Gender dan Wanita

Foto: instagram.com/tumblrphotoswalpapers

Beranda akun Instagram milikku masih ramai membahas pernyataan Najwa Shihab di Opera Van Java, dengan kutipan seperti ini “kenapa sih perempuan harus disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? pertanyaan itu sejak awal sudah menempatkan posisi perempuan seolah-olah tak berdaya”, Najwa Shihab. Sontak membuat kagum penonton dan aku yang menyaksikannya. Viral dan tak sedikit meme yang dibuat terkait hal itu.

Aku teringat pernah belajar tentang Gender saat menempuh pendidikan magister kebidanan di Unhas, dosennya bernama ibu Nova, wanita lemah lembut dan sangat berwibawa beliau bisa membuat suasana kelas hidup dengan cerita dan tutur bahasanya. Beberapa materi Ibu Nova yang sangat aku sukai adalah tentang konsep gender, kesetaraan gender dan hak perempuan. Kami mahasiswanya diminta untuk review jurnal bertemakan gender yang dihubungkan dengan konsep kebidanan. Aku mencoba review 2 jurnal yang berjudul:

  1. Women’s autonomy and husband involvement in maternal health care in Nepal oleh Deependra Kaji Thapa dan Anke Niehof.
  2. Sexual and reproductive health education needs, gender roles attitudes and acceptance of couple violence according to engaged men and women oleh Community Mental Health Journal from Turkey on 2018.

Dua jurnal ini berbeda tapi memiliki tujuan yang sama yaitu menuntut hak kesetaraan gender dan Perempuan. Jurnal pertama membahas perbedaan peran wanita dan pria dalam rumah tangga yaitu keterbatasan wanita/istri dalam hak pengambilan keputusan. Perannya hanya mencakup kegiatan rumah tangga dan mengelola ekonomi. Sedangkan peran pria/suami adalah memberi nasehat tentang rumah tangga, ikut andil dalam pengaturan keuangan dan membantu istri mengurangi beban dalam tugas rumah tangga. Begitu pula dengan keterlibatan suami dalam peningkatan kesehatan wanita, khususnya dalam menghadapi kehamilan. Suami merupakan stake holder dalam keluarga dan berlakunya budaya tradisional yang mencegah para suami untuk tidak terlibat dalam pelayanan kesehatan pada wanita di Nepal. Padahal sesungguhnya kehadiran suami dalam kunjungan ke fasilitas kesehatan memberikan dampak positif dan rasa nyaman dalam peningkatan kesehatan wanita saat menghadapi beberapa fase kehidupan seperti kehamilan, persalinan dan pasca persalinan.

Jurnal kedua punya objek yang berbeda, terlihat dari segi partisipasinya yaitu pentingnya konseling pranikah pada pasangan guna untuk memberikan informasi mengenai kesehatan seksual, Keluarga Berencana, infeksi menular seksual, pembagian tugas dalam rumah tangga dan perlunya memahami karakteristik calon pasangan demi menurunkan angka deskriminasi gender yang masih cukup tinggi.

Foto: Google.com

Yah, berbicara deskriminasi gender, wanitalah yang paling merasa terintimidasi. Data dari Badan Pusat Statistik tentang jumlah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) perempuan berjumlah 321.752 kasus dan hanya 305.535 kasus yang ditangani sepanjang tahun 2015 sampai 2017 artinya kurang lebih 16.000 kasus belum ditangani secara tuntas.

Menurut aku, kesetaraan hak antara wanita dan pria memang seharusnya ada, tapi secara kondratnya wanita harus tau kemana fitrah dan jalannya melangkah. Memilih itu tidak wajib hukumnya untuk wanita tapi menjalani berbagai macam peran itu tidak menjadi masalah, selagi ia mampu dan sanggup menjalaninya seperti menjadi ibu, istri, juru masak, guru, perawat bahkan tukang reparasi, bukankah hidup itu harus sesuai porsi dan seimbang? Berbanggalah wahai wanita!.

Islam memandang wanita sebagai sosok makhluk yang mulia, bahkan dalam Al-Qur’an terdapat surah khusus tertuang tentang wanita di dalamnya. “Suami itu pelindung bagi wanita (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) di atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. QS An-Nisa:34.

Sudah sepatutnya wanita dan pria saling melengkapi, berjalan berdampingan menjadi satu. Menjadi pelengkap saling berdekap. Hidup sesuai peran memilih berjalan menjadi manusia baik. Bersatu menjadi insan idaman membentuk karakteristik hebat yang terpandang dan berbudi.

Tidak setara bukan berarti lemah. Wanita dan pria itu sama. Lemah lembutnya hati wanita. Dia tetap butuh seorang pria.

@dianpur

Advertisement

16 thoughts on “Gender dan Wanita

      1. kalau yang sudah biasa, ya tidaklah berat. seperti aku berpuisi tiap hari tidak berat. tapi kalau tulisan yang panjang begini, agak berat bagiku

        Like

  1. Halo, Ibu Bidan. Super memanng tulisan ini, senang membacanya.

    Saya bisa melihat penulisan yang sistematis, mulai dari pengenalan masalah, lalu berangsung-angsur memperkenalkan pembaca pada pemecahan masalah, lalu tidak lupa pendapat dari penulis sendiri. Terakhir adalah penutup yang kemas dengan sangat menarik. Tulisan seperti ini mengingatkan saya dengan jenis tulisan seperti essay. Waktu kuliah dulu sering diminta menulis beginian wkwkwk.

    Pembahasan yang sangat menarik soal Gender, Mbak Dian. Pembahasan soal gender ini memang tidak pernah habis ya, apapun dan di mana pun kita akan berhadapan dengan kontrasnya perbedaan gender. Saya kaget sebenarnya, karena dalam pikiran saya, sebagai seorang bidan (yang memang pekerjaan ini dikuasai oleh kaum hawa), Mbak Dian masih merasakan ketimpangan dalam pemahaman akan gender.

    Salam dari saya. Semangat Mbak !

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih mbak ayu.
      Menulis essay atau karya ilmiah memang butuh riset dan data yang sangat akurat, detail dan rinci. Tapi tulisan saya ini, saya hanya ingin menggambarkan apa yang saya tau dan saya pernah lihat. Saya juga tidak menyangka responnya akan seperti ini. Sekali lagi terima kasih Mbak, semangat juga. Salam dari langit makassar 😊

      Liked by 1 person

      1. Tulisan yang disambut dengan antusiasme seperti tulisan Mbak ini menandakan manfaat yang dirasakan oleh pembaca, Mbak. Berbanggalah, dan semangatttt!!

        Salam juga dari Banjarmasin, kota seribu sungai.

        Like

Comments are closed.