik! Let’s take care of our earth! Kalau bukan kita, siapa lagi?

@dianpur

9 thoughts on “Preposisi Bijak Berplastik

      1. Banyak mas, contohnya seperti jarum suntik atau disposible, infus kit dan pembungkus-pembungkus obat. Makanya tiap rumah sakit harus punya fasilitas pengelolaan limbah sendiri. Setau aku gitu.

        Like

Comments are closed.