Pinalti Atau Kartu Merah

images

Di malam yang sesunyi ini, well seperti lagu Crisye—Kisah Cintaku—yang dipopulerkan lagi oleh Peterpan, aku sendiri. Tak ada yang menemani. Akhirnya kini ku sadari… hanya kehangatan lampu meja yang menemaniku malam ini untuk menulis #Ketik6, ‘mungkin’ #Ketik7 sekaligus. Apa yang harus aku tulis untuk mengisi #Ketik6? Preposisi. Apa itu preposisi? Ah mbulet… kalau saya harus menjelaskannya. Lebih baik kamu baca apa itu preposisi di tautan yang sudah ditulis oleh admin Ikatan Kata, klik di sini. Bagaimana saya akan memulai menulis preposisi? Saya lebih suka menggunakan feeling. Saya percaya feeling adalah hal lain, cabang yang sama dari intuisi, juga merupakan suatu anugrah-Nya. Tetapi feeling kan tidak bisa dipertanggungjawabkan sebagai metode ilmiah. Hem…! Mungkin kamu kudu main lebih jauh lagi ya, kudu belajar lagi apakah segala hal harus selalu ilmiah atau tidak. Topik ini dibahas lain kali saja ya, sekarang membahas #Ketik6 wae.

Hem…! #Ketik6.

Kalau kamu tak memahami petunjuk yang harus dilakukan dalam #Ketik6, kamu tak sendirian kawan. Aku pun tak memahaminya. Tetapi saya berani taruhan, kok, kalau dihitung hasilnya akan menunjukkan bahwa lebih banyak yang memahami petunjuk di #Ketik6 daripada yang tidak. Sebab aku lebih suka membuat hal-hal yang sederhana menjadi rumit dan aku tak bisa menolongnya, karena itu alamiah. Di usia yang lebih muda, aku pasti banyak tanya ketika menemukan petunjuk yang tak bisa aku mengerti. Tetapi sekarang, setelah mencoba memahami beberapa karakter member lewat obrolan di grup WA, aku ogah ribut… buang-buang tenaga. Lalu bagaimana kamu akan menyelesaikan #Ketik6, Ndi? Saya lebih suka menggunakan feeling. Menerka-nerka ke dalam pikirannya, apa sih yang sebetulnya diinginkan.

Tapi apapun itu, apa pun yang diinginkannya aku tak terlalu peduli, itu yang pertama. Yang kedua walaupun aku peduli, tak ada jaminan ia dapat menjelaskannya dengan lebih baik. Sebab yang paling penting terhadap rasa kebahasaan adalah apa yang ada di dalam pikiranmu dan bagaimana cara kamu menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Tak terlalu penting mana urutan yang pertama, yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, jika rasa kebahasaanmu hampa dan pikiranmu kosong, ya tak begitu banyak bermakna. Paham kan dengan apa yang saya maksud? Mungkin sekarang saya akan kena hukuman pinalti, karena menulis hal-hal yang negatif. Ah macam sepakbola saja ada pinalti. Tapi bodo amatlah… lebih baik saya mendapatkan hukuman pinalti daripada pikiranku terpenjara.

Apakah itu masih penting sekarang, untuk membuat hingga 27 kalimat?

Terkadang tidak perlu setiap tantangan harus selalu kau sanggupi. Karena yang terpenting adalah makna mengapa tantangan itu kau ambil dan menjadi bagian dalam hidupmu. Selamat malam dan sampai jumpa.

11 thoughts on “Pinalti Atau Kartu Merah

  1. Suka dengan kalimat penutup tulisan ini,
    “Terkadang tidak perlu setiap tantangan harus selalu kau sanggupi. Karena yang terpenting adalah makna mengapa tantangan itu kau ambil…”.

    Dalemmm

    Like

      1. Hi, Kak. Berbicara soal ‘kepentingan’ ini agak sulit, karena kita akan berhadapan dengan yang namanya, “Pendapat masing-masing” dan “Maksud dan niatan masing-masing”. Ya, “masing-masing”.
        Apa yang kita anggap baik, belum tentu adalah baik bagi orang lain. Sulit yaa wkwkwkwkw

        Like

Comments are closed.