Harinya Pahlawan

Klik gambar untuk melihat sumber

Menurut saya pahlawan itu orang yang sangat berjasa terhadap sesuatu. Dalam sejarah Indonesia banyak sekali pahlawan yang lahir untuk negeri. Ada Ir. Soekarno, bapak proklamator, bapak penyambung lidah rakyat, bapak Presiden RI. Ada Moh. Hatta, bapak koperasi, bapak Wakil Presiden RI. Ada Jenderal Soedirman, panglima RI, pemimpin perang gerilya.

Pahlawan bagi ibu saya adalah Tuhan Yang Maha Esa. Ibu saya selalu yakin dan percaya segala urusan akan diatur oleh Tuhan. Selagi kita berusaha Tuhan akan membantu.

Tak lupa, pahlawan tanpa tanda jasa, ya, itu guru. Walaupun anak-anaknya ada yang membangkang guru tetap akan memaafkan, anak-anaknya menyontek? Guru tetap akan memaafkan. Tetapi, guru juga ingin muridnya berubah dan menjadi orang sukses. Sukses bagiku bukan tentang materi, sukses bagiku adalah hidup bahagia. Apakah ada guru yang lisannya kurang baik? Ada. Aku kenal seorang guru matematika, lisannya seperti bukan guru. Namun, apa yang dia bilang?

“Segoblok-gobloknya guru, guru tidak akan pernah menjatuhkan muridnya.”

Dengan bahasa tubuhnya yang meyakinkan, aku percaya prinsip sebagai gurunya sangat kuat yaitu mendidik. Walaupun sebenarnya aku dan beliau berbeda sekolah, beliau hanya membantu di sekolahku. Tetapi, caranya berbicara mengesankan bahwa beliau percaya aku dan aku percaya beliau. Aku suka guru seperti ini. Bergaya nyentrik, berani mengambil risiko harga diri sebagai guru. Di sekolahku kini, kebanyakan guru menjaga batas (aku pikir itu untuk hal baik). Di sekolahku dulu kebanyakan guru melonggarkan batas dengan muridnya, walaupun begitu aku selalu menjaga kelakuanku karena kepercayaan mereka.

Di sekolahku kini juga ada guru yang lisannya kurang baik, namun seiring waktu berjalan aku melihat dengan caranya mengajar mengesankan beliau adalah guru yang tulus mengajar. Awalnya aku suudzon karena murid yang tampil di depan seperti dipermalukan, berdiri di depan kelas, dimarahi di depan kelas. Lalu, cara belajar berubah mengikuti materi pembelajaran. Beliaupun tak seperti dulu. Sayangnya, tahun ini adalah tahun terakhirnya di sekolahku dan pasti akan ada guru yang menggantikannya. Ah, sial, aku sedih ketika mengetahui beliau akan pensiun. Dia tak akan tergantikan, aku tak peduli apa yang orang katakan.

Salah satu yang aku pegang adalah jangan menilai orang secara permanen, aku yakin tiap orang bisa berubah. Bila seseorang sikapnya tetap kurang baik anggap saja itu kebiasaannya, agar pikiran kita bisa menerima bahwa kebiasaan itu–bisa diubah. Bukankah tiap orang punya akal untuk berpikir? Bukankah tiap orang punya hati untuk berperasaan?

Ada pula guru yang baik hati, dulu aku suka menyapanya. Beliau suka bertanya tentangku dan tentu aku menjawabnya.

Yang aku sayangkan, di sekolahku guru dan murid sangat minim komunikasi, seperti bila berpapasan tidak ada kontak mata, kalau aku sering sengaja menyapa guru yang menunduk ke bawah hahahah dengan gayaku menyapa dengan tangan diangkat setelah itu aku menyalami guru yang aku sapa. Kadang aku hanya menyapa, bila keadaan tak memungkinkan untuk menyalami guruku.

Aku suka guru yang terbuka. Aku suka guru yang selalu membimbing muridnya untuk belajar.

Ada pula guru di organisasi, guru di ekstrakurikuler, guruku yang sangat hebat, Ruanda Januar. Aku ingin bercerita, bahwa dulu saat aku di SMP, bila ada urusan yang menyangkut PMR, beliau selalu “Ya udah kita gini aja..,” “Oh, ya udah gapapa.” Dalam keseluruhan itu mengartikan –kita mengalah saja–, lebih baik mengikhlaskan sesuatu daripada timbul masalah baru dan hebatnya beliau selalu punya solusi lain. Sekarang? Di sekolahku aku dibuat kaget, ngotot, kalau kata orang sunda sih pang-aingna. Sekarang aku harus menyesuaikan, aku selalu mengalah, namun, ya, aku menyesuaikan. Ternyata, malah seenaknya. Bila itu hanya menyangkut aku, aku hanya melawan sedikit, untuk apa juga aku mengeras?

Kisah mengalah, kisah selalu berusaha untuk membantu adalah pembelajaran yang sangat berharga dari Kang Ruanda.

Guru-guru yang yakin akan perubahan pada muridnya adalah pahlawan, guru-guru yang siap lelah untuk muridnya adalah pahlawan. Orang-orang yang mendahului kita untuk kemerdekaan adalah pahlawan, orang-orang yang bertekad untuk memajukan bangsa adalah pahlawan.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

“Menaklukkan ribuan manusia mungkin tidak disebut pemenang, tapi bisa menaklukkan diri sendiri disebut penakluk yang brilian!”

“Jangan pernah melupakan sejarah. Ini akan membuat dan mengubah siapa diri kita.”

“Belajar tanpa berpikir tidak ada gunanya, tapi berpikir tanpa belajar sangat berbahaya!”

“Seribu orang tua hanya bisa bermimpi, tapi seorang pemuda mampu mengubah dunia!”

-Ir. Soekarno-

Maafkan aku bila kadang aku suka masih malas. Aku juga masih suka berkata kasar. Tetapi, percayalah aku akan selalu berusaha.

Aku berdo’a untuk para pahlawan negara, pahlawan tanpa tanda jasa.

Terima kasih.

Dariku, Raihan.

7 thoughts on “Harinya Pahlawan

  1. Membaca tulisan ini, aku jadi ingin jujur. Sebenarnya aku sama dengan Ibu Raihan yang mengganggap Tuhan adalah pahlawan satu²nya dalam hidupku. Tapi setelah kupikir lagi, rasanya tak etis kalau aku ungkapkan karena itu agak sensitif.

    Like

Comments are closed.