Semua Bisa Jadi Pahlawan

Beberapa waktu lalu Om saya menemukan sebuah dompet. Karena ia bingung bagaimana mencari pemiliknya, akhirnya beliau menyerahkannya kepada saya. Isi di dalam dompet tersebut ada STNK, kartu ATM sebanyak dua buah, kartu NPWP, kartu SIM A dan kartu SIM C. Hampir keseluruhan merupakan kartu-kartu yang penting dan bisa saja disalahgunakan oleh orang yang menemukannya. Ketika saya tanya kapan ditemukan dompet ini, Om saya mengatakan kalau dompet ini sudah beliau simpan selama hampir satu bulan. Karena beliau sendiri juga tidak punya keinginan lebih jauh untuk melacak siapa pemiliknya.

Saat saya melihat isi dompet ini, saya memperhatikan beberapa baru saja diperpanjang masa berlakunya. Saya mulai berpikir bagaimana kalau saya yang berada di posisi orang yang kehilangan tersebut. Pasti saya berharap orang yang menemukannya berusaha menghubungi saya dan mengembalikan dompet itu. Apalagi isinya adalah surat-surat yang bisa merugikan dan butuh waktu serta biaya lagi untuk mengurusnya.

Akhirnya saya coba mencari di sosial media seperti Instagram dan Facebook. Tapi hasilnya nihil. Lalu saya coba bantuan Google. Saya coba membuka beberapa laman hingga akhirnya saya menemukan nama yang sama yang berada di kartu dan juga foto yang mirip. Menurut hasil pencarian Google orang tersebut adalah seorang agen properti. Saya coba menghubungi nomor kontak yang tertera, tapi tidak aktif. Lalu saya lihat di bawah ada nomor atas nama Jonathan. Saya coba kirim pesan via WA ke orang tersebut. Bertanya apakah ia mengenali orang yang kehilangan dompet. Saya bersyukur ternyata ia kenal.

Setelah melalui uji kepemilikan kartu dengan cara mencocokan alamat dan tanggal lahir, akhirnya saya berhasil menemukan pemilik yang sebenarnya.

Lalu dengan cerita seperti ini apakah saya pantas disebut sebagai PAHLAWAN?

Tentu bukan.

Karena dalam hal ini saya tak mengorbankan apapun dengan nilai yang mahal. Walaupun saya harus meluangkan waktu dan sedikit usaha mencari siapa pemiliknya, juga mengeluarkan uang untuk ongkos kirim, saya masih tidak pantas disebut Pahlawan. Karena…. Ya karena saya tidak merasa “berkorban”. Lain hal kalau di saat itu saya sangat sibuk dan tak punya waktu mengurus hal yang bukan urusan saya. Atau saya tak punya uang, dan saya harus pinjam uang ke sana-sini dalam rangka mencari tahu dan mengembalikan dompet tersebut. Ya, saya bukan pahlawan.

Dalam kondisi kita kekurangan, atau berada di situasi yang berat dan kita rela berkorban untuk melakukan sesuatu yang benar, sesuatu yang seharusnya, maka kita pantas disebut PAHLAWAN. Pahlawan tidak harus berjuang dengan otot atau seperti prajurit tempur yang siap mati. Tidak harus. Ya, siapa saja bisa jadi pahlawan. Pahlawan sesungguhnya beraksi bukan karena imbalan. Materi atau apapun itu. Ia berkorban karena sesuatu yang bernilai, memang pantas untuk diperjuangkan.