Kura-kura Mosiliana

Gambar dari pinterest

Mengerjakan ketik pada kesempatan kali ini saya akan menyumbangkan satu cerita pendek tentang seorang guru bernama Mos. Mengerjakan ketik saya bawa enjoy saja dan semoga bisa dinikmati oleh pembaca. Mengerjakan ketik ke-6 membuat saya semakin tertantang dan semangat pasalnya saya sudah tertinggal beberapa ketik. Untuk itu saya sempatkan waktu untuk segera mengejar ketertinggalan. Kalau begitu mari simak cerita pendek yang saya buat untuk tantangan ketik kali ini.

Kura-kura Mosiliana

Di kampung itu tempat Mos mengajar, tempat destinasi wisata yang lumayan terpencil, berada di ujung sulawesi selatan Indonesia. kampung yang indah, berada di pinggir pantai dan suasana yang asri. Seekor kura-kura mungil terlihat di ujung tangga. Diambil seekor kura-kura yang tersesat di rumah yang dia tempati. Kepada angin dia bertanya, apakah kura-kura ini tersesat atau memang sengaja datang karena tahu Mos begitu menyukai kura-kura? Entah. Ke mana kura-kura ini hendak pergi? Apakah dia biarkan saja dirinya terhempas angin sampai ke sini, kata Mos dalam hati. Terlihat kulit wajahnya mengerut tapi ada juga rasa bahagia.

Sejak kuliah dulu Mos adalah penggemar berat kura-kura prinsip hidupnya hampir sama dengan kura-kura yang “berjalan lambat” tapi kalau masalah tahu arah tujuan entah kura-kura tahu atau tidak, tapi kalau Mos sendiri sudah pasti tahu arah yang hendak dia tuju. Hal yang dia sukai adalah bersembunyi dalam cangkang, ketika dia ingin memperhatikan seseorang dari jauh. Begitulah sikap Mos, kepada seseorang yang diam-diam dia suka. Jangan tertawa kalian pun pasti akan melakukan hal yang sama ketika menyukai seseorang dan malu untuk menyatakannya. Lupakan Mos itu hanya masa lalu saja. Mos memejamkan mata sambil menutup mukanya dengan telapak tangan pertanda dia ingin melupakan masalalunya itu.

Adalah hal yang biasa untuk urusan perasaan, namun dia pun tidak tahu, rasanya dia masih tersesat jauh sampai sekarang membawa perasaan itu. Dia anak ke-1 dari dua bersaudara, dia sudah berumur, baru saja anak murid kesayangannya memberikan kejutan ulang tahunnya yang ke-25, begitu tersesat, dia sampai sekarang pun tidak bisa melupakan seseorang itu. Berada di tempat ini juga merupakan salah satu niatnya untuk pergi dan melupakan apapun yang ada di masa lalu. Bagaimanapun masa lalu tetaplah masa lalu. Kalaupun dia berjodoh pasti akan dipertemukan kembali. Hanya kepada-Nya Mos melantunkan doa-doanya hingga ke penjuru langit, semoga yang terbaik diberikan oleh-Nya, Mos sangat yakin ketentuan-Nya yang terbaik sebagai jalan hidup Mos.

Kini hanya Lutfiah temannya bercerita selama di kampung, di desa Punaga tempatnya mengajar. Lutfiah anak kepala desa di sini, dia juga menjadi murid kebanggan Mos sebab anak itu pintar dan semangatnya sangat tinggi. Setiap malam Lutfiah datang diantar oleh Bapaknya untuk menemani Mos di tempatnya sekarang dan juga untuk berlatih puisi, pelajaran yang paling dia sukai.
Dielusnya cangkang kura-kura yang ukurannya hanya sebesar telapak tangan itu. Ibu Mos dapat dari mana kura-kura itu? Mungkin hujan yang membawanya sampai di sini, jawab Mos. Semalam memang hujan sangat lebat dan Mos hanya bisa meringkuk kedinginan di atas ranjang. Ketika Lutfiah sudah lebih dulu tertidur, maka pikiran Mos merambah ke mana-mana, dia merindukan ibu, adik, bapak, sahabat, teman dan juga dia. Sampai-sampai dia juga memikirkan jalan keluar agar tidak terjebak perasaan bodoh yang sudah lama dia rasakan itu. Hujan semakin lebat ketika Mos memilih untuk berdiri di jendela melihat keluar, kaca jendela yang berembun.

***

Kemari Lutfiah, coba lihat kura-kura ini, cantik kan? Mengapa Ibu sangat suka sama kura-kura? Karena kura-kura sama dengan prinsip hidup Ibu. Tapi kalau boleh tahu darimana kamu tahu bahwa ibu suka dengan kura-kura? Anu Ibu, kemarin saat Ibu keluar dari kelas, Agus menemukan buku berwarna ungu di bawah meja guru tercecer katanya, tapi kata Agus lagi dia tidak tahu itu buku apa dan milik siapa, terus dia baca deh. Tapi saya tahu pasti itu buku Ibu Mos karena buku itu yang selalu dibawa Ibu. Tapi, saat itu saya sedang ke WC dan datang setelah Agus sudah membaca beberapa halaman buku itu, dan memberi tahu kepada saya. Mos terlihat sedikit panik, jadi di mana buku itu sekarang?

Lutfiah menunduk dan menjawab bahwa buku itu berada ditangan Pak Marlin. Mos semakin panik karena buku berwarna itu adalah dairy sejak kuliah. Jangan sampai Pak Marlin membaca buku itu.

***

Ketemu di tempat biasa, baru buku itu aku kembalikan. Kenapa harus di sana, Mos terlihat kesal. Dasar cari kesempatan saja. Setelah mengajar Mos dan Pak Marlin segera ke sana.

Teluk laikang tempat mereka menghabiskan penat usai mengajar dan tempat ini diperkenalkan oleh Pak Marlin kepada Mos saat mereka dulu mulai akrab, mereka sering ke sana.

Aku sudah membaca dairy itu bayangkan 300 halaman dan isinya hanya tentang seseorang itu. Mos terlihat kesal, terus tidak boleh? Tidak.

Oh iya kamu sudah dapat kura-kura kirimanku? Aku rela ke pasar untuk mencari kura-kura itu, karena kalau saya menunggu di pinggir pantai kemungkinan pasti kura-kura tidak datang.

Ternyata kamu.

Pak Marlin tersenyum wajahnya terlihat seperti meledek Mos.

The end, bagaimana ceritanya? Semoga kalian terhibur dengan kisah singkat di atas.

3 thoughts on “Kura-kura Mosiliana

  1. Waktu kecil saya juga punya kura-kura, dimasukkan ke dalam kolam kecil bersama ikan hias. Tapi besok pagi kura-kuranya hilang. Kupikir kura-kura suka air. Ternyata aku belum bisa membedakan mana kura-kura dan penyu.

    Cerita yang bagus. Aku suka.

    Btw, alangkah lebih baik jika dicetak tebal untuk kata yang dimaksudkan sebagai contohnya.

    Dan nya utk Tuhan tjdak ditulis dengan garis bawah (_Nya) melainkan -Nya

    Like

Comments are closed.