Pahlawan : Sesimpel-simpelnya

Indonesia pusaka via pinterest

Dengan Cinta

Kita sepakat bahwa sesimpel-simpelnya pengertian pahlawan adalah seseorang yang berjasa besar bagi kelangsungan kehidupan banyak orang. Yang paling sering kita bicarakan adalah para pahlawan dalam konteks perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Pahlawan nasional. Salah satunya, sebut saja Bung Tomo, yang peristiwa pertempuran Surabaya-nya sekarang kita ingat sebagai hari Pahlawan.

Tapi, bicara soal pengorbanan tanpa pamrih alias kepahlawanan tentu konteksnya tak hanya menyangkut kemerdekaan dari penjajahan agresif layaknya masa silam. Pengorbanan seorang bapak untuk bekerja banting tulang demi mencukupi kebutuhan pangan anaknya layak disebut kepahlawanan. Ya. Segaris tipis dengan cinta. Karena itu juga barangkali kita kenal istilah cinta tanah air.

Bicara soal sosok pahlawan dalam hidup saya, tentu jawabannya beragam. Saya tidak hanya hidup dengan orangtua. Saya hidup dengan tetangga, teman, masyarakat dan peristiwa-peristiwa manusia yang bisa diambil hikmahnya. Pahlawan bisa siapa saja. Bagi kucing sekarat karena lapar, kita yang hanya melempari dia sepotong roti sisa pun bisa dijuluki pahlawan. Terkadang memang kepahlawanan terasa sangat personal.

Di zaman yang alhamdulillah masih adem ayem dan tak sedang punya musuh bersama seperti layaknya masa penjajahan dulu ini, kepahlawanan bisa berarti banyak hal. Jika dikaitkan dengan cinta, tindakan yang bisa kita lihat dari sosok pahlawan adalah usaha aktifnya memberikan yang terbaik untuk yang dikasihi.

bertumbuh via building dot com

Cinta tanah air. Di luar konteks pertahanan, ini romantis sekali. Dalam pikiran saya, adalah sosok pahlawan seseorang yang mampu bertirakat agung menyayangi tanah dan air (lingkungan alam) dengan menahan diri serta bersusah payah di zaman serba mudah dan instan ini. Seperti kata Cak Nun, setiap orang punya peran dan levelnya. Setiap orang bisa menjadi rahmatan lil alamin. Setiap kita bisa jadi pahlawan.

Biar Bukan Terbaik, Asal Tak Bajingan

Betul sekali. Terkadang kita selalu melihat terlalu lurus, terlalu ambisius, senantiasa mengejar dan ingin selalu mendapatkan sesuatu. Kita lupa bagaimana rehat sejenak dan menarik napas untuk mengambil hikmah dari kekecewaan. Kita kadang abai terhadap rasa syukur atas peristiwa-peristiwa remeh dalam hidup sehingga mudah menyalahkan.

Terkadang kita tak mampu jadi yang terbaik meski seribu usaha telah dilalui. Bahagia mengendur karena proses pencapaian ikut mundur. Terkadang kita butuh kekuasaan untuk bergerak dan mengarahkan langkah. Butuh kedudukan untuk mepertegas aturan. Tapi, jika satu milyar orang berkompetisi dalam hal demikian dan hanya segelintir pihak saja yang menjadi nomor pertama apa gunanya?

Saya kurang suka kompetisi. Mungkin ini persoalan subjektif saja, tapi bukankah dalam konteks massa kita lebih perlu kerjasama ketimbang kompetisi?

Kerjasama melahirkan saling pengertian dan bisa menjadi salah satu jalan menemukan cinta. Dari cinta, kepahlawanan bisa diikhtiarkan. Berbeda dengan kompetisi yang lebih sering menyisakan dendam dan keculasan. Ahh mungkin ini hanya sentimen orang susah saja. Sudahlah. Hidup di zaman yang kebahagiaannya makin terakomodasi oleh pencapaian memang sulit. Jika tak bersaing kita tergilas. Jika tak menunjukkan diri kita tenggelam. Menahan diri makin asing. Sama seperti pembangunan (fisik) yang jadi arus utama kedaulatan negara sekaligus gengsi negara. Semua dibangun tanpa tahu kapan mesti cukup atau berhenti.

Tapi, semenyebalkan apapun proses yang tak sesuai kehendak hati kita, asal jangan sampai bajingan saja sepertinya selesai. Maksudnya, selesai dalam arti tak perlu risau. Asal tak mengganggu orang lain, tak mengusik ketentraman, tak merusak tatanan alam juga berperilaku sesuai norma, tak melulu bersikap heroik membela kaum terzalimi minimal sudah bisa dibilang hidup. Apalagi bisa baik pada sesama meski hanya memberikan senyum pada orang yang suka gibah soal kita.

Pahlawan Pemula atau Manusia Pemula

mengasihi via medium dot com

Tapi, kalau kalian ingin jadi pahlawan, jadi dulu manusia. Biasakan yang dua. Fisik dan batin. Raga dan jiwa. Pikir dan rasa. Kekuatan itu perlu, kekuasaan juga dibutuhkan, termasuk kecerdasan sebagai ujung tombak. Tapi, juga dibarengi oleh kesantunan, kedalaman dan kelembutan. Soal nantinya perbuatanmu akan dikenang banyak orang sebab telah membantu mereka mengentaskan kesusahan hanya perkara momentum.

Jika saja Tuhan memberi skenario sulit dalam hidup, bisa jadi itu babak awal episode kepahlawananmu. Jangan terlalu sering sambat apalagi menuduh takdir penyebab kerumitan. Tantangan diciptakan sebagai musuh supaya kamu bekerjasama dengam dirimu, jiwa dan raga, untuk meraih kemerdekaan.

Iya. Sulit menerapkan hal-hal baik untuk diri sendiri. Memang. Enaknya bicara saja. Tapi, mudah-mudahan dengan bicara energi yang tersalurkan ke alam melalui kata-kata (dalam hal ini kata-kata baik) bisa berkumpul dengam energi kata-kata baik lainnya dan mempengaruhi mood orang saat mengambil keputusan jelek. 😁

Jadi, akhir kata, siapa pahlawan itu? Adalah kamu. Kamu punya bakat. Bakat kepahlawanan yang sama dengan jutaan para pahlawan di dunia ini. Temukan saja dirimu dan asah cinta pada sesama makhluk. Di dunia ini ada yang ramai dan yang sunyi. Keduanya milik takdir.

4 thoughts on “Pahlawan : Sesimpel-simpelnya

Comments are closed.