Dia

Hidupku adalah rumah, dan aku adalah pemiliknya, yang datang aku sambut, yang pergi aku persilahkan, sisanya adalah tamu yang tidak bisa kupaksa tinggal

Tidak hanya kebahagiaan yang harus dibagi, tapi duka, takut dan amarahpun perlu diungkapkan tapi pada telinga yang tepat

ada banyak hal yang tak bisa kuutarakan, maka kudiamkan saja, semua yang tersampaikan, hal-hal yang mungkin menyakitkan, perihal aku yang katanya rumit kutuliskan saja dalam sedihku

Kebahagiaan saya bukan hanya tentang sesuatu yang membuat saya bahagia, tapi juga ketika saya melihat wanita yang saya cintai bisa menghabiskan hidupnya dengan caranya sendiri

Hidup memang terus berjalan tapi kebersamaan itu tak pernah lekang,

Jika kebahagiaan itu adalah tempat, maka saparuh bumi ini akan kosong, karena setiap orang akan berbondong-bondong menuju tempat tersebut

Hanya waktulah yang akan mempersatukan kita, hanya kepada-Nya, kita memohon doa

3 thoughts on “Dia

Comments are closed.