Preposisi Sekali Duduk

kursi via pinterest

Ada yang menantang di Ikatan Kata kali ini. Masing-masing anggota diminta untuk membikin contoh-contoh kalimat ber-preposisi. Sebenarnya saya agak malas mengurusi hal-hal PUEBI. Printilan semacam ini sudah bukan makanan saya yang tak lagi berstatus anak SMA atau mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia. Saya pun bukan editor sebuah redaksi juga bukan guru mapel Bahasa Indonesia yang karib sekali dengan preposisi.

Tapi, daripada disetrap Mas Hp dan Mas Fahmi, meskipun agak keteteran, saya lebih memilih posting di sini saja. Toh, bagaimanapun saya mesti menuntaskan tantangan ini. Tak usahlah saya bikin dalam bentuk narasi seperti teman-teman yang lain. Cukup dengan dialog suka-suka saja. Seperti berikut :


“Sungu, aku kepingin.”

“Apa! Siang bolong begini? Pelacur Banyuasih jelek-jelek, Raden. Dibayar sekalipun aku tak sudi.”

“Bukan itu. Coba lihat ke sana.”

“Sapi? Jangan bilang Anda mau mencuri! Ini sudah yang ketiga kali sejak perjalanan ini, Raden. Eling. Aku tak mau yang keempat membawa sial.”

“Tenang saja. Itu belum terjadi. Sebelum kita mencari orang bernama Loki Tua, kita berburu sebentar. Kau pun sudah lama tak merasakan nikmatnya daging lulur sapi, kan?”

“Tapi Raden, dengar-dengar di desa ini pencuri yang tertangkap akan ditelanjangi dan dilempari tahi kuda.”

“Dan kau percaya itu, Sungu Lembu?”

“Duh, bukan. Maksudku batalkan niat Anda. Kita kemari bukan untuk cari masalah.”

“Benar. Kita ke sini untuk mencuri sapi. Lagipula, seperti biasanya, aku pun akan meninggalkan sejumlah uang sebagai imbalan.”

“Itu juga yang tidak kusuka.”


Dialog itu saya karang berdasarkan situasi dalam novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi. Omong-omong kalian pernah baca novel karya Yusi Avianto Paraenom tersebut, belum? Coba deh.

Kembali ke preposisi, ada yang bikin saya penasaran soal pemakaian -Nya dalam puisi. Seperti puisi Candra Malik berikut, ungkapan ber-preposisi -Nya terungkapkan secara jelas.

Tuhan menciptakan manusia dari tempat persembunyian-Nya
di mana tidak ada siapa pun melihat-Nya meramu lamun
Dari segenggam sunyi, dijadikan-Nya segumpal hati

Tapi, terkadang saya pun menemukan puisi bermakna ketuhanan dengan preposisi -Nya yang ditulis kecil. Apa karena puisi tersebut bisa dibaca ganda sehingga lebih baik disamarkan sebagai upaya ‘pelit’ penulis mengudar wacana? Ahh suka begitu.

Oh iya, sepertinya ada preposisi yang kurang. Dialog Sungu Lembu dan Raden Mandasia tadi tak menyebutkan soal urutan, ya? Begini saja. Berhubung preposisi ke- urutan hanya begitu-begitu saja kalimatnya, saya coba deskripsikan orang ini saja.

Namanya Mulyasuke. Anak ke-1 dan satu-satunya di keluarga. Dari SD biasa juara ke-1 dan disiriki teman sekelasnya. Soal cita-cita, dia ingin jadi hokage ke-13, menggulingkan pemerintahan Naroeto yang sudah 6 periode berturut-turut menang pemilu Konoha.

Nah, segitu saja preposisi sekali duduk hari ini. Cukup melelahkan rupanya. Selamat malam. Bye bye~ πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

16 thoughts on “Preposisi Sekali Duduk

Comments are closed.