Terima Kasih, Mawar

sumber: weheartit

Sebut saja dia Mawar. Anak kedua dari lima bersaudara. Hidup dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah.

Ibunya berutang demi membeli makan. Peser demi peser dia pinjam biar perut anak-anaknya kenyang. Dilunasi setiap dapat uang pensiun, sebulan sekali. Itupun gali lubang tutup lubang―seakan tiada henti.

Menu sehari-harinya adalah telur dadar yang dilebarkan. Dibagi lima agar semua bisa makan. Sesekali mereka juga ditemani mi instan. Lauk ayam goreng? Itu adalah sebuah kemewahan. Saat hari raya pun belum tentu bisa mereka rasakan.

Semua ini bermula sejak sang ayah meninggal dunia. Saat itu Mawar masih sekolah dasar kelas dua. Selama bertahun-tahun itu pula mereka menjalani kehidupan yang stagnan. Keluarganya berusaha bertahan; walau dengan kemampuan ekonomi yang membuat hidup tidak nyaman.

Bohong kalau Mawar tidak merasa resah. Mawar yang telah lulus SMA itu pun gundah. Dia tidak ingin melihat ibunya menderita. Dia ingin keluarganya merasakan bahagia.

Maka, lepas SMA, Mawar menemui titik baliknya. Keputusannya bulat, dia ikut merantau bersama pamannya. Meninggalkan Pati―tempat tinggalnya―menuju Kota Khatulistiwa. Di sana, Mawar banting tulang demi keluarga. Memeras keringat demi membalikkan nasibnya.

Gaji setiap bulan dia sisihkan untuk dikirim kepada sang ibunda. Sedikit demi sedikit, demi melunasi utang-utang keluarganya pula. Pun demi sang ibu agar merasakan hari tua yang lebih bahagia.

Kini, berkat perjuangannya dan kasih sayang-Nya, hidup Mawar sudah lebih mapan. Telah dia tuai jawaban dari harapan yang dia panjatkan. Mawar telah berjuang. Dia membuktikan keberanian dan keperkasaan seorang perempuan.

Walaupun begitu, pengorbanan Mawar tidak berhenti sampai di sini. Dia masih menjadi tumpuan bagi kakak dan adik-adik serta anak-anak mereka hingga kini. Itulah Mawar; bagiku mungkin hanya sebatas sosok yang menginspirasi, tapi bagi keluarganya, dia adalah pahlawan yang selalu di hati.

Mungkin cerita hidupmu hanya secuil kisah perjuangan yang ada di bumi. Walaupun begitu, kuharap bersama cerita ini akan ada banyak orang yang termotivasi.

Terima kasih sudah mau berjuang, Mawar.

Terima kasih, Ibu.

4 thoughts on “Terima Kasih, Mawar

Comments are closed.