Gara-Gara Kakak Lupa

Semilir angin menerbangkan beberapa helai rambutku. Dan pak Tomo masih asyik menjelaskan tentang PREPOSISI kepada kami semua. Dalam perjalanan belajar anak sekolah, aku yakin kalian akan sangat kebingungan mencerna setiap perkataan pak Tomo. Guru dengan satu gigi itu adalah satu-satunya guru bahasa yang kami punya. Nah, aku tidak ingin membuat kalian pening. Maka akan aku jelaskan ulang saja lewat satu cerita.

Alkisah di sebuah desa, ada satu keluarga yang setiap harinya berkebun di ladang. Ada seorang ayah, ibu, dan kedua anaknya. Mereka suka menanam sayuran dan buah-buahan. Bahkan ketika musim panen tiba, dengan senang hati buah atau sayur itu dibagikan kepada semua tetangga. Keluarga itu memang dikenal sangat baik hati dan tidak sombong.

Suatu hari, saat panas menyengat kulit. Anak terkecil meminta kepada sang ibu untuk merebus ubi. Sang ibu yang sedang ke pasar tidak mengetahui hal itu. Sebab anak terkecil menyampaikan lewat perantara kakaknya. Sayang seribu sayang, sang kakak melupakan pesan tersebut. Ketika ibu pulang dan masuk rumah, sang anak merasa terabaikan. Dia marah, sang ibu pun tidak tahu asal muasal kejadian tersebut, jadi dia memilih diam.

Ayah pulang bersama sang kakak. Ayah membawa singkong, ubi, dan pisang. Ayah bingung melihat rumah yang sepi, ayah melihat ibu dan sang anak saling diam. Ayah mendatangi mereka berdua di beranda. Duduk bersama mereka, menengok kanan dan kiri. Lalu berkata, “hari ini ulang tahun ayah yang ke-45 tetapi kenapa belum ada yang memberi selamat? Padahal ayah selalu berdoa kepada Tuhan, agar senantiasa melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada keluarga kecil kita. Ada yang mesti ayah pertanyakan, ada apa sampai kalian seperti ini?”

Sang ibu hanya diam dan saat tatapan ayah tertuju ke arahnya, dia menggeleng. Meskipun dia tidak tahu tapi dari tatapan ayah menunjukkan kekecewaan. Seandainya dia mau bertanya mungkin hal ini tidak akan terjadi. Tatapan ayah beralih pada sang anak. Dia berucap lantang hingga urat-uratnya keluar.

“Begitu ayah bilang kita harus saling mengerti. Namun yang dilakukan ibu, sekalipun ibu minta maaf padaku, jangan harap aku mau memaafkan!”

Sang ayah kembali bersua tetapi dengan suara lebih lembut. “Jikalau kamu tidak bercerita, bahkan ayah pun tidak akan pernah mengerti apa maumu.”

“Katanya batin ibu kuat untuk anak-anaknya. Menuruti keinginanku pun tak mampu, apalagi mengerti diriku.”

Setelah sekian lama terdiam, sang ibu akhirnya angkat bicara. “Sudahlah Yah, kalau memang tidak mau cerita tidak masalah,”

“Ya Allah, kakak lupa. Harusnya aku menyampaikan pada ibu, jika adik ingin ubi rebus dan kakak ingin singkong goreng. Kakak akhirnya meminta maaf kepada semua. Jelas sudah duduk persoalan mereka. Semua yang ada di beranda menatap kakak. Ternyata itulah sebabnya, memang kalau sudah lupa tidak bisa disalahkan. Bagaimanapun lupa adalah manusiawi. Saling menyalakan yang tidak ada buktinya adalah percuma. Paling yang bisa dilakukan hanya bersabar dan ikhlas. Sebab, orang-orang sabar selalu berada dekat dengan-Nya.

Mereka akhirnya saling memaafkan dan menghitung jumlah singkong yang mereka peroleh. Sebenarnya saat ayah belum pulang, dia sudah menghitungnya. Namun hanya sampai singkong yang ke-2, padahal ada banyak karung. Ayah juga berencana untuk merayakan hari jadi pernikahannya yang ke-25 tahun. Oleh sebab itu dia bekerja keras hari ini. Setelah selesai terhitung semua, mereka memasukkan singkong tersebut ke dalam karung.

Kemari!” kata ayah sambil merentangkan tangan. Mereka berpelukan, dan bersyukur keluarga mereka masih dalam perlindungan-Nya.

5 thoughts on “Gara-Gara Kakak Lupa

  1. Bagus sekali ceritanya, Devi. Sebuah konflik keluarga kecil yang sederhana hanya karena hal sepele : lupa. Ceritamu mengalir, mampu membawa pembaca sampai paragraf terakhir.

    Preposisinya dan imbuhan sdh benar semua. Good.

    Liked by 1 person

Comments are closed.