Bukan Pahlawan 24 Karat

dad
pic: islamidia.com

Pusing. Ini yang aku rasakan saat ingin memulai tantangan menulis di komunitas Ikatan Kata bertema “Pahlawan”. Kenapa? Karena aku harus menemukan sosok pahlawan dengan definisi yang sudah lama terserap di otakku. Bahwa pahlawan adalah mereka yang gugur dalam pertempuran membela tanah air. Atau paling tidak adalah orang yang sudah berjuang untuk tanah air dan jasanya bisa dirasakan oleh banyak orang. Walaupun mereka tidak gugur di medan perang.

Sebagaimana ketika aku merujuk makna pahlawan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, aku mendapatinya definisi pahlawan seperti ini.

pahlawan-kbbi

Jadi, mengapa aku harus repot-repot mencari definisi sendiri? Bayangkan kalau setiap orang punya definisi masing-masing, maka setiap orang akan memiliki bahasa sendiri-sendiri. Lalu buat apa diciptakan kamus kalau pada akhirnya tidak menjadi kesepakatan bersama? Hehehe.

Maaf, tulisan ini bukan dimaksudkan untuk memprotes event menulis bertema Pahlawan. Jujur, aku menuliskan narasi di atas hanya untuk mengutarakan sekelumit pertanyaan yang terbersit di pikiranku tentang  mengapa aku harus membuat definisi sendiri tentang kata pahlawan? Tidak cukupkan uraian KBBI? Padahal sudah jelas, di KBBI Daring tertulis bahwa pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Atau pejuang yang gagah berani. Atau sosok itu menjadi sosok yang sudah dinisbatkan banyak orang dengan sebutan: hero.

Nah, berbekal definisi di atas, rasanya aku sulit sekali menemukan sosok sebagaimana disebut dalam kriteria KBBI tersebut. Mungkin banyak orang-orang di dekatku yang barangkali dalam hidupnya telah mencatatkan kebaikan-kebaikan bagi diriku. Atau bagi keluargaku. Tetapi orang-orang seperti itu banyak dan lumrah. Dan jika modelnya terlalu banyak dan umum, maka kriteria menonjol, berani sekaligus berkorban sulit kujumpai di dunia nyata atau di lingkungan terdekatku.

Lantas? Apakah aku akan terus melanjutkan tulisan ini dengan tanpa riset dan data empiris? Mengapa tak mengambil model seperti ibu, ayah atau rakyat kecil yang berjuang setiap hari membanting tulang di panas terik atau hujan lebat? Bisa saja seperti itu. Hanya aku merasakan, jika menulis hal seperti yang sudah banyak teman-teman tulis makna pahlawan yang merupakan sosok yang menonjol itu tertutupi oleh terlalu seringnya aku mendengar cerita-cerita yang sama.

Namun demikian, baiklah. Aku tetap akan menulis tentang definisi pahlawan sesuai yang aku tangkap dari definisi baku KBBI. Jadi pahlawan itu ya haruslah orang yang menonjol karena keberaniannya di luar ukuran keumuman. Dan ia sanggup mengorbankan apapun yang secara umum dipandang sangat berharga. Bahkan kalau perlu nyawa sebagai pertaruhan perjuangannya terhadap sesuatu yang disepakati masyarakat banyak sebagai sebuah jalan kebenaran. Repotnya, aku belum bisa menemukan model manusia seperti itu di zaman now. Karena hampir semua hal saat ini diukur dengan materi. Tidak semua sih. Tetapi aku belum menemukan sosok di dekatku atau di lingkunganku yang bisa menjadi role of model seorang pahlawan yang memenuhi standar definisi KBBI.

“Ah, kamu mungkin yang terlalu idealis. Kalau yang kamu harapkan kriteria KBBI kamu hanya akan menemukannya di dunia fiksi”, sekelebat pikiranku yang lain meresponnya seperti itu. May be. Mungkin ya, mungkin tidak. Karena jika “tidak” jawabannya, bukan berarti sudah tertutup peluang akan adanya sosok pahlawan yang sempurna atau ideal. 

Barangkali rasa skeptisku itu karena di zaman sekarang ini sering dipertontonkan perilaku-perilaku yang nampak baik ternyata tak bisa dilepaskan dari pamrih keduniaan. Seperti materi, popularitas dan kekuasaan. Ah, aku tak sanggup menguraikannya lebih detail lagi dengan contoh-contoh real. Aku juga tak ingin menumbuhkan prasangka buruk kepada banyak orang. Karena memang untuk menjadi pahlawan di zaman sekarang itu susah. Godaannya teramat banyak. Kalau zaman penjajahan Belanda dulu mungkin jalan menjadi pahlawan itu lebih sederhana. Cukup dengan keberanian mengangkat bambu runcing dan berlaga di medan pertempuran mengusir Belanda. Mati atau tidak kelak akan mendapat gelar pahlawan.

Ah, bagaimana bisa pahlawan dijadikan cita-cita? Bisik hati kecilku lagi. Bila niatnya ingin disebut pahlawan pun, itu juga bukan sebuah niat yang baik. Yang jelas, pahlawan itu tidak ada pamrih diri. Bukan pahlawan kalau tujuan hidupnya ingin disebut pahlawan. Karena sejatinya hidup pahlawan hanya dipersembahkan untuk meraih keridhoan Tuhan. Ada atau tidak ada penyebutan pahlawan mereka tetap maju dan berani memperjuangkan kepentingan lebih besar dari dirinya. Pahlawan tidak berharap diberi, tetapi lebih suka memberi, sekalipun memberi nyawa.

Sampai di sini rasanya aku perlu berdamai dengan definisi pahlawan. Jika diukur dengan kadar emas, aku tak perlu bersikeras menemukan emas berkadar 23 atau 24 karat. Aku harus belajar menerima perak atau perunggu sebagai barang yang tetap berharga. Paling tidak lebih berharga dari besi atau plastik. 

Baiknya kuceritakan sedikit saja tentang ayahku, seorang Polisi berpangkat Sersan Satu, kalau sekarang bernama Briptu ( Brigadir Polisi Satu). Ia pernah ditugaskan di pelabuhan Tanjung Priok di mana posisi yang didudukinya bisa dikatakan sebagai tempat yang basah. Ia bisa kaya raya jika mau sedikit bermain seperti banyak teman seangkatannya yang menikmati “kemakmuran” lebih dulu. Tetapi ayahku tetap saja hidup pas-pasan. Bahkan seringkali gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Terkadang terpaksa harus berhutang  untuk mengamankan dapur dan kebutuhan darurat lainnya.

Sampai ayah meninggal di tahun 2004, ia tetap menjadi polisi yang amat sangat sederhana. Dia tidak tergoda memanfaatkan posisi dan jabatannya. Dia tetap menjalani hidup apa adanya. Hidup dari gaji bulanan yang diberikan pemerintah. Begitu saja, dan ia selalu merasa cukup. Tak tertarik untuk hidup mewah dengan “sedikit usaha” yang bisa dia lakukan.

Dengan kehidupan semacam itu, aku pikir ayah adalah pahlawan. Karena orang seperti ayah akan nampak sangat aneh di zaman sekarang. Orang yang bisa menahan untuk tidak menjadi kaya di tengah-tengah orang yang bangga bisa memperkaya diri dengan sangat mudah. Orang yang lebih suka dan berani hidup pas-pasan bahkan sering berkekurangan. Ia berani menentang arus. Jika aku yang menjadi ayah, entahlah. Belum tentu aku sanggup melakukan hal yang sama.

Ah, ayah. Di balik banyak hal sebagai manusia yang tak kusukai pada dirimu, tetap ada hal yang bisa kujadikan teladan kepahlawanan. Kadar kepahlawananmu mungkin tak mencapai 24 karat. Teramat jauh dibanding para pahlawan yang gugur membela negeri ini dan tercatat dalam buku-buku sejarah. Tetapi sekecil apapun, caramu menyikapi harta benda dan dunia adalah sebuah kisah kepahlawanan yang masih bisa aku bingkai dalam definisi kamus KBBI. Paling tidak mendekati.

Ayah, kau tak sempurna karena memang kata sempurna itu tak mungkin terwujud di dunia ini. Tetapi doaku untukmu. Semoga  kemiskinanmu di dunia menjadi kemudahan pertanggungjawaban dan hisabmu di akherat kelak. Dan tentunya meringankan langkahmu menuju surga.

*

 

 

2 thoughts on “Bukan Pahlawan 24 Karat

Comments are closed.