Benarkah Sehat Itu Mahal?

Pernah tidak perhatikan bahwa kemudahan mengakses segala hal melalui smart phone mempengaruhi gaya hidup seseorang?

Sederhananya seperti saat kita merasa lapar. Rasa lapar akan memberi respon ke tubuh kita untuk berjalan mencari atau membeli makanan.  Dahulu sebelum era digital memunculkan banyak aplikasi yang menyediakan fiture pesan antar, orang-orang akan senantiasa berjalan keluar membeli makanan. Atau setidaknya ia akan memasak sesuatu untuk dimakan. Namun, sekarang ini beberapa dari kita seringkali dimanjakan oleh kemudahan memesan makanan tanpa ribet harus keluar rumah.

Secara sekilas, kemudahan yang diberikan oleh aplikasi ini memang banyak memberikan sisi positif. Tapi, hal ini hanya berlaku kalau kita bijak dalam menggunakannya. Promo seperti potongan harga atau cash back misalnya. Seringkali promo yang diberikan membuat kita tergiur dan kecanduan untuk memesan lagi dan lagi, bahkan dalam jumlah yang melebihi porsi makan kita yang seharusnya. Budaya memesan makanan secara mudah dan cepat ini membuat kita secara tidak sadar menomor duakan pentingnya kesehatan tubuh.

timthumb

Aplikasi yang seharusnya menjadi alat untuk mempermudah hidup kita, justru malah mengendalikan dan menggeser kebiasaan kita yang baik. Kita yang tidak bijak ini akan semakin malas berjalan ke luar rumah sehingga tubuh juga akan mejadi kurang gerak. Belum lagi promo dengan minimal pembelian akhirnya membuat kita membelanjakan uang untuk membeli lebih banyak lagi makanan. Selain kedua hal tersebut, kita pun sering kali tak menyadari bahwa sampah plastik dan juga kotak / kardus  bekas makanan cepat saji yang kita pesan pun akan semakin tak terkendali.

Kalau sudah begini masihkan kita menganggap SEHAT ITU MAHAL?

Kita lebih memilih duduk manis menunggu makanan datang daripada bersusah payah berjalan keluar rumah. Kita lebih rela mengeluarkan uang lebih dibandingkan harus mengeluarkan keringat. Kita lebih memilih meminum air yang berwarna dan manis, dengan harga mahal dibanding meminum air putih. Kita yang membiarkan organ-organ di tubuh kita menyaring makanan lebih berat, menimbun gula-gula dalam darah lebih banyak,  membiarkan kolesterol dan lemak-lemak jahat menumpuk, lalu kita malas membakarnya dan membiarkan semua itu menjadi investasi berbagai penyakit dalam jangka waktu yang lama, kemudian kita juga lah yang membayarnya di kemudian hari.

Jadi, benarkah sehat itu mahal?

 

7 thoughts on “Benarkah Sehat Itu Mahal?

  1. Kalau sudah sakit, sehat itu menjadi barang mahal. Sehat itu murah kalau kita mau menjalani gaya hidup sehat. Salah satu gaya hidup sehat adalah memasukkan makanan dan minuman ke dalam tubuh kita secara proporsional dan mengurangi konsumsi gula yang berlebihan serta makanan olahan dengan zat-2 kimia tambahan. Di samping itu, olahraga dan istirahat yang cukup.

    Nice article, Fiska.

    Like

  2. Yang mahal itu gaya hidupnya

    “Pernah tidak perhatikan bahwa kemudahan mengakses segala hal melalui smart phone mempengaruhi gaya hidup seseorang?”

    Dalam kalimat ini sepertinya kurang subek yaitu kata KAMU. Saranku sih harusnya, “Pernah tidak kamu perhatikan bahwa…” atau “Pernahkah kamu memperhatikan bahwa
    ..”

    Like

Comments are closed.