Batman dan Spiderman

Sejak kecil ketika senang menonton kartun, anime, serial anak atau bacaan dari komik dan cerpen, disadari atau tidak, di dalam diri ini tertanam sebuah imajinasi. Imajinasi itu bahkan masih bersemayam di benak dan pikiran hingga saat ini. Apalagi sekarang dengan akses internet yang mudah, aku bisa menonton apapun yang aku mau. Sebab dari tontonan berakibat pada keinginan diri untuk memiliki kekuatan yang hebat seperti tokoh-tokoh jagoan itu. Bisa terbang, menembakkan laser, kebal peluru dan batu akik.

Usia semakin bertambah, pengetahuan pun demikian. Tokoh Batman dari Detective Comic (DC) dan Spiderman dari Marvel Comic menjadi superhero favoritku yang terbaru.

Semakin dewasa aku tahu bahwa misalnya dua tokoh itu ternyata hanya rekaan dan ciptaan manusia. Tidak seperti yang aku duga semasa kanak-kanak dulu yang berpikir bahwa semua itu nyata. Kukira hanya dengan melilitkan kain sarung ke leher dan memakai topeng Batman, aku bisa menjadi sekuat dan sekeren Batman.

Pernah sekali aku naik ke atas pagar beton dengan niat hendak loncat ke bawah. Dengan bekal dua pasang tali tambang dari kedua tangan, aku ingin bergelayun layaknya Spiderman. Belum sempat terjun aku sudah diberondong omelan dari Ibu yang berteriak kencang sambil mengacungkan sapu lidi. Ibu mengancam akan mengutukku menjadi gehu jika aku tak turun. Gehu adalah jenis gorengan dari tahu yang didalamnya ada toge. Ge Hu atau toge dan tahu. Di Jakarta disebutnya tahu isi.

Entah aku polos atau memang tolol, saat teman-temanku menangkap capung, mereka lantas memaksa hewan itu menempelkan kakinya lalu mengendus bau pusar bulat milikku. Mitos bahwa anak kecil tak akan mengompol sembarangan di kasur jika sudah dijamah capung. Mereka memikirkan hal remeh-temeh semacam itu sedangkan aku di saat yang bersamaan justru mengira aku akan berubah menjadi Capung Man. Waktu kecil aku tak tahu arti capung dalam bahasa Inggris.

Dalam benakku, aku akan memiliki kekuatan capung yang bisa terbang persis seperti kejadian Peter Parker yang tangannya digigit oleh laba-laba lalu ia pun memiliki kekuatan laba-laba. Ia bisa nemplok manja di dinding atau berayun di seantero kota.

Kalau dipikir-pikir seperti itu maka kenapa ada banyak lelaki yang tak pernah dikunyah oleh buaya muara tetapi malah memiliki kekuatan buaya? Betapa banyak lelaki yang disebut sebagai buaya darat berkeliaran mencari mangsa. Atau ada para perempuan perebut laki orang (pelakor) yang tak pernah digigit kera tetapi tingkahnya usil dan serakah ingin semua.

BATMAN n SPIDERMAN

Lalu apakah untuk menjadi seorang pahlawan super atau superhero itu mesti memiliki kekuatan seperti Batman atau Spiderman? Untuk menjawabnya, mari aku flashback beberapa tahun ke belakang saat Ayahku masih ada.

Dulu aku sempat bertanya kepada Ayah tentang bagaimana seseorang bisa menjadi seorang pahlawan. Pahlawan versiku adalah orang yang memiliki kekuatan luar biasa dan dia memakai topeng seperti Batman dan Spiderman. Tapi jawaban Ayah berbeda. Tentu saja.

Ia berkata, “Untuk menjadi seorang pahlawan, kamu tidak membutuhkan kekuatan laba-laba seperti Kang Peter atau kekayaan, kecerdikan dan bela diri ala Abah Bruce. Dalam kehidupan nyata, kekuatan mereka itu tidak seratus persen ada. Yang pertama dan utama yang harua kamu miliki untuk menjadi seorang pahlawan adalah keikhlasan. Kamu ikhlas membantu semua orang yang memerlukan pertolongan. Lakukan dari hal-hal kecil dulu. Dan tentunya untuk membantu orang, kamu membutuhkan skill atau kemampuan. Jika kamu memiliki keikhlasan hati dan kemampuan yang mumpuni maka jadilah kamu sebagai soerang pahlawan. Setidaknya lingkup paling kecil adalah pahlawan untuk keluargamu.”

“Misalnya apa?” tanyaku kepada Ayah.

“Badan Ayah pegal-pegal. Siapa ya yang mau berbaik hati mijitin Ayah?”

Aku mengacungkan tangan.

“Saya, saya, Yah!”

Aku beralih ke belakang Ayah. Punggungnya yang lebar sekarang menjadi lahan untuk memijit.

“Satu lagi. Karena modal utama menjadi seorang pahlawan adalah ikhlas maka kalau ada orang lain yang tidak menyebut kebaikan-kebaikanmu, jangan kamu pikirkan. Mau diberi apresiasi atau tidak, menolong orang lain adalah prioritas utama.”

Kalau ingat momen itu, kadang-kadang aku mendadak menjadi rindu. Bagiku sosok pahlawan itu adalah Ayah. Pengorbanan dan perjuangannya tak kenal waktu. Ia juga tak pernah mau dibilang sebagai orang yang paling berjasa untukku.

rindu ayah

Karena sekarang aku sedang rindu, aku persembahkan puisi ini untukmu, Ayah.

RINDU AYAH

Kalau kau tanya seberapa dalam rinduku padanya
Maka kujawab, rinduku sedalam Palung Mariana
Meski telah lama ia tiada
Aku masih bisa merasakan kehadirannya

Kalau kau tanya seberapa hampanya diriku tanpanya
Maka kujawab, tahun-tahun ini sungguh menyiksa
Meski telah lama ia tiada
Aku masih mendambakan wejangan dan arahannya

Kalau kau tanya seberapa sukses diriku sesuai harapan dan doanya
Maka kujawab, hingga hari ini aku belum bisa membanggakannya
Meski telah lama ia tiada
Diriku masih tidak berguna, jauh dari asa dan cita-cita

Kalau kau baik hati, aminkanlah doaku untuknya
Maka akan kumulai bermunajat kepada Allah Subhanahu Wata’ala
Meski ayahku telah tiada
Aku tetap mendoakan kebaikan baginya

Ya Allah, Yang Maha Kuasa
Ampunilah dosanya, hindarkanlah siksanya
Karuniakanlah nikmat kubur untuknya
Hingga seruling sangkakala ditiup pada masanya

Ya Allah, Yang Maha Perkasa
Kuatkanlah hati dan imanku hingga akhir dunia
Lancarkanlah mengucap kalimat tauhidnya
Agar aku bisa husnul khatimah saat dijemput paksa oleh Malaikat Pencabut Nyawa

Ya Allah, Yang Maha Esa
Pertemukanlah teman, guru dan keluarga
Satukanlah kami semua di Surga
Lindungilah kami dari siksa Neraka

Ayah, hari ini aku belum bisa menemuimu di alam baka
Aku masih berjuang keras hidup di dunia
Ayah, tenanglah engkau di sana
Doa dan cintaku satu untukmu, tak ada duanya

Ayah, tahukah kalau kau sudah punya cucu yang lucu mirip Papanya?
Dia juga punya watak keras dari neneknya
Dia juga punya sisi kelembutan dari ibunya
Dan semoga dia bisa penyabar seperti kakeknya

Allahummagfirlaka Warhamka Wa’afika Wa’fu Anka
Semoga Allah mengampunimu, menyayangimu, melindungimu, memaafkanmu

5 thoughts on “Batman dan Spiderman

  1. Super sekali, Kang Fahmi. Definisi tentang pahlawan memang tidak selalu orang yang hebat seperti dalam cerita fiksi ya. Karena di dunia nyata, hal-2 yang sempurna itu sangat jarang ( sedikit sekali ). Atau bahkan mungkin tak ada yang sempurna.

    Pahlawan di dunia nyata penuh dengan ketidaksempurnaan yang memerlukan kelapangan hati kita untuk menerima baik buruknya. Tetapi memang, kunci yang utama seorang pahlawan adalah keikhlasan. Setuju banget, Kang.

    Tulisan yang memberi sebuah definisi lain tentang arti pahlawan.
    Keren Kang, dan selamat atas terselasaikannya PR ini. 😀

    Like

      1. Bagaimana kalau istilah PR diganti, Kang Fahmi. Takutnya kata itu mengingatkan waktu sekolah dulu, di mana kita sering merasa horor kalau dapat PR matematika. hahaha

        Like

Comments are closed.