Lingkaran Dan Karakter Yang Aneh

penampakan-asli-lubang-hitam-bakal-terungkap-10-april-2019-PSl4LMbwBK

Membicarakan tentang orang-orang yang berada di dekatmu, seperti membicarakan Matahari Cinta dengan 9 atau 8 planet yang mengintarinya. Mereka mengorbit secara teratur, sehingga karakteristiknya dapat terdeskripsikan dengan lebih jelas. Misalnya yang terdekat dengannya adalah Merkurius. Yang timbul-tenggelam dan masih dipertanyakan baginya adalah Pluto. Tetapi masalahnya aku bukan Matahari Cinta yang bersinar dengan planet-planet yang mengorbit secara teratur di sekitarku. Pun bukan pula planet yang bercahaya dengan satelit-satelit yang melintas dalam 24 jam. Aku adalah supernova, bintang yang telah memudar dan berubah menjadi lubang hitam, tak memiliki lintasan kepada siapa aku mengorbit dan tak punya lintasan bagi yang lain untuk berorbit. Subyek-subyek yang dulu mengorbit dengan berbagai lintasan telah lama hilang. Circle, lingkaran, elips, bujur sangakar ataupun titi-titik diskret yang terjadi tidak tetap, datang dan pergi. Obyek-obyek pengamatan yang berupa kilasan-kilasan cahaya juga semakin nge-blur. Menjadikan garis-garis maya antara realita dan imajinasi menjadi sangat tipis dan semakin sulit dibedakan.

Dekat dan jauh tak lagi bisa diukur dengan jarak. Sirkel atau lingkaran, elips pun bujur sangkar tak lagi dapat menentukan titik dekat dan jauh. Sinar-sinar yang melalui lensa-lensa optik pun telah berubah arah. Dan berbicara tentang mereka; mendeskripsikan tentang mereka seperti melalui timeline yang paralel; masa lalu, masa kini dan masa depan berjalan serentak.

Tentang temanku Albar dan Kristin, aku sudah menyinggungnya sedikit dalam cerpen naifnya cinta. Albar sekarang sudah menikah dengan Anisa. Tentang Zakiyah guru Sejarah Islam, juga beberapa hari yang lalu sudah ku ceritakan di cerpen Maulid Diba. Tentang Sarah dan Pak Jono, sudah bertahun-tahun yang lalu aku ceritakan dalam cerpen yang berjudul sama. Tentang Kliwon, Yanto, Kang Paijo dan Kang Paidi sudah banyak aku ceritakan tentang mereka. Jadi aku akan memperkenalkan beberapa di antara sahabat-sahabat terbaik saya: Idris dan Ridho. Juga beberapa sahabat yang sekaligus menjadi guru dan murid, yang senantiasa bisa menjadi obat penawar ketika lelah menerpa.

Idris. Aku berkenalan dengannya beberapa tahun yang lalu di sebuah kedai kopi di sekitaran selokan Mataram, Jogja. Perkenalan itu terjadi karena aku menemukan sebuah identitas yang sangat aneh. Beberapa hari sebelum bertemu dengan Idris, pada suatu malam ketika aku mendaki gunung, aku bertemu dengan seorang perempuan yang misterius. Perempuan itu sempat menginap di tendaku. Pagi harinya aku tidak menemukan perempuan itu, dia pergi tanpa pamit dan meninggalkan keril. Di keril itu kutemukan identitas Idris. Aku menelpon Idris dan minta bertemu dengannya di kedai kopi itu. Idris datang dari arah barat, hujan bulan Desember tak menyurutkannya untuk bertemu denganku. Pertama kali aku bertemu dengannya, ia tersenyum hangat. Ia adalah pemuda yang sangat tampan. Tingginya sekitar 170-an. Rambutnya hitam legam dan lurus. Idris menyalamiku. Genggamannya sangat kokoh dan mantap. Dari cara menatapnya yang tenang, fokus dan penuh perhatian, aku tahu Idris adalah orang yang sangat percaya diri. Kami kemudian mengobrol panjang lebar sampai akhirnya ketika aku mengutarakan maksud mengapa aku ingin bertemu dengannya. Aku hendak mengembalikan keril itu, apakah ia mengenalnya. Ia terkejut. Wajahnya pias dan tiba-tiba menjadi pucat.

Ridho. Beberapa bulan setelah bertemu dengan Idris, ia memperkenalkan aku dengan Ridho. Perkenalan yang aneh. Perkenalan itu masih berkelindan dengan keril yang ditinggalkan kepadaku oleh perempuan yang misterius itu. Dari cerita Idris, Ridho bertengkar dengannya. Ridho tidak mempercayainya bahwa cerita tentang keril itu memang beneran ada, dan aku yang menemukannya. Aku menjadi saksi pertengkaran antara Idris dan Ridho. Sangat kontras dengan Idris, pertama kali melihat Ridho, ia seperti orang yang sedang menahan amarah. Ridho seumuran dengan Idris, libih tinggi bebebrapa senti dari idris, agak cuek dan kata-katanya tajam. Pertama kali bertemu dengannya ia memakai kaos dari sebuah band metal—Megadeth—, celana jins yang kumal dan sepatu boot yang terlihat berat. Kelak aku tahu, bahwa dia memang anak metal. Dari Idris dan Ridho aku menemukan sebuah hugungan persahabatan yang unik. Bagaimana dua orang yang berlainan karakter bisa nge-bland, katanya mereka telah berteman selama lima tahun. Aneh.

5e770dca09a463351dc51146d60e81e0

Alif Rahma, Ria Musfika dan Arlin Intania. Tiga di antara 10 muridku yang entah bagaimna bisa membuat lelah di sekujur tubuh seketika hilang. Sepulang kerja, badan capek, pikiran keruh dan hati sangat jenuh, tetapi begitu melihat mereka—kesepuluh anak titipan Allah itu—semua kelelahan yang kuderita, lelah yang bisa berganda dan hal-hal lain yang menggangguku itu seketika hilang. Aku menemani mereka dari jam 17.00 hingga jam 17.45, sebentar… biar aku ralat sedikit, merekalah yang sebetulnya menemaniku selama 45 menit di hari Senin sampai hari Ahad. Yak tapi… hari Jum’at tadi, entahlah mereka ke mana, aku menunggunya dan mereka tidak muncul. Ketidakmunculan mereka tiba-tiba membuatku sadar, tubuh saya lungkrah, seperti kurang olahraga.

Alif Rahma. Teman-temannya memanggil dengan Rahma, aku memanggilnya Mbak Alif. Mbak Alif baru berumur sekitar 11 tahun, tetapi dia menunjukkan kedewasaan. Ia penyayang kepada teman-temannya. Ia bisa menjadi kakak bagi yang lain, senantiasa membantuku membimbing Arlin dan Ria dalam mempersiapkan hafalan yang kuberikan kepada mereka. Ya Mbak Alif bersama Mas Adit yang sering saya temui sebagai murid yang paling banyak setor hafalan. Ingatan mereka sangat kuat. Mbak Alif, perangainya lembut tidak tergesa-gesa dan rapi.

Ria Musfika. Ia biasa dipanggil Ria, saya memanggilnya Mbak Ria binti Rusdi. Ia murid paling rajin. Daftar kehadirannya nyaris tak pernah kosong. Jika murid-murid yang lain berebutan untuk menjadi yang nomor satu, ia mengalah dan mempersilakan teman-temannya lebih dulu. Mbak Ria binti Rusdi murid yang paling kritis, ia sering mengingatkan aku kalau saya melupakan janji. Mbak Ria binti Rusdi juga paling proaktif, ia sering bertanya tentang hal-hal yang ingin diketahuinya. Meskipun ia agak keteteran dalam hapalan, dia paling rajin mencatat. Anak yang luar biasa.

Arlin Intania. Saya memanggilnya Mbak Arlin. Murid yang paling kusayangi. Seharusnya tidak boleh kan kita membeda-bedakan antara murid yang satu dengan yang lain? Seharusnya tidak beda, dan semoga tidak menimbulkan kecemburuan. Kenapa saya begitu menyayangi Mbak Arlin? Karena ia paling muda, paling butuh bimbingan dan paling butuh perhatian. Mbak Arlin adalah murid paling semangat dan pantang menyerah. Meskipun yang lain sudah mencapai level-level yang jauh lebih tinggi, ia tidak minder dan bahkan menunjukkan bahwa ia siap belajar.

Di awal pertemuan ia tidak mau belajar seperti yang aku sarankan. Ia maunya belajar di tingkat yang sama dan cara yang sama pula dengan teman-teman yang lain. Aku pun mengabulkan permintaanya. Aku mengamati tidak ada peningkatan selama tiga bulan pertama, bahkan aku berpikir dan berkesimpulan jika ini dilanjutkan akan semakin memperburuk keadaannya. Aku pun kembali menyarankannya untuk turun level agar lebih sesuai dengannya. Ia protes, marah dan menangis. Aku jengkel. Lalu dua minggu setelah itu dia tak pernah datang. Aku diliputi oleh pertanyaan, apakah aku salah karena mengatakan cara itu tidak sesuai dengan levelnya dan apakah aku terlalu keras sampai dia tidak datang lagi. Aku berupaya untuk berpikir mungkin saja dia minder dengan teman-temannya jika aku tidak mengabulkan apa yang diinginkan. Setelah tak lagi berharap akan datang, dia muncul lagi. Dan bilang bahwa ia hanya ingin belajar dan sanggup belajar apa pun yang disarankan jika aku yang menemaninya. Aku setuju. Mbak Arlin adalah anak yang sangat usil. Dan yang paling sering membuatku tertawa, ia selalu minta ijin untuk apapun yang ingin dia lakukan. Paling suka bersih-bersih dan mengatur temannya dalam kebersihan. Anak yang sangat unik dan imajinatif.

Dua lingkaran sisanya Bubu, Diki dan Ali

Bubu. Nama aslinya aku rahasiakan. Aku bertemu dengannya tahun 2012. Sejak hari itu ia hampir selalu menemaniku pergi, saking seringnya menemani, ia seperti bayangan dari diriku sendiri. Kadang aku berpikir sebagian jiwaku adalah milik Bubu. Deskripsiku tentang bubu hanyalah ia gesit, lincah dan setia. Ketika aku pergi ke Banyuwangi dan menginap selama seminggu di rumah kawan, ia menemaniku. Ketika di musim hujan dan aku ingin berlibur ke Gunung Lawu, ia dengan senantiasa menantiku kembali.

Diki dan Ali. Ketika orang membicarakan Diki, pasti ia akan membicarakan Ali begitu pula sebaliknya. Diki dan Ali adalah dua orang yang berbeda. Jika dua orang ini sedang jalan beriringan kamu akan menemukan pemandangan yang ganjil. Kamu akan menjumpai Diki selalu memakai peci hitam, sementara kamu akan menjumpai Ali selalu mengenakan jersey. Diki sangat setia dengan pecinya. Sholat pakai peci, takziah pakai peci, kondangan pakai peci, nonton film pakai peci bahkan bal-balan pun pakai peci. Begitu juga Ali, sangat setia dengan kaosnya. Bal-balan pakai kaos, nonton film pakai kaos, kondangan pakai kaos, takziah pakai kaos dan bahkan sholat pun pakai kaos.

Selamat malam inilah #Ketik7 dan sampai jumpa.

Advertisement

11 thoughts on “Lingkaran Dan Karakter Yang Aneh

    1. Skill bisa dilatih, Mas. Kuncinya cuma tuliskan saja apa yang dipikirkan dalam 10 menit dan jangan berhenti ataupun mengoreksi. Biarkan typo dan biarkan saja seandainya ada kalimat yang tak nyambung.

      Liked by 2 people

  1. lingkarannya unik. bersyukur memiliki teman-teman yang baik seperti itu.

    kalau boleh tahu, murid-murid di sini itu murid apa?

    Sdikit kireksi : bujur sangakar ataupun titi-titik (bujur sangkar dan titik-titik)

    Like

Comments are closed.