Nyanyi Sunyi Kerinduan

man walking on metal pipe near the road
Photo by Nathan Salt on Pexels.com

Di pintu gerbang perkampungan
Pada rindu yang selalu kita titipkan
Semilir angin tentu telah menyampaikan
Suka duka anak-anak perantauan
Tak mungkin lupa kampung halaman
Tempat menuju kepulangan
Membincangkan kenangan
Merekatkan kembali ingatan

Kampung halaman
Tegalan coklat bebatuan
Ladang yang kita tinggalkan
Gembalaan yang kita tanggalkan
Siapakah yang meneruskan
Kabarnya tegalan tak lagi menghasilkan
Singkong tak lagi dibudidayakan
Bahan gaplek yang dulu diandalkan
Pete melambai menggiurkan
Masihkah ada di perkebunan
Untuk bayar SPP bulanan

Kudengar…
Jati-jati yang makin lebat
Makin padat di sepanjang tegalan
Pada tanah coklat bebatuan
Semoga lebih menjanjikan
Meski butuh waktu semakin panjang
Singkong yang makin ditinggalkan
Kehilangan para penggarap tegalan
Maafkan kami yang pindah haluan
Jauh di tanah perantauan

Sudah lama kudengar
Adik-adik kami pun ganti haluan
Memang tak seperti kami ke perantauan
Tetap menetap di kampung halaman
Oleh para pejabat diijinkan
Pabrik-pabrik baru didirikan
Tidak jauh dari perkampungan
Agar tenaga kerja dalam jangkauan
Menghemat ongkos perjalanan
Juga tak perlu menyiapkan jemputan
Semoga tetap membawa kemajuan

Kampungmanis tanah perantauan, 25 Nop 2019

Terinspirasi dari lagu Simo, Aku Pengen Bali

18 thoughts on “Nyanyi Sunyi Kerinduan

  1. Jika lowongan pekerjaan bisa didapatkan semudah mencarj gorengan, maka saya yang juga bertitel perantau inginnya kerja di kota yang sama dengan anak dan istri.

    Semoga para perantau selalu diberikan kesehatan dan keselamatan di manapun mereka berada

    Liked by 1 person

      1. itu kampung halamanku mas, meskipun sebenarnya secara administrasi bukan, tapi secara sosiologis ya.
        berbahasa jawa mas, maaf kalau sulit memahaminya

        Like

      1. Kita hampir sama (Eh, siapa sih diriku yg sok² menyamakan diri dgn sang maestro). Aku juga sering menuliskan sesuatu tentang kenangan. Tapi, ya gitu deh… cara penulisanku tidak semenarik Pak Narno.

        Liked by 1 person

      2. kita sama-sama belajar kan. masing-masing punya style dalam penulisan. saya suka belajar dari siapapun tentang menulis. saya beranikan sowan ke Pak Tohari demi dapat nasehatnya

        Liked by 1 person

  2. aku juga sering kangen saat ke kampung pak. tidak ada pembangunan berarti di sana, tapi kondisi alam sudah tidak seindah dulu lagi. Dulu sungainya bisa untuk bermain, sekarang sudah kotor dan kering. Mungkin zaman memang semakin tua. Kenangan tinggal cerita. Sekarang tinggal menatap masa depan dan berdoa semoga anak cucu diberi keselamatan dunia dan akherat. amin.

    Like

    1. di kampungku sawah masih ada, sudah menggunakan traktor. untuk tanah tegalan yang memang kehilangan penggarap, maka banyak dijadikan hutan jati. Tak ada lagi yang menggembala sapi atau kambing. Sungai agak lumayanlah, tidak kotor. Untuk sungai kusiapkan tersendiri sebuah puisi: Hujan dinanti Anak bengawan (maksudnya sungai anakan bengawan solo)

      Like

Comments are closed.