Siapa Yang Menjadi Pahlawan?

Banyak tokoh-tokoh pahlawan yang kita ketahui saat belajar di sekolah, bahkan namanya terukir dan diabadikan menjadi nama sebuah jalan di tiap sudut kota. Contohnya saja jalan Soekarno, Moh. Hatta, Suharto, Suharso, Sudirman, Cokroaminoto dan masih banyak lagi.

Sederet pahlawan nasional ini pastinya sudah begitu akrab di telinga kita. Di tanah Makassar ada pula seorang tokoh yang begitu dikenal masyarakat yaitu Datu Museng, seorang panglima perang kerajaan Gowa. Ceritanya menarik, apalagi kisah cintanya dengan seorang putri raja Sumbawa, Maipa Deapati. Jika teman-teman ingin tahu lengkapnya cerita ini sudah diangkat ke layar lebar yang dibintangi oleh artis India, Shaheer Sheikh dan pemain film yang juga berasal dari Sulawesi Selatan. Datu Museng dan Maipa Deapati juga diabadikan dalam nama sebuah jalan yang berdampingan di daerah dekat pantai Losari. Konon katanya di sanalah tempat mereka menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi, aku tidak akan menceritakan kisah cinta Datu Museng dan Maipa Deapati bak Romeo dan Juliet ini. Kalian bisa membaca ceritanya di google atau menonton streaming di YouTube.

Jika pahlawan diartikan sebagai sosok panutan, pastilah kita ingin menjadi pahlawan itu. Di zaman sekarang siapapun bisa dijadikan panutan atau patokan dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan, di lingkungan sekolah atau tetangga rumah. Orang tua adalah pahlawan kehidupan, lewat mereka kita bisa ada di dunia. Guru adalah pahlawan kecerdasan, sosok yang akan dikenang sebagai pemberi ilmu pengetahuan. Keluarga dan saudara adalah pahlawan sedarah, yang mengajarkan pada kita bahwa kita tidak merasa sendiri saat senang ataupun susah. Pasangan adalah pahlawan cinta, teman hidup yang menemani sampai keriput dan menua. Semua orang adalah pahlawan bagi kehidupannya. Di balik semua itu, diri kita sendiri juga adalah pahlawan, berterima kasihlah pada tubuh, jiwa, raga dan pikiran anda yang sudah bekerja dengan baik di sisa umur yang Tuhan sudah berikan.

Ah! Aku memang tak pandai menuliskannya, ini kisah tentang seorang teman yang menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri. Mengapa seperti itu? Sedikit cerita tentangnya. Dia teman yang ku kenal sejak 2 tahun terakhir ini sebut saja Luci dia mengidap psychological distress. Psychological distress merupakan tekanan psikologis yang menyebabkan kondisi emosional menjadi tidak stabil. Distress itu sendiri disebabkan karena kecemasan dan depresi yang berlebihan. Bayangkan saja betapa tersiksanya perasaan dia. Luci sudah berobat ke psikiater bahkan sampai di luar Sulawesi. Di usianya yang cukup muda, Luci bergejolak dengan hati dan pikirannya yang terus menerus tidak tenang. Tekanan dan trauma masa lalu adalah pemicunya. Psikiater menyarankan Luci untuk melakukan terapi, katanya terapi itu berupa sugesti yang membuat dia merasa relax seperti dihipnotis, Katanya saat melakukan terapi itu badannya seperti melayang dan dia bisa meluapkan semua perasaan karena emosi di dalam dadanya. Semenjak masalah Luci sudah ditangani pada yang ahli, gangguan kecemasan tidak terlalu begitu menyiksanya walaupun dia masih harus mengonsumsi beberapa obat penenang. Luci juga menceritakan tentang bagaimana dia bisa mengontrol depresi dan kecemasannya. Dia selalu bercermin di kaca besar kamarnya sambil berbicara pada dirinya sendiri “terima kasih sudah mau bekerja sama, terima kasih sudah menemani hari ini, terima kasih karena selalu sehat”. Pikirku ini gila tapi yang dikatakan Luci ada benarnya juga, kadang kita lupa untuk berterima kasih pada jiwa dan pikiran kita.

Aku pernah bertanya padanya “Apa semua terasa berat?” Luci hanya tersenyum dengan anggunnya dan berkata “Masalah saya sangat berat, tapi saya semakin takut jika saya semakin tidak bisa mengendalikan pikiran saya”. Ya memang jika tidak ke psikiater Luci bisa mengalami bipolar, kepribadian ganda, menarik diri dari lingkungan sosial dan paling parahnya bunuh diri. Aku akui dia cerdas dan bisa menentukan pilihan harus ke mana. Mungkin itu satu-satunya emosi kewarasannya yang masih ada.

Terima kasih Luci, sudah menginspirasiku tentang berharganya diri sendiri. Kamu hebat!. Luci juga menitipkan pesan padaku, “Semarah-marahnya kamu, seemosi-emosinya kamu, kamu harus cerita pada orang lain, sepahit apapun itu, jangan pernah pendam sendiri kemarahan kamu, selalu berbaik sangka, cintai dirimu sendiri karena kamu pemeran utamanya, kamu lah pahlawannya!”

Sekarang kondisi Luci tidak seperti dulu lagi, dia gadis yang kuat. Dulu banyak yang menjauhinya karena orang-orang menganggapnya aneh, semua dilaluinya sendiri. Keluarga dan kerabatnya juga mengasingkannya. Tapi itu dulu, Luci kini bangkit dari keterpurukannya, dari rasa cemas yang selalu menghantuinya, dan belajar memaafkan semua kenangan buruknya. Bahkan karena dirinya yang baru, dia bisa mengembangkan usahanya di dunia bisnis dan berhasil lulus program Doktor Of Philosophy di luar negeri. Wohoo! good job Luci!

@dianpur

6 thoughts on “Siapa Yang Menjadi Pahlawan?

Comments are closed.