Membaca Tulisan-tulisanmu

once-upon-a-time-719174_960_720
pic: pixabay.com

Ingin ku berlama-lama di sini. Membaca tulisan-tulisanmu yang mengharu biru. Sepanjang aku bisa. Namun, hidup adalah siklus yang tersusun dari cerita-cerita. Yang seringkali menuntut ditunaikan segera.

Ingin ku terus bermain di sini. Mencumbui kata, merangkai kalimat. Bermain dalam ragam aksara dan kosa kata. Yang terangkai membentuk makna dan keindahan kata, agar dunia kita nikmati dengan rasa yang berbeda.

Kita adalah manusia. Kumpulan dari keinginan-keinginan yang terbungkus waktu. Walau demikian, segala keterbatasan akan menjadi sebuah mozaik dalam sejarah hidup kita. Andaikan kita mampu meramunya dengan cinta.

Inginnya kita selalu bersama. Di sini. Membaca tulisan-tulisanmu. Mengamati aksara, kata dan kalimat-kalimatmu. Tetapi cukuplah kita bersua di saat-saat yang tepat. Ketika beban hidup usai ditaklukkan. Ketika matahari mulai bersembunyi di ujung senja. Itulah saat para penulis mengendapkan cerita dan memaknai perjalanannya.

Rasa dan pikiran telah pertemukan kita di sini.  Dalam satu cita mencipta warna-warni pelangi. Karena itu usah takut bermimpi. Meski esok kan tiba fajar pagi. Mimpi agar darah kita terus mengalir, memperlambat tubuh yang kian menua.

Kawan, inginnya aku menemani tulisan-tulisanmu. Di sini. Namun apalah daya, waktu seringkali terlalu singkat. Untuk sebuah kesempurnaan. Tetapi Tuhan sangat tahu tentang ketidaksempurnaan manusia. Sebab justru di sana letak kesempurnaan itu.

Ingin aku terus membaca tulisan-tulisanmu. Dengan cara yang tidak sempurna. Meski tak sempurna, kuharap kita tetap saling mengunggah senyum. Walau sesungging tak mengapa. Sesungging senyum di antara rasa letih dan remah-remah waktu kita. Yang tersisa.

*

 

 

 

6 thoughts on “Membaca Tulisan-tulisanmu

Comments are closed.