Nenekku Pahlawanku

Gambar dari pinterest

Pahlawan itu, dia yang tidak mesti selalu ada untuk membuat kita lebih baik, tapi dia yang berjasa dan sampai sekarang masih dikenang. Dia tidak mesti punya segalanya untuk membuat kita bahagia. Dia tidak mesti selalu melucu untuk membuat kita tertawa. Dia tidak meski sempurna untuk memberikan kita cinta dan kasih sayang. Dia adalah segalanya, rela berkorban jiwa dan raga. Rela merasakan pahit demi sesuatu yang disayangi. Dia berjuang dan pejuang sejati. Tentunya dalam hidup ini, masing-masing dari kita punya sesorang yang dapat kita sebut seorang pahlawan. Orang yang kita anggap berjasa dalam hidup ini. Aku juga punya seorang pahlawan, yang berjasa dalam hidupku, yang rela berkorban untukku.

Adalah nenek bisa kusebut dia adalah pahlawaku, jadi teringat lagu wali “nenekku pahlawanku” kunyayikan dulu satu bait lagu yang penuh makna itu.

Aku tak menangisimu huhuhu
Kumasih bisa tertawa hahaha
Walau kau telah lukai aku
Nenek bilang kuat-kuat~~

Aku malah keasikan menyanyi. Sudah, lupakan dulu soal lagu itu. Aku akan menceritakan pahlawanku ini. Adalah nenek, diusianya dulu , dia rela merawatku sepenuh hatinya. Memberiku kasih sayang, lebih dari anaknya. Memang begitu yang kudengar dari beberapa orang katanya “ketika seseorang sudah punya cucu, maka cucunya akan lebih disayangngi dari pada anaknya sendiri.” Barangkali begitu, tapi apakah itu benar adanya dirasakan oleh semua nenek di penjuru dunia, entah. Tapi, perkataan itu sudah dibuktikan oleh nenekku, tapi mungkin saja banyak nenek-nenek diluaran sana yang tidak lebih sayang kepada cucunya.

Ingatanku pun kembali ke masa lalu. Dulu nenek senang menyediakan sarapan dan juga bekal untuk kubawa ke sekolah, banyak teman-temanku yang lain tidak membawa bekal, padahal mereka lebih beruntung dariku karena diurus oleh orang tua mereka. Tapi, itu dulu pas masih SD. Sangat jelas juga diingatanku saat nenek memberikanku uang jajan yang tidak pantas untuk anak SD, menurutku sangat lebih. Jadi, aku bisa menabung uang jajan yang diberikan nenek.
Bahkan aku masih sangat ingat apa yang dilakukan nenek setelah memandikanku saat kelas dua SD dulu, pernah lihat anak bayi? Tubuhku dibaluti sarung lalu digendong, dan dicium-cium. Hahaha, bahkan untuk saat ini aku malu untuk menceritakannya.Tidak hanya sampai di situ, dulu pernah ada suatu kejadian tepatnya saat aku pulang sekolah. Tasku bolong, aku berjalan di depan sementara teman-temanku sebagian berjalan di belakang. Sampai di rumah ternyata tasku sudah penuh dengan sampah plastik, pembungkus kerupuk, pembungkus es lilin, dan pembungkus es kue.

Nenek terlihat geram saat itu dan bertanya kepadaku, siapa yang melakukan itu? Aku jujur saja, itu perbuatan anak tetangga dan juga teman kelasku yang lain. Keesokan harinya tiba-tiba saja mereka minta maaf kepadaku, aku heran, akhirnya bertanya pada nenek dan dia menjawab telah menasehati teman-temanku yang kemarin memasukkan sampah ke dalam tasku.
Nenekku terlihat sangat hebat bak pahlawan yang siap menyerang musuh dan melindungi sesuatu yang disayanginya. Dia juga pandai mencari uang, begitulah saat kakek meninggalkannya juga. Dia sempat menceritakan tentang pahit dan getirnya hidup yang dia jalani. Katanya dulu di kampun itu tak ada aliran listrik dirumahnya, hanya sebagian orang yang rumahnya dialiri listrik, seperti orang-orang kaya. Jadi ketika, anak-anaknya ingin nonton TV maka, dia akan mengantar anak-anaknya menyusuri malam dan jalan yang gelap. Wah keren sekali nenekku itu.

Sekarang, aku hanya bisa membayangkan itu semua, nenek telah meninggalkanku kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Aku sangat merindukannya. Merindukan sosok pahlawanku. Namun, meski dia tidak ada lagi di dunia tapi semua yang dia lakukannya untukku akan selalu kukenang, terima kasih nenek telah mengajarkanku untuk menjadi seorang nenek yang baik untuk cucu-cucuku nanti. Hahahaha.

Teruntuk nenek yang sedang aku rindukan saat ini, semoga kau tenang di sana, semoga ajaranmu dapat kuterapkan kembali pada anak dan cucu. Tulisan yang bertemakan pahlawan ini mengingatkanku padamu. Mengikis kembali rinduku yang sudah sepuluh tahun kusimpan. Mengerakkan ragaku untuk menyumbangkan satu puisi untukmu. Ini bukan sekedar puisi tapi ungkapan rasa kehilangan bersatu dengan kerinduan. Terima kasih sudah menjadi pahlawan di dalam hidupku.

Puisiku untukmu pahlawanku

Kala matamu tertutup
Sayup lembut kelopaknya
Mengalunkan melodi seperti biasa, saat orang kehilangan
Untukmu aku juga menyumbangkan melodi.

Kala nafasmu tak berhembus lagi Seyup lembut bibir indahmu
Mengalunkan melodi seperti biasa, saat orang kehilangan
Untukmu aku juga menyumbangkan melodi.

Kala ragamu sudah bersatu dengan tanah
Sayup lembut tak bisa kugambarkan lagi
Mengalunkan melodi seperti biasa, saat orang kehilangan
Untukmu aku juga menyumbangkan melodi.

Kini jasadmu tak ada lagi
Kini jasamulah yang abadi
Aku mengalunkan lagi melodi itu
Indah, merdu, menyatu dan dengan kerinduan.

2 thoughts on “Nenekku Pahlawanku

  1. Waah.. cucu yang baik nih. Tetap mengenang seorang nenek yang pernah menyayangi sepenuh hati saat hidupnya. Tulisan yang bagus, Chan. Tinggal kalau sempat ada beberapa typo yang perlu diperbaiki. Pasti akan lebih cakep lagi dibacanya.

    Tetap semangat ya. Nulis terus.

    Like

Comments are closed.