Mencicipi Karya Andrea Hirata

Dulu aku sama sekali tidak tertarik membaca karya Andrea Hirata (AH). Sekalipun novelnya meledak di pasaran, aku masih tidak penasaran. Sepertinya gara-gara waktu kelas 6 SD dulu sempat mencoba baca Laskar Pelangi, tetapi langsung tutup buku sebelum bab pertama kuhabiskan. Rifina semasa SD menganggap bahasanya terlalu sulit.

“Kayaknya aku nggak cocok sama gaya bahasa penulis ini. Terlalu tinggi,” kata Rifina saat itu.

Tapi, itu dulu, wankawan.

Foto dari akun Twitter Bentang Pustaka.

Beberapa hari yang lalu aku akhirnya mencoba mencicipi karya penulis kenamaan itu. Yang kuintip adalah bukunya yang berjudul Ayah.

Aku sangat tahu buku ini. Pada masanya selalu terpajang di rak terdepan semua toko buku. Namun, sedikit pun aku tidak tertarik mengintipnya walau banyaaak sekali orang yang memujanya. Bukan karena tidak bagus, hanya (merasa) tidak sesuai selera.

Kembali ke cicip-mencicip. Karena baru coba-coba, aku memulainya dari daftar isi. Kupilih satu bab yang menarik perhatianku. Judulnya Surat. Pilih asal saja, soalnya aku suka surat-menyurat, hehe.

Singkatnya, bab ini bercerita tentang Sabari, sang tokoh utama, semasa SMA. Dia mendapat surat―tapi dia bilang itu puisi―dari pujaan hatinya, Lena. Surat itu dia lihat di majalah dinding (mading) sekolah. Kabar gembira itu langsung dia bagikan ke salah seorang temannya, Ukun, yang tentu tidak serta-merta percaya. Dia bahkan sampai menginterogasi Sabari demi memastikan temannya tidak sedang berhalusinasi. Namun, ternyata Sabari sepenuhnya sadar. Ukun melihat sendiri surat dari inisial nama L itu ada di mading.

Babnya selesai sampai di situ, singkat sekali. Hanya tiga halaman―oke, aku terkejut lagi saat menghitungnya. Setelah membaca bab itu, Rifina kemudian berpikir,

ternyata gaya bahasanya nggak serumit yang kubayangkan, ya?

Aku, jujur, hanyut dalam gaya penceritaan AH. Bahasa dan diksinya tidak ‘semengerikan’ yang kuduga. Malah tergolong sederhana, dengan kombinasi beberapa diksi yang unik. Aku sudah lupa bagaimana penulisan bab pertama Laskar Pelangi yang tidak selesai kubaca, tapi seingatku bahasanya nyastra sekali. Di buku Ayah ini bab-babnya singkat, lugas. Sederhana dan apa adanya, tapi bukan sekedar tempelan.

Ukun, salah satu teman Sabari, langsung menjadi favoritku. Setelah Sabari, sang tokoh utama, tentunya. Ditilik dari dialog Ukun, dia anak yang jenaka. Celetukannya frontal dan tepat sasaran. Uniknya, celetukan itu menghibur selera humorku yang rendah, hahaha. 😂

Yang aku salut dari AH, tulisannya menjadi contoh nyata dari teori “show, don’t tell.” Terlihat jelas di dalam cerita, salah satunya di dialog antara Sabari dan Ukun. Sang maestro puisi mengatakan dia dikirimi puisi, tetapi temannya ngotot itu hanya surat biasa:

“… Dan, itu bukan puisi! Itu surat biasa, apa kau tak bisa membedakan puisi dan surat biasa?!”

“Ai, sejak kapan kau tahu soal puisi? Ujian Geografi saja kau menyontek jawabanku!”

“Cabut kata-katamu! Jangan kau ungkit-ungkit soal itu, Geografi bukan ukuran kecerdasan! Apa susahnya untuk tahu Lee Kuan Yew adalah Presiden Filipina!

Silakan buka Google dan ketik Lee Kuan Yew. Kalian akan menemukan bahwa dia adalah (mantan) perdana menteri Singapura. Inilah yang kusebut “show, don’t tell.” AH menerapkannya dengan sangat baik, dan aku belajar darinya.

Aku masih kaget, ternyata (akhirnya) aku bisa menikmati karya salah satu penulis besar Indonesia ini. 😂 Dalam satu bab saja aku, sebagai penulis kecil, mendapat banyak ilmu baru. Pada dasarnya, penulis memang harus banyak membaca sih. Belakangan aku jarang membaca buku fiksi novel, lagi sering baca jurnal ilmiah. Demi tugas kuliah, hehe.

Oke, ini sudah terlalu panjang untuk ulasan sebuah bab pendek. Aku selalu kebablasan kalau menulis semi curhat begini. 😂 Buku ini jelas akan kulanjutkan bacaannya. Telanjur ter-LENA. Mungkin akan kuulang dari bab pertama biar runut.

Dengan ini, kuakhiri ulasan dari seseorang yang belum pernah menikmati karya AH ini. Apakah kalian jadi ingin membaca buku ini juga? 😁

.

P.S. Aku jadi kepikiran. Sepertinya membaca acak sebuah buku baru bisa menjadi solusi untuk membangkitkan hasrat membaca kita, ya? Daripada cuma jadi pajangan gara-gata hobi beli bukunya aja, hahaha.

12 thoughts on “Mencicipi Karya Andrea Hirata

    1. Hehe. Sebenernya udah langsung nulis di hari KETIK#9-nya rilis, Mas. Tapi kurang sreg sama tulisan sendiri, jadi ditunda―lalu kebablasan. 😂 Untung aja penundaannya nggak kuperpanjang, dan berhasil nulis yang lebih pas~

      Aku tau Sirkus Pohon, sekarang pun jadi penasaran. Tapi beresin Ayah dulu, deh. Hahaha.

      Like

  1. Merasa sangat senasip ini, karena meskipun Andrea Hirata adalah seorang Novelis besar Indonesia, tapi karyanya belum juga sempat kucicipi. Keterlaluan sungguh! Tapi, apa mau dikata, membaca novel bukan sebuah kegemaran hiks. Semoga setelah menyelesaikan buku Ayah ini, semakin minat untuk membaca novel.

    Liked by 1 person

    1. Kirain cuma akuuu, hahaha. :”) Aku juga lagi rendah nih mbak, hasrat membaca novelnya. Lagi banyak tuntutan untuk lebih mendahulukan jurnal ilmiah―alias buat bahan tugas kampus. 😂

      Liked by 1 person

      1. Semangatttt Mbakkkk
        Ia saya pun demikian, pekerjaan menjadi prioritas sekarang. Membaca novel terutama, itu hanya “kapan perlu” saja, dan “ketika ada waktu luang” saja wkkwkwkwk

        Sedihnya

        Like

Comments are closed.