Categories
KETIK

Notice Meh

Novel Ayah (Andrea Hirata) via goodreada dot com

Tantangan Ketik kali ini cukup menggelitik, yaitu diminta memberi kesan dari sebuah bacaan novel. Judulnya sudah ditentukan, yaitu Ayah karya Andrea Hirata. Ada tiga-dua-satu hal yang bikin alarm di ujung poni saya berbunyi beep! beep! begitu tahu di Ketik #9 ini para anggota Ikatan Kata-nya akan sama-sama membaca buku Andrea Hirata.

(((o(*゚▽゚*)o)))

Pertama, saya belum pernah baca satu pun novel beliau ataupun penasaran dengan tulisannya. Kendati karya Andrea Hirata luar biasa populer dan bahkan mendunia, mencoba membaca Ayah tak semudah ikut-ikutan nonton video di youtube hanya karena viewer-nya membanjir. Sama seperti Tere Liye, Dee Lestari, Asma Nadia, A. Fuadi dan Habiburrahman el Shirazy. Para penulis yang cukup leading dan punya banyak sekali penggemar ini malah gak saya penasarani.

Dua, susahnya diminta ngasih kesan-kesan soal novel sementara para anggota Ikatan Kata tak diharuskan membaca seluruh ceritanya, melainkan 1 bab saja cukup. Padahal saya blank soal Andrea Hirata, dan kurang afdol rasanya kalau belum ‘apa-apa’ sudah judging, meski hanya kesan awal saja. Memang sih, harapannya adalah supaya kita rajin membaca. Tapi…

Tapi, baiklah. Ini sisi bagusnya. Kalau tak ada tugas Ikatan Kata yang minta para anggotanya membaca novel Ayah, mungkin untuk beberapa waktu yang lama saya gak bakal mencoba mencicipi karya Andrea Hirata. Dan pikiran saya senantiasa akan dipenuhi oleh tapi-tapi-tapi. 😅

Sebagai pembaca yang masih bayi merah, untuk memasuki dunia Andrea Hirata saya butuh energi lebih. Mungkin kadung sosok penulis asli Belitong ini super terkenal, sudah terbentuk saja gitu citranya di benak banyak penggemar, jadi saya semacam perlu tahu juga siapa sih Andrea Hirata ini dan apa khasnya.

Sedikit hal yang bisa saya raba adalah dream. Novel-novel yang diangkat Andrea Hirata pasti berbau mimpi;  entah zero to hero atau drama kehidupan kaum marginal terkait cita-cita (se-ngeuh saya sih ke kesemptan mengenyam pendidikan) dan cinta. Nah, kalau bicara soal selera, jarang saya tertarik sama tema dream yang lurus seperti itu. Maksudnya, si cerita punya energi positif dan cenderung memotivasi. Saya kan orangnya pesimis dan lebih suka yang berbau sinis atau angst.

Kedua, khasnya Andrea Hirata berdasarkan baca kilat di bab 1-nya adalah gaya bahasa yang beliau gunakan cenderung indah. Atau bisa dibilang mendayu-dayu. Diperkuat dengan tokohnya yang suka sastra dan well, karena temanya mendukung (cinta), maka satu-dua baris puisi pasti tercantum. Tapi, kurang tahu di novel Andrea Hirata yang lain. Apakah dia menyertakan puisi sebagai suara hati tokoh atau salah atau tekniknya saja dalam bercerita atau tidak. Saya rasa sih iya.

Banyak perumpamaan dan permisalan yang manis, bikin geli atau malah lucu-lucu meong di bab 1. 😁 Kosakatanya kaya, bernyawa dan punya kekuatan untuk membawa pembaca masuk pada adegan/ suasana batin tokoh kala itu. Nah, karena gaya bahasanya cenderung indah, gaya Andrea Hirata mendeskripsikan sesuatu pun cenderung bermajas. Rasa-rasanya bahasa seperti itu bikin kita jadi selow. Sesuatu yang jujur saya kurang suka sebagai pembaca. Tapi, sebagai orang yang suka nulis cerita fiksi, memang kemampuan deskripsi itu harus betul-betul dieksplorasi. Saya cenderung malas bikin deskripsi benda atau keadaan. Saya lebih suka menjelaskan sesuatu secara pandangan atau mental. Dari Andrea Hirata, di bagian mendayu-dayunya, saya belajar banyak. Gaya bahasa rupanya cocok-cocokan juga, ya. Kalau di fashion mungkin ibarat pakaian. Gaya bahasa adalah pakaiannya kata. Ada yang suka dengan yang satu, ada pula yang kurang cocok.

Menyoal novel Ayah, yang saya baca-baca bab 1 dan intip bab akhirnya ini, plus membaca ulasan bukunya dan komentar-komentarnya juga, barangkali mencoba membaca-tuntaskan novel Ayah adalah pilihan terakhir saat saya sudah gabut akut. Apalagi sejak awal novel Ayah ini sudah disuguhi karakter yang dimabuk cinta (Sabari the majnun) dan well, secara sekilas saya kurang bisa menghubungkan Sabari dengan tema Ayah, kecuali ngintip ending-nya dan memperkirakan ini novel sekian gambreng halaman bakal nyeritain apa saja intinya. Ya, dari sana rasa penasaran meredup.

Tapi, mungkin itu cuma perasaan sepihak saya saja sih main bilang ‘gak suka-gak suka’ sebuah novel yang bahkan belum saya coba baca tuntas. Saya jadi ingat film live action Hibiki. (Komiknya ada kok yang versi terjemahan Bahasa Indonesianya.  Terbitan M&C Gramedia. Kalu gak salah baru 3 volume.) Nah, si Hibiki ini bilang gak pantas kamu ngometarin karya orang padahal kamu belum baca dan coba memahami. Itu kan jleb banget. Makanya saya takut-takut ngerjain Ketik ini. Hehe.

Dan Hibiki ada betulnya juga. Nyatanya, novel yang sama-sama bicara soal mengejar perempuan (dalam salah satu dari dua atau tiga fragmen inti ceritanya tapi, ya), Kambing dan Hujan-nya Mahfud Ikhwan dan Layla-nya Candra Malik, justru memikat saya untuk membaca kedua novel itu sampai tamat. Plek. Mungkin Ayah juga bisa saya selesaikan nanti. Mungkin. Dan mungkin bila nanti~ ♬

Oiya, soal judul tulisan ini kalau kalian bingung maksudnya apa, barangkali bisa diartikan sebagai ‘teriakan’ novel Ayah versi ebook yang diunduh melalui web Ikatan Kata yang sudah ditugaskan untuk menggoda saya supaya dibaca dalam rangka menyelesaikan Ketik #9 ini. Notice meh, notice meh, senpai. Nee, senpai, onegai, notice meh. 😜

By Si Mulya

Bukan siapa-siapa.

7 replies on “Notice Meh”

alhamdulillah selesai juga. saya tertarik pada
“Para penulis yang cukup leading dan punya banyak sekali penggemar ini malah gak saya penasarani.”
saya bisa memahami kondisi yang seperti ini, sebagaimana anak sekolah belum tentu ia akan senang pada semua pelajaran, kemungkinan akan pilih-pilih, iya betul. Ketika kita dihadapkan antara tugas dengan kecenderungan kesukaan maka disinilah, jadinya suka tidak suka tetap harus dikerjakan. terbukti meskipun tidak begitu penasaran tugas tetap terselesaikan dengan baik

Liked by 1 person

Mantap, Mul.

Di novel lainnya karya Andrea, dia juga suka berpuisi.

Seperti kata Mas Narno, meski Mul tak ‘sepenasaran’ yang lain tapi KETIK sudah selesai.

Semoga ke depan bisa meluangkan waktu untuk membaca seluruh bab di novel Ayah.

Dan, coba baca ulang pos ini. Ada beberapa tipo.

Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s